PERTANIAN Cegah Hama Tikus, Distan Ende Gelar Gerdal Serentak di Desa Mautenda 11 Feb 2026 22:35
Kadis Gadir mengatakan bahwa kecamatan Wewaria dengan luas lahan fungsional seluas 1526 hektare merupakan lumbung pangan untuk kabupaten Ende.
ENDE, IndonesiaSatu.co-- Hama tikus menyerang tanaman padi di wilayah kakecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Tingkat serangan yang paling tinggi melanda hamparan sawah di desa Mautenda, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, yang dapat mengakibatkan gagal tanam dan gagal panen sehingga berdampak pada stabilitas ketahanan pangan di Kabuapten Ende, NTT.
Menanggapi resiko tersebut, pemerintah Kabupaten Ende melalui Dinas Pertanian, pada Rabu (11/2/2026) melakukan Gerakan Pengendalian Serentak (GERDAL) pada areal sawah seluas 434 hektare (ha).
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Pertanian Ende, Gadir Ibrahim Dean, SP.
Gadir menjelaskan, kegiatan Gerdal tersebut dilaksanakan untuk menekan perkembangbiakan hama tikus dan meminimalisir kerusakan tanaman.
Kegiatan tersebut melibatkan 14 PPL yang ada di BPP Welamosa, 12 POPT Dinas Pertanian, Penyuluh Pertanian Kabupaten dan team teknis bidang Sarana dan Prasarana Pertanian pada dinas pertanian Ende, para petani yang ada di desa Mautenda, para tokoh adat Aegana, pemerintah desa Mautenda, Camat Wewaria, serta Pastor Kuasi Anaranda.
Wewaria sebagai Lumbung Pangan Ende
Dalam arahannya, Kadis Gadir mengatakan bahwa kecamatan Wewaria dengan luas lahan fungsional seluas 1526 hektare merupakan lumbung pangan untuk kabupaten Ende, dan Mautenda dengan luas lahan sawah seluas 457 hektare adalah salah satu desa dengan luas sawah terbesar.
"Luas lahan ini harus bisa berproduksi secara optimal, dan jika desa ini terancam gagal panen, maka ketersediaan pangan di kabupaten ini juga pasti akan terkoreksi, sehingga kita harus mengerahkan seluruh kekuatan untuk mencegah terjadi gagal tanam dan gagal panen," kata Kadis Gadir.
Kadis menambahkan, upaya pengendalian harus dilakukan secara serentak di seluruh hamparan.
Menurutnya, jika pengendalian hanya dilakukan pada satu atau dua titik saja, maka hama tikus akan berpindah ke petak lain.
Kadis Gadir tak lupa menyampaikan terima kasih kepada Kementrian Pertanian RI yang telah mengalokasikan Rodentisida sejak awal tahun 2026, sehingga pada saat terjadi serangan, penanganan bisa dilakukan secara cepat.
Adapun pelaksanaan Gerdal diawali dengan seremonial adat yang dipimpin langsung oleh tokoh adat Aegana, dilanjutkan dengan tindakan pengendalian oleh 5 tim teknis yang menyebar di 5 hamparan yang ada.
Di setiap titik kumpul, tampak para petani sangat antusias bersama tim teknis saat melakukan pengendalian.
Dijelaskan bahwa pelaksaaan Gerdal kali ini menggunakan Rodentisida Klerat, di mana upaya ini digunakan sebagai upaya terakhir setelah memperhatikan upaya yang dilakukan sebelumnya dan tingkat kerusakan yang terjadi.
Kondisi sebelumnya yakni hama tikus mulai menyerang sejak pembibitan padi yang membuat petani harus melakukan persemaian berulang kali karena selalu dimakan oleh hama tikus.
Ledakan Hama Tikus
Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Welamosa, Felix Meko, SST, menerangkan bahwa sejak musim tanam 2025, sudah terjadi serangan hama tikus, namun tingkat kerusakan masih di bawah ambang ekonomi.
Sementara upaya yang sudah dilakukan yakni dengan melakukan pengendalian pada areal yang terkena dampak dengan tingkat serangan masih dalam skala kecil, sehingga petani masih bisa melakukan panen.
"Namun sejak awal tahun 2026, terjadi ledakan hama tikus yang sangat meresahkan petani, dan kita sudah membantu dengan membagikan Rodentisida kepada petani. Namun mengingat skala serangan yang sangat meluas dan menimpa seluruh hamparan, maka upaya untuk menekan resiko gagal tanam yakni gerakan pengendalian serentak yang terjadi hari ini," kata Felix.
Felix mengaku, beberapa waktu sebelumnya, pihaknya berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pertanian Ende untuk melaksanakan kegiatan Gerdal tersebut.
Ia menambahkan, koordinasi serupa dilakukan dengan pemerintah setempat, lembaga adat, bahkan pihak Gereja, untuk bersama-sama menggerakkan petani agar dapat melaksanakan kegiatan tersebut.
"Untuk desa-desa lain yang juga terkena dampak, kami akan melaksanakan pengendalian serupa pada areal yang terserang hama sehingga dapat meminimalisir resiko kerusakan," imbuhnya.
Sementara itu, Pastor Kuasi Anaranda, RD. Hendra, di sela-sela kegiatan menyampaikan bahwa para petani sudah kewalahan mengatasi serangan hama tikus, dan sempat meredupkan harapan para petani.
Romo Hendra mengatakan, dirinya sempat mendengar keluhan umatnya bahwa dengan kondisi tersebut mereka akan merantau untuk mencari kehidupan lebih baik.
"Namun dengan kegiatan Gerdal hari ini, pemerintah hadir pada saat yang tepat dan membangkitkan kembali harapan petani yang telah sirna," ungkap Romo Hendra sambil menambahkan bahwa kehadiran petani dalam kegiatan Gerdal tersebut juga berkat informasi yang disampaikan lewat mimbar pada perayaan hari Minggu di Kapela St. Simon Petrus Anaranda.
Romo Hendra berharap, jika serangan hama kembali terjadi, pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian bisa segera menanggapi.
"Harapan ini tentu menjadi harapan semua petani di Mautenda," ungkap Romo Hendra yang langsung dinyatakan siap oleh Kadis Pertanian Ende, Katimker Penyuluhan Ende, serta Kabid PSP.
--- Guche Montero
Komentar