Breaking News

REFLEKSI Cinta Tak Cukup, Ekonomi Harus Kuat, Anak Muda! 23 Sep 2026 07:58

Article image
Valens Daki-Soo. (Foto: Dok. Ist)
Ketika kebutuhan dasar seperti pangan/makanan, sandang/pakaian, papan/rumah, dan pendidikan anak tidak terpenuhi karena lemahnya ekonomi, cinta yang awalnya menggebu bisa berubah menjadi frustrasi tanpa akhir.

Oleh: Valens Daki-Soo*

 

Di media sosial kita sering melihat anak muda merayakan cinta. Lamaran romantis, pesta pernikahan mewah, 'caption' serba indah tentang "kisah kasih abadi selamanya". Semua itu manis dan tentu saja romantis.

Namun, setelah pesta perkawinan usai, setelah musik berhenti, yang tersisa adalah pertanyaan paling jujur ini: siapa yang akan membayar beras, listrik, kontrakan rumah, dan susu anak?

Di sinilah banyak kisah cinta yang puitis harus berhadapan dengan realitas yang keras dan tidak selalu romantis.

Realitas yang Tidak Bisa Diabaikan

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada sekitar 43 juta orang berusia 20 hingga 29 tahun di Indonesia. Pada Februari, sekitar 3,5 juta dari mereka menganggur. Bahkan yang bekerja pun, gaji rata-rata usia 20-24 tahun hanya sekitar Rp 2,2 juta, hanya sedikit di atas pengeluaran bulanan per kapita di Jakarta. 

Lebih mengkuatirkan lagi, angka 20,31% youth NEET atau anak muda yang tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mengikuti pelatihan menjadi alarm serius bagi Indonesia. Bonus demografi yang kita banggakan bisa berubah menjadi beban demografi jika generasi mudanya tidak mandiri secara ekonomi. 

Anda tidak bisa terus menggantungkan hidup pada orang tua. Tidak selamanya bahu ayah dan ibu kuat untuk jadi tempat sandaran Anda.

Berhenti Berharap, Mulai Berkreasi

Sekretaris Jenderal Asosiasi UMKM Indonesia, Eddy Misero, mengingatkan dengan tegas, "Berhenti berharap terhadap orang lain, tokoh muda harus berkreasi atau menciptakan apa yang tidak ada atau yang sudah ada untuk bisa ditingkatkan". 

Pesan ini terdengar keras tapi benar. Kemandirian finansial bukan sekadar soal gengsi, ini soal harga diri. Seperti yang saya tulis sebelumnya, bekerja keras agar tidak bergantung pada orang tua adalah salah satu ciri kedewasaan karakter dan kematangan pribadi.

Pemerintah Kota Malang dalam sebuah seminar nasional juga menegaskan bahwa kemandirian finansial harus dibangun sejak usia muda sebagai modal utama untuk melahirkan sumber daya manusia yang berdaya saing, kreatif, dan tangguh menghadapi persaingan global. 

Artinya, kemandirian itu bukan menunggu mapan baru belajar, tapi belajar mandiri agar menjadi mapan.

Cinta Butuh Fondasi Ekonomi

Banyak anak muda buru-buru menikah karena cinta, tapi lupa menyiapkan fondasinya.

Kita sering mendengar kisah cinta yang suram akibat "kecelakaan" relasional. Hamil tak terencana dan merubuhkan impian.

Pengamat sosial Purnomo Wardoyo mengingatkan, “Menikah bukan sekadar soal cinta, tetapi juga kesiapan hidup. Pendidikan, pekerjaan, dan kemampuan mengelola keuangan akan membuat perempuan lebih percaya diri dalam membangun keluarga. Kemandirian bukan untuk melawan suami, melainkan agar rumah tangga lebih kuat ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan."

Fakta di lapangan membenarkan hal ini. Di Indonesia sendiri, masalah ekonomi atau keuangan menjadi salah satu penyebab perceraian. Penelitian oleh Puspitawati dkk juga menyebutkan kesulitan finansial sering kali menjadi pemicu utama konflik dalam rumah tangga. 

Ketika kebutuhan dasar seperti pangan/makanan, sandang/pakaian, papan/rumah, dan pendidikan anak tidak terpenuhi, cinta yang awalnya menggebu bisa berubah menjadi frustrasi tanpa akhir.

Anda menikah bukan hanya untuk hidup bersama hari ini, tapi untuk bertahan melewati 20, 30, 50 tahun ke depan. Tanpa kekuatan ekonomi, rumah tangga seperti rumah yang dibangun di atas pasir.

Uang Bukan Segalanya, Tapi Hampir Segalanya Butuh Uang

Saya selalu percaya, uang bukan segalanya. Integritas, kasih sayang, iman, dan kesetiaan jauh lebih mahal dari uang.

Namun, mari jujur juga untuk terima kenyataan bahwa hampir segala hal butuh uang. Untuk berobat, butuh uang. Untuk menyekolahkan anak, butuh uang. Untuk membantu sesama pun, butuh uang. 

Bahkan para pastor yang berkotbah bahwa uang bukan hal utama dalam hidup, juga mengirim proposal ke mana-mana untuk menghimpun dana guna membangun gereja.

Pakar ekonomi Universitas Airlangga, Noven, mengingatkan bahwa manajemen finansial yang tepat dapat memutus tali generasi sandwich untuk generasi selanjutnya. Ia menekankan dua faktor penting, yakni perencanaan dan pengalokasian keuangan yang matang sejak usia produktif. 

Jangan menabung dari sisa, tapi sisihkan dari awal untuk tabungan. Itulah disiplin yang membedakan anak muda yang akan merdeka secara finansial dengan yang akan terus terjebak.

Refleksi untuk Kaum Muda

Anak muda,

Jika hari ini Anda masih menengadahkan tangan pada orang tua untuk kuota internet, untuk nongkrong, untuk bensin motor, maka belum ada yang bisa Anda banggakan dari kemandirianmu.

Bangunlah ekonomimu. Belajarlah satu keterampilan yang bisa menghasilkan uang. Mulailah usaha kecil, jadi freelancer, jadi petani milenial, jadi kreator konten (content creator) yang punya nilai -- apapun itu, yang penting halal dan menghasilkan uang.

Jangan malu memulai dari/dengan langkah kecil. Malulah jika selamanya bergantung kepada orang tua atau orang lain siapapun.

Betapapun, cinta saja tidak cukup untuk membangun rumah tangga. Cinta perlu ditopang oleh tanggung jawab. Dan tanggung jawab itu, salah satu wujud nyatanya adalah kemandirian ekonomi.

Mumpung masih muda, mulailah menanam (memulai usaha). Agar kelak ketika musim panen tiba, Anda bisa memetik buahnya dengan kepala tegak, bukan dengan tangan menengadah meminta bantuan orang lain terus-menerus.

 

*) Penulis adalah entrepreneur; Pendiri & CEO VDS Group (PT Veritas Dharma Satya, PT Veritas Media Bangsa, Firma Hukum "Veritas Dignitas Salus")

Komentar