Breaking News

PERTAHANAN Jenderal Andika Perkasa: Karir Moncer, Punya Tiga Gelar Master dari Amerika 03 Nov 2021 13:32

Article image
Jenderal TNI Andika Perkasa. (Gatra)
Andika akan menggantikan Marsekal Hadi yang akan memasuki masa pensiun pada bulan November 2021.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co – Jenderal TNI Andika Perkasa sudah cukup pasti segera menggantikan posisi Marsekal Hadi Tjahjanto menjadi Panglima TNI berikutnya.

Kepastian ini tampak jelas dari surat presiden (surpres) yang dikirim Presiden Joko Widodo atau Jokowi kepada pimpinan DPR RI pada hari ini, Rabu (3/11/2021), mengenai pergantian calon Panglima TNI.

"Jenderal TNI Andika Perkasa," kata Ketua DPR RI Puan Maharani saat jumpa pers di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/11/2021).

Sebagaimana lazimnya, pergantian panglima TNI harus dilakukan melalui mekanisme di DPR. Meskipun presiden hanya mengirim satu nama, namun fit and proper test akan tetap dilakukan.

Andika akan menggantikan Marsekal Hadi yang akan memasuki masa pensiun pada bulan November 2021. 

"Presiden hanya mengusulkan nama satu calon Panglima ke DPR RI untuk mendapatkan persetujuannya," tandas Puan. 

Selama ini ada  dua nama yang sempat santer disebut untuk menggantikan Marsekal Hadi, yakni Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Andika Perkasa dan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Yudo Margono.

Menurut rencana surpres terkait calon Panglima TNI rencananya diserahkan ke DPR hari ini oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno dan diterima oleh Ketua DPR RI Puan Maharani.

Andika Perkasa lulus dari Akademi Militer dengan pangkat letnan dua pada 1987. Karier pria kelahiran 21 Desember 1964 ini pun terbilang moncer.

Andika memulai karier dengan bergabung bersama 134 personel Komando Pasukan Khusus untuk mengikuti seleksi proyek Charlie pada medio 1988.

Charlie merupakan sandi untuk proyek intelijen teknik pada Detasemen 81 Antiteror Kopassus yang digagas Luhut Binsar Pandjaitan, kini Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi.

Andika sebagaimana ditulis Tempo.co (3/11/2021), pernah bertugas di Timor Timur dan Aceh, dua daerah yang masuk kategori rawan pada masa Orde Baru.

Setelah Reformasi, dia disebut ditugasi Badan Intelijen Negara untuk memantau jaringan Al-Qaidah di Indonesia.

Andika naik menjadi jenderal bintang satu saat menjabat Kepala Dinas Penerangan TNI AD pada 2013. Saat Jokowi menjadi Presiden pada 2014, Andika naik pangkat menjadi Komandan Pasukan Pengamanan Presiden.

Pertengahan 2016, dia menjadi Panglima Daerah Militer Tanjungpura. Lalu pada awal 2018, Andika kembali naik pangkat dengan menjabat Komandan Komando Pembina Doktrin, Pendidikan, dan Latihan Angkatan Darat.

Jabatan itu hanya dipegangnya selama sekitar enam bulan. Pada Juli 2018, Andika menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat. Empat bulan menjadi Pangkostrad, dia dilantik menjadi Kepala Staf Angkatan Darat pada November 2018.

Andika seperti dilansir detik.com, juga diketahui banyak menghabiskan waktu untuk studi di luar negeri di awal kariernya. Ia memiliki tiga gelar master dari universitas di Amerika Serikat.

--- Simon Leya

Komentar