BERITA Komite II DPD RI Dorong Hilirisasi Perikanan dan KEK di Papua Barat Daya 30 Sep 2026 17:43
"Masih banyak investasi di bidang kelautan yang terbengkalai. Ini perlu pengawalan ketat dari DPD RI,” pungkas AWK.
SORONG, IndonesiaSatu.co-- Komite II DPD RI mendorong hilirisasi komoditas strategis di Papua Barat Daya (PBD) yang hingga kini dinilai masih menghadapi sejumlah persoalan.
Hal itu mencuat dalam kunjungan kerja komite II DPD RI dalam rangka koordinasi mitra strategis dan pendalaman informasi terkait hilirisasi komoditas di Provinsi PBD.
Salah satunya, fasilitas milik BUMN Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo) disebut telah lebih dari tiga tahun tidak beroperasi.
Dalam kunker tersebut, tombongan komite II DPD RI dipimpin Wakil Ketua I Angelius Wake Kako (AWK), Wakil Ketua III La Ode Umar Bonte, Agustinus R. Kambuaya yang merupakan anggota DPD RI Dapil PBD, serta sejumlah Senator.
Para Senator ini menggelar pertemuan bersama sejumlah pimpinan OPD lingkup pemerintah Provinsi PBD di ruang rapat utama kantor sementara Setda PBD, Senin (28/9/2026).
Optimalkan Potensi Perikanan dan KEK
Wakil Ketua I Komite II DPD RI, Angelius Wake Kako (AWK) mengatakan, Potensi perikanan di PBD sangat besar dan harus dimaksimalkan dengan dukungan infrastruktur, seperti cold storage dan fasilitas pengolahan lainnya.
Menurut AWK, fasilitas yang telah dibangun dengan investasi negara semestinya dapat dioptimalkan untuk mendukung hilirisasi dan meningkatkan nilai tambah komoditas perikanan di daerah.
"Karena itu, DPD RI akan mendorong pemanggilan Direktur Utama Perum Perindo untuk membahas langkah konkret mengaktifkan kembali fasilitas tersebut," kata AWK.
“Sangat disayangkan kalau tidak bisa diaktifkan, ketika berjalan kontribusinya besar tetapi ketika berhenti, untuk revitalisasi saja tidak bisa,” lanjut AWK.
Selain fasilitas perikanan, DPD RI juga menyoroti belum maksimalnya pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sorong.
Kawasan tersebut dinilai memiliki posisi strategis untuk menarik investasi dan menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi Papua Barat Daya.
Dorongan investasi dinilai semakin penting di tengah menurunnya Transfer ke Daerah (TKD) yang berpotensi membatasi ruang belanja pemerintah.
Karena itu, investasi swasta perlu didorong untuk membuka lapangan kerja sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi baru.
Senator AWK menyebut KEK Sorong merupakan bagian dari upaya membangun Indonesia secara lebih merata dengan mendorong pusat pertumbuhan ekonomi di luar Pulau Jawa.
Namun demikian, pemerintah pusat dan pemerintah daerah dinilai masih perlu memperkuat promosi serta memberikan kepastian dan berbagai kemudahan bagi investor.
“Bagaimana investor merasa tertarik untuk berinvestasi? Itu yang harus didorong. Kementerian investasi perlu memperkuat, begitu juga pemerintah daerah,” ujarnya.
Ia menambahkan, PBD memiliki potensi sumber daya manusia dan tata kelola birokrasi yang cukup baik.
Tantangannya kini adalah memastikan keseriusan pemerintah pusat dalam mempercepat pembangunan, terutama melalui investasi dan hilirisasi sektor kelautan.
“Masih banyak investasi di bidang kelautan yang terbengkalai. Ini perlu pengawalan ketat dari DPD RI,” pungkas AWK.
--- Guche Montero
Komentar