Breaking News

PENDIDIKAN Kritik Rektor Universitas Paramadina Terkait Rencana Kemendiktisaintek Tutup Program Studi yang Kurang Relevan 26 Apr 2026 20:58

Article image
Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J Rachbini, Ph.D. (Foto: Ist)
Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J Rachbini, Ph.D. mengatakan, rencana tersebut bersifat rencana jangka pendek.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi berencana menutup berbagai program studi yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan industri pertumbuhan ekonomi di masa depan.

Rencana ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek Badri Munir Sukoco dalam Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026 di Kabupaten Badung, Bali, pada Kamis (23/4/2026).

Badri mengatakan rencana ini akan dieksekusi dalam waktu dekat. Kerena itu, dia meminta perguruan tinggi agar bersedia untuk menyeleksi prodi apa saja yang perlu ditutup.

“Nanti mungkin ada beberapa yang harus kami eksekusi dalam waktu tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi, perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi,” kata Badri Munir Sukoco, seperti dipantau dari siaran ulang Youtube Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J Rachbini, Ph.D. mengatakan, rencana tersebut bersifat rencana jangka pendek.

Menurutnya, rencana ini mencerminkan visi jangka pendek kementerian mengikuti kehendak pasar dan industri.  ”Tidak salah karena industri memang memerlukan tenaga kerja yang trampil dengan keahlian teknis tertentu, tetapi cenderung meredusir makna pendidikan dalam arti sebenarnya,” ujarnya melalui pernyataan pers di Jakarta, Minggu (26/4/2026).

Pendidikan, kata Didik, bukan sekadar menempa manusia memiliki ketrampilan, tetapi merupakan proses holistik dan mendalam untuk mencapai “menjadi manusia” seutuhnya.

”Pendidikan adalah upaya ’menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada diri manusia’ agar dia mencapai martabat, keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Artinya, pendidikan bukan sekadar mengisi ilmu di kepala dan ketrampilan fisik tetapi membentuk manusia seutuhnya,” katanya.

Prof Didik mengatakan, seorang manusia menjadi manusia seutuhnya melalui proses berpikir, merasakan, memilih nilai dan menjadi manusia yang bertanggung jawab. Pendidikan adalah ruang dan proses pembentukan.

Di sisi lain, pendikan tinggi khususnya  memiliki peran yang tidak tergantikan - berbeda dengan institusi lain - yang bisa sepenuhnya mengikuti logika pasar dan industri.

Menurutnya, logika dan nuansa rencana penutupan studi tersebut karena tidak laku di pasar atau kurang peminatnya. Perguruan tinggi harus menjaga ruang bagi ilmu-ilmu yang mungkin belum memiliki “nilai ekonomi langsung”, tetapi memiliki nilai peradaban jangka panjang.

”Jika pendidikan tinggi direduksi hanya menjadi penyedia keterampilan industri, maka kita sedang mempersempit makna pendidikan itu sendiri. Kita berisiko membentuk generasi yang terampil, tetapi tidak reflektif dan mungkin tuna nilai,  adaptif tetapi tidak visioner, produktif, tetapi tidak kreatif dalam arti yang paling mendasar,” lanjutnya.

 

Dosen yang Suka ”Ngamen”

Ilmu murni atau ilmu dasar pada saat ini memang sedang tidak atau jauh kaitan urusannya dengan industri. Lebih jauh lagi, negara yang meninggalkan ilmu murni akan kehilangan kedaulatan intelektualnya.

Ia akan bergantung pada pengetahuan yang diproduksi di luar, menjadi konsumen teknologi, bukan pencipta - seperti yang kita rasakan sekarang. Dalam jangka panjang, ini bukan hanya persoalan akademik, tetapi persoalan kemandirian bangsa.

Karena itu, perguruan tinggi negeri yang utama juga sudah terseret arus logika pasar seperti ini. Kampus-kampus ITB, UGM, UB dan lain-lain menyebar jaringannya ke Jakarta dan kota besar untuk menawarkan ilmu praktis, yang tidak ada hubungan dengan peningkatan ilmu yang mendalam.

”Saya mengusulkan penyebaran kampus-kampus di Jakarta dan kota-kota lain tersebut (ITB, UGM, UB dal lain-lain) dikembangkan hanya untuk bisnis, menambah kas anggaran kampus dan untuk tambahan honor dosennya, yang suka ’ngamen’. Ini  tidak ada hubungan dengan peningkatan ilmu  dan riset yang mendalam,” katanya.

Kata Didik, justru praktek PTN seperti ini yang harus dihapus karena tidak menjadikan kampus-kampus tersebut unggul naik peringkat di tingkat global.  Pantas PTN kita tertinggal di ASEAN dibandingkan Singapura dan Malaysia - apalagi di Asia (Jepang, Cina, Korea dll).

Prof Didik mengatakan, setiap tahun kampus meluluskan hingga 1,9 juta sarjana, yang mismatch dengan kebutuhan industri  di lapangan. Hal ini bukan karena perguruan tinggi tidak terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, karena kebijakan tersebut tidak boleh menutup ilmu murni.

”Kementerian tugasnya harus visioner  dengan menguatkan ekosistem karena pada akhirnya pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri,” pungkasnya. *

 

--- F. Hardiman

Komentar