SENI BUDAYA Nobar Layar Tancap: Ruang Literasi, Kebersamaan Sosial dan Demokratisasi Budaya 14 Apr 2026 09:48
Kegiatan ini bukan sekadar hiburan bagi warga, melainkan sebuah literasi publik dan intervensi kultural yang menghadirkan ruang positif bagi anak-anak dan remaja.
JAKARTA, IndonesiaSatu.co - Di tengah tantangan sosial perkotaan yang kian kompleks, mulai dari keterasingan sosial hingga potensi konflik antar remaja seperti tawuran, masyarakat membutuhkan ruang alternatif yang mampu merangkul, mendidik, dan menyatukan.
Menjawab kebutuhan tersebut, Luminesa, Aspirasi Jakarta, PW Matahari Pagi- Jakarta, Karang Taruna RW.06, FILeM, dan segenap pengurus RW.06 Manggarai menyelenggarakan acara menonton bareng (nobar) layar tancap. Kali ini yang diputar adalah film 'Rumah Tanpa Jendela" karya Aditya Gumay. Film ini merupakan bagian dari gerakan sosial berbasis literasi dan gotong royong. Kegiatan nobar layar tancap ini berlangsung di RW.06 Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan pada hari Sabtu (11/04/2026).
Kegiatan ini bukan sekadar hiburan bagi warga, melainkan sebuah literasi publik dan intervensi kultural yang menghadirkan ruang positif bagi anak-anak dan remaja.
Di tengah keterbatasan ruang ekspresi yang sehat, layar tancap hadir sebagai alternatif yang membangun sekaligus mengalihkan energi dari potensi perilaku destruktif menuju aktivitas yang reflektif, edukatif, dan kolektif.
Film "Rumah Tanpa Jendela" mengandung pesan kuat tentang perjuangan, keteguhan, dan harapan dalam kehidupan anak-anak yang hidup dalam keterbatasan.
Narasi ini menjadi jembatan empati, membuka kesadaran bahwa setiap individu memiliki pergulatan dan mimpi yang layak dihargai. Dari sini, tumbuh pemahaman bahwa kekerasan bukanlah jawaban, melainkan solidaritas dan kepedulianlah yang menjadi jalan keluar.
Kegiatan ini mengedepankan pendekatan preventif: menghadirkan ruang-ruang positif yang memikat, inklusif, dan bermakna.
Karang Taruna RW.06 menegaskan bahwa keterlibatan pemuda dalam kegiatan seperti ini menjadi kunci untuk membangun rasa memiliki terhadap lingkungan. ”Ketika remaja merasa diakui dan dilibatkan, potensi konflik sosial seperti tawuran dapat ditekan secara alami melalui penguatan ikatan sosial,” ujar perwakilan dari Karang Taruna melalu siaran pers.
PW Matahari Pagi - Jakarta melihat bahwa pendidikan tidak selalu harus hadir dalam ruang formal. ”Melalui film, nilai-nilai kehidupan dapat diserap dengan lebih dalam, karena ia menyentuh emosi, bukan sekadar logika. Anak-anak belajar tentang empati, kesabaran, dan harapan tanpa merasa digurui,” ujar perwakilan PW Matahari Pagi-Jakarta.
Layar Tancap sebagai Ruang Sosial dan Literasi
Layar tancap menjadi lebih dari sekadar medium tontonan. Ia adalah ruang sosial. Tempat warga berkumpul tanpa sekat, berbagi pengalaman, dan membangun kembali rasa kebersamaan yang mulai terkikis oleh kehidupan urban. Dalam gelapnya malam, layar menjadi pusat cahaya yang menyatukan pandangan dan perasaan.
Perwakilan dari Luminesa menekankan bahwa literasi publik tidak hanya tentang kemampuan membaca teks, tetapi juga membaca realitas sosial. ”Film menjadi alat literasi yang efektif karena mampu menghadirkan narasi kehidupan secara utuh, mengajak penonton untuk berpikir, merasakan, dan berefleksi,” katanya.
Sementara itu, perwakilan dari FILeM menambahkan, menghadirkan film di ruang terbuka adalah bentuk demokratisasi budaya. ”Ketika akses terhadap karya berkualitas dibuka seluas-luasnya, masyarakat memiliki kesempatan untuk tumbuh bersama secara intelektual maupun emosional,” ujarnya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi pemantik bagi gerakan-gerakan serupa di berbagai wilayah, bahwa membangun masyarakat tidak selalu harus melalui cara yang besar dan kompleks, tetapi bisa dimulai dari langkah sederhana: berkumpul, menonton, dan merasakan bersama. *
--- F. Hardiman
Komentar