Breaking News

REGIONAL Pariwisata NTT: Terbaik, Kenapa Mahal? 20 Sep 2016 20:11

Article image
Pulau Padar, salah satu destinasi favorit wisata lokal hingga mancanegara. (Foto: ist)
Nusa Tenggara Timur (NTT) tengah memperlihatkan geliatnya dalam hal parisiwata. Sayang keindahan alam NTT belum optimal dinikmati oleh karena budget transportasi yang amat mahal.

Oleh Ernie Elu Wea

 

Dalam setiap perjalanan, tentu setiap orang memiliki kenangan indah dan cerita-cerita seru, bahkan bagi seorang traveler sejati sekalipun, karena pengalaman langsung saat di tengah perjalanan merupakan hal langka yang tidak didapat semua orang.

Beragam cerita seru itu belakangan ini sering dijumpai berseliweran di media sosial (medsos), dengan sejuta ulasan, sejuta pesona yang terekam dari destinasi wisata di kawasan Nusa Tenggara Timur.

Sebut saja destinasi baru seperti Pulau Padar di Labuan Bajo, yang tak kalah eksotisnya dibanding pulau-pulau lain yang lebih dahulu ngetop seperti Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Alor, Pulau Rote, juga destinasi wisata lain seperti Danau Tiga Warna Kelimutu, 17 Pulau Riung, Pantai Nemberala, dan Pantai Nini Watu.

Tak pelak ketika Anugerah Pesona Indonesia 2016 (API 2016) digelar, sejumlah traveler memberikan vote dengan nilai fantastis untuk kawasan wisata di NTT. Sebabnya, dari 10 kategori penghargaan di ajang API 2015, NTT berhasil menyumbang enam destinasi wisata terbaiknya.

Mulai dari Kategori Tujuan Wisata Terpopuler Kebersihannya (Most Popular Cleanliness), Pantai Nihi Watu, Sumba Barat, NTT mengungguli Pantai Ora (Maluku) dan Pantai Papuma (Jember).

Kemudian Kategori Situs Sejarah Terpopuler (Most Popular Historical Site) disabet oleh Rumah Pengasingan Soekarno, Ende, NTT. Mengalahkan Gedung Linggarjati  (Kuningan, Jawa Barat) dan Benteng Tolukko (Ternate, Maluku Utara).

Selanjutnya Pulau Alor, NTT masih menjadi pilihan traveler untuk Kategori Tempat Menyelam Terpopuler (Most Popular Diving Spot), mengalahkan Nusa Penida (Bali) dan Taman Laut Derawan (Berau, Kalimantan Timur).

Lalu Pantai Nemberala, Pulau Rote, NTT pun bertengger di puncak Kategori Tempat Berselancar Terpopuler (Most Popular Surfing Spot), mengalahkan Nusa Lembongan (Bali), dan Pantai Plengkung (Banyuwangi).

Sementara untuk Kategori Atraksi Budaya Terpopuler (Most Popular Cultural Atraction), atraksi budaya Pasola di Sumba Barat Daya berhasil menempati urutan kedua. Dan Gunung Kelimutu,  Ende, NTT dengan pesona danau Tiga Warnanya menempati urutan ketiga untuk Kategori Dataran Tinggi Terpopuler (Most Popular Highland).

Secara umum, NTT menjadi juara umum dari Anugerah Pesona Indonesia 2016 ini. Ajang penghargaan ini merupakan rangkaian kegiatan tahunan yang diselenggarakan dalam upaya membangkitkan apresiasi masyarakat terhadap pariwisata Indonesia, serta mendorong peran serta berbagai pihak terutama pemerintah daerah untuk lebih berupaya mempromosikan pariwisata di daerahnya masing-masing.

Sebelumnya, NTT juga mendapat pengakuan dunia dengan mendapat gelar hotel terbaik di dunia. Tahun ini, Nihiwatu Resorts, Sumbawa jadi hotel terbaik dunia versi majalah travel internasional Travel and Leisure.

Menteri Pariwisata Arief Yahya usai menyerahkan penghargaan dalam ajang API 2016 mengatakan pentingnya dunia digital dalam pengembangan pariwisata Indonesia. Melalui ajang Anugerah Pesona Indonesia 2016 ini, ia mengharapkan provinsi-provinsi di Indonesia terus melakukan pengembangan pariwisata secara digital.

"Alasannya, satu, lifestyle sudah berubah. Kedua, 70 persen baik wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara itu mencari obyek wisata dengan media digital. Itu statistiknya," jelas Arief.

Dia pun menegaskan, NTT saat ini mempunyai singkatan baru yakni ‘new tourism territory’. Bukan lagi seperti pernyataan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya bahwa NTT itu kependekan dari ‘nasib tidak tentu’, atau ‘nanti Tuhan tolong’.

Menjanjikan

Dengan beragam pengakuan terhadap pesona sejumlah destinasi pariwisata tersebut, sudah seharusnya pariwisata NTT menunjukkan adanya perkembangan yang cukup menjanjikan. Apalagi dengan lebih dari 450 destinasi wisata yang menawarkan keunikan di tiap destinasi, pariwisata NTT menjadi sangat kaya untuk dijelajahi.

Dinas Pariwisata Provinsi NTT mencatat setidaknya terdapat 12 jenis destinasi wisata yang bisa ditemui seperti pantai, keindahan alam, danau, diving dan snorkeling, hingga obyek wisata budaya seperti tempat bersejarah, kampung tradisional, festival tradisional, wisata rohani, kuliner, belanja hingga wisata buatan. Wisata alam dan pantai menjadi obyek wisata terbanyak dengan total sebanyak 238 obyek wisata, dan wisata budaya sebanyak 227 obyek wisata, sehingga wisata alam dan budaya menjadi ciri khas wisata di NTT.

Marius Ardu Jelamu, Kadis Pariwisata NTT menyebutkan, secara nasional, tingkat kunjungan wisata di NTT hanya menempati urutan ke-25 dilihat dari total jumlah penggunaan kamar tahun 2014 yang mencapai 791 ribu kamar. Namun demikian, apabila dilihat dari jenis turisnya, Provinsi NTT menempati urutan ke-11 total kunjungan jumlah turis asing dilihat dari pemesanan hotel di NTT. Hal ini menunjukkan adanya potensi devisa yang cukup besar ke depan apabila pariwisata dikelola secara maksimal.

Pertumbuhan pemesanan hotel pada tahun 2014 juga menunjukkan adanya pertumbuhan yang cukup besar hingga hampir 50% seiring dengan adanya sail komodo yang waktu itu diadakan oleh pemerintah pusat di NTT. Total kunjungan wisatawan pada tahun 2015 mampu tumbuh 11% dengan total wisatawan sebanyak 441 ribu orang.

“Sejak Sail Komodo 2013 trend kunjungan wisata ke NTT itu tinggi sekali. Sebagai salah dari 7 keajaiban dunia, tentu sangat berdampak. Selain itu kita punya kampung Waerebo yang memiliki keunikan khusus dalam bidang arstektural tua dan juga kelimutu sebagai sebuah keajaiban alam yang kemudian mendorong kunjungan wisatawan ke NTT ,” kata Marius kepada IndonesiaSatu.co.

Bahkan, setelah pelaksanaan Tour de Flores di Bulan Mei 2016 lalu, berhasil mendorong peningkatan kunjungan wisata ke NTT tumbuh hingga 15% secara year on year. Dinas Pariwisata mencatat ada pertumbuhan jumlah pengunjung per semester yang tumbuh di kisaran 17 ribu – 18 ribu orang dari dari wilayah Flores Barat, lalu dari Timor Leste setiap hari masuk ke wilayah NTT sekira 90 hingga 100 orang, atau dalam sebulan hampir mencapai 18 ribu. “Jadi kami bisa katakan total kunjungan sebulan bisa 30 ribu orang,” pungkas Marius.

Namun data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kupang menyebutkan, berdasarkan sebaran daerah, Kabupaten Manggarai Barat menjadi pintu gerbang pariwisata dan paling diminati wisatawan mancanegara, disusul oleh pariwisata Danau Kelimutu di Ende, Wisata dataran tinggi Ruteng di Manggarai dan rumah adat Bena di Ngada.

“Tingginya kunjungan wisatawan mancanegara di Manggarai dan Ngada bahkan melampaui tiga kawasan strategis pariwisata nasional lainnya yang sudah ditetapkan pemerintah di NTT yaitu Kabupaten Sumba Barat, Alor, dan Rote Ndao. Kedekatan wilayah dengan Labuan Bajo diduga menjadi penyebab tingginya kunjungan wisata di kedua obyek wisata tersebut,” sebut laporan BI Kupang.

Untuk wisata domestik, pusat aktivitas pariwisata berada di Kota Kupang yang terlihat dari tingginya kunjungan wisata domestik di Kota Kupang yang mencapai 185 ribu orang pada tahun 2015. Tingginya kunjungan wisatawan tersebut diduga didorong oleh kunjungan MICE, adanya proyek pemerintah, atau dalam perjalanan transit kunjungan ke daerah lain. Hal ini didukung oleh sistem konektivitas angkutan udara di Provinsi NTT yang masih terpusat di Kota Kupang sebagai hub penerbangan ke daerah lain.

Hanya saja, masih ada sejumlah infrastuktur pendukung yang harus dipenuhi. Tingginya kunjungan wisatawan, harus didukung oleh jumlah industri yang mencukupi. Berdasarkan data total, jumlah industri baik jumlah hotel, kapasitas kamar dan jumlah restaurant masih relatif mencukupi. Permasalahan yang ada adalah besaran kapasitas hotel yang terkesan kurang mencukupi ketika terdapat acara khusus seperti contoh semana santa di Larantuka, pasola di Sumba ataupun Sail Indonesia dan MICE yang diadakan di NTT.

Laporan BI Kupang juga mencatat rasio kamar dibanding jumlah kapasitas penumpang sebesar 1,03 yang berarti jumlah kamar relatif sebanding untuk memenuhi permintaan kamar oleh wisatawan. Namun demikian, apabila dibandingkan dengan tingkat penghunian kamar yang hanya sekitar 30%, dapat diketahui bahwa penggunaan angkutan udara lebih untuk sarana transportasi penduduk dan bukan untuk tujuan pariwisata. Rendahnya okupansi hotel salah satunya diduga berasal dari minimnya penerbangan ke daerah tujuan wisata seperti lembata, Alor dan Rote sehingga hotel kesulitan mendapatkan pengunjung dan kontraproduktif terhadap industri pariwisata di daerah tersebut.

Kendala Transportasi

Di sisi lain, terbatasnya sarana transportasi tersebut berdampak pada mahalnya biaya transportasi ke daerah tujuan wisata yang berakibat pada melemahnya daya saing pariwisata di NTT. Berdasarkan data biaya perjalanan ke tiga obyek wisata utama di NTT yaitu Labuan Bajo, Ende dan Tambolaka, dibandingkan dengan biaya perjalanan ke tiga negara tujuan utama wisata luar negeri yaitu Singapura, Kuala Lumpur dan Bangkok Thailand didapatkan bahwa hanya perjalanan dari Bali yang relatif  berdaya saing dari segi biaya transportasi.

Bagi wisatawan yang berasal dari Surabaya dan terlebih Jakarta, biaya wisata ke NTT cenderung lebih mahal dibandingkan pergi ke tiga Negara tujuan wisata. Hal ini membuat orang lebih cenderung pergi ke luar negeri dikarenakan adanya keunggulan dari sisi biaya transportasi, obyek wisata yang sudah tertata maupun pengalaman ke luar negeri yang didapat. Lagipula dengan total penerbangan dari Surabaya, Jakarta, Denpasar dan Makasar yang hanya sebanyak 26 penerbangan per hari membuat estimasi jumlah turis yang datang tidak akan lebih dari 800 ribu dalam waktu satu tahun, mengkonfirmasi jumlah kunjungan wisatawan di NTT saat ini yang masih di kisaran 400 ribu wisatawan per tahun.

"Tarif angkutan udara di sini (NTT) menjadi tantangan besar bagi pariwisata kita," ujar Gubernur NTT, Frans Lebu Raya.

Menurut Frans, untuk menikmati tempat wisata di NTT yang terpisah di beberapa pulau, wisatawan dari Jakarta minimal membutuhkan dana sekitar Rp 7 juta rupiah.  Hal ini hampir sama dengan wisatawan yang bepergian ke negara tetangga seperti ke Singapura atau Thailand. "Kalau seperti ini jelas mereka memilih ke luar negeri daripada liburan di negara sendiri," ungkap Frans.

Untuk itu Frans sangat berharap pemerintah pusat khusunya Kementrian Perhubungan, membantu NTT dalam melakukan perluasan bandara di masing-masing bandara yang ada di NTT.  Sehingga pesawat yang lebih besar bisa masuk, hal ini memungkinkan wisatawan lebih banyak yang datang karena harga tiket pesawat lebih murah.

Namun Bank Indonesia mengingatkan bahwa pemerintah tidak dapat berharap perusahaan penerbangan menambah penerbangan ke NTT karena mereka juga harus memikirkan profit perusahaan yang dapat diperoleh bila menambah frekuensi penerbangan ke NTT. Yang pemerintah bisa lakukan adalah terus mengkomunikasikan keindahan alam dan keunikan budaya NTT, sehingga semakin banyak wisatawan yang ingin berkunjung ke NTT.

Ketika pesawat penuh, maka perusahaan penerbangan pasti berpikir untuk menambah penerbangan dikarenakan potensi profit yang mereka peroleh. Promosi dan even pariwisata yang sudah efektif dilakukan saat ini juga harus didukung oleh pembenahan destinasi wisata, penyediaan sarana dan prasaran serta industri pariwisata yang memadai. Diharapkan, pelayanan yang diberikan dapat memenuhi atau bahkan melampaui ekspektasi yang diharapkan, sehingga pariwisata yang berkelanjutan di NTT dapat berjalan dan semakin banyak orang mengunjungi NTT. Semakin banyak permintaan wisata ke NTT berarti semakin banyak penerbangan yang dibutuhkan.

Semakin banyak penerbangan ke NTT cenderung akan lebih menstabilkan tarif penerbangan, dan banyaknya frekuensi juga mendorong tarif untuk turun yang berarti daya saing transportasi wisata NTT juga akan mengalami peningkatan.

 

* Penulis adalah wartawan IndonesiaSatu.co

Komentar