Breaking News

GAYA HIDUP Tawarkan Sudut Pandang Berbeda, JOMO Hadir Sebagai Alternatif Fenomena FOMO 20 Apr 2026 18:55

Article image
Fenomena FOMO. (Foto: Ilustrasi)
Jika FOMO merupakan kondisi kecemasan jika tertinggal kabar atau tren terbaru, JOMO menekankan ketenangan saat tidak selalu terhubung dengan dunia digital.

BOGOR, IndonesiaSatu.co  - Di tengah maraknya fenomena fear of missing out (FOMO) dalam kehidupan digital yang serba cepat, kini muncul konsep tandingan ‘joy of missing out’ (JOMO) yang menawarkan sudut pandangan berbeda.

Jika FOMO merupakan kondisi kecemasan jika tertinggal kabar atau tren terbaru, JOMO menekankan ketenangan saat tidak selalu terhubung dengan dunia digital.

Akademisi IPB University, Dr Annisa Utami Seminar menjelaskan bahwa JOMO merupakan narasi alternatif dari FOMO yang mendorong individu memiliki kendali atas dirinya. 

Joy of missing out adalah konsep ketika orang tidak merasa cemas ketika melewatkan sesuatu, tetapi justru merasa memiliki otonomi atas apa yang ingin dilihat atau tidak,” ujar dosen Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia IPB University ini melalui pernyataan tertulis, Senin (20/4/2026).

 

Bisa Berjalan Bersamaan
Dalam tayangan IPB Podcast di YouTube IPB TV, Dr Annisa mengatakan bahwa FOMO dan JOMO bukanlah dua hal yang saling bertolak belakang. Keduanya justru dapat muncul secara bersamaan dalam diri seseorang. 

FOMO biasanya ditandai dengan kecemasan, perasaan tertinggal, hingga dorongan untuk terus membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. 

“Sebaliknya, JOMO menghadirkan emosi positif seperti rasa tenang dan merdeka. Ini bukan sekadar merasa santai, tapi juga bentuk kesadaran bahwa kita tidak harus selalu terhubung dengan dunia digital yang begitu cepat,” jelasnya.

Ia menambahkan, JOMO muncul sebagai respons atas kejenuhan informasi digital yang berlebihan. Dalam konteks ini, gerakan digital wellbeing mendorong individu untuk lebih reflektif terhadap kebiasaan digital dan mulai memprioritaskan kesehatan mental serta keseimbangan hidup.


Strategi Sehat di Tengah Kecanduan Digital
Dr Annisa menegaskan bahwa JOMO bukan berarti menarik diri dari kehidupan sosial. Justru, konsep ini dapat memperkuat hubungan di dunia nyata. “Ini bukan isolasi, tetapi refleksi diri. Kita bertanya kembali apa yang benar-benar bermakna bagi hidup kita,” katanya.

Salah satu cara menerapkan JOMO adalah dengan membatasi waktu layar (screen time), melakukan social media detox, serta mengevaluasi apakah aktivitas digital mengganggu tujuan hidup di dunia nyata. Ia juga mengingatkan pentingnya kesadaran diri dalam mengatur koneksi digital, terutama di luar jam kerja.

“Yang paling penting adalah mengetahui mana yang terbaik untuk diri kita. Kita bisa saja merasa penasaran dan ingin tahu, tetapi setelah itu kita juga bisa memilih untuk berhenti. Tidak harus terus-menerus terhubung,” tuturnya.

Karena itu, Dr Annisa mengajak masyarakat untuk mulai menikmati momen di dunia nyata dan tidak selalu bergantung pada layar. “Ketika sudah jenuh, jangan dipaksa. Mungkin dengan mengambil jeda, kita bisa menemukan kembali hal-hal yang lebih bermakna dan menyehatkan secara emosional,” pungkasnya. *

 

--- F. Hardiman

Komentar