INTERNASIONAL Prancis Memanas: Ratusan Ribu Orang Kembali Demo, Ribuan Ditangkap 25 Oct 2026 09:49
Di Marseille, kota terbesar kedua di Prancis, sejumlah demonstran menembakkan kembang api mortir ke arah polisi dalam bentrokan di jalanan.
PARIS, IndonesiaSatu.co-- Situasi politik dan keamanan di Prancis kian memanas. Ratusan ribu orang kembali turun ke jalan di berbagai wilayah Prancis pada Sabtu (24/10/2026) untuk menggelar aksi unjuk rasa.
Menurut Kementerian Dalam Negeri Prancis, demonstrasi yang sebagian besar berlangsung damai itu berujung pada penahanan hampir 1.000 orang.
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez mengatakan sekitar 410 ribu orang mengikuti demonstrasi di berbagai wilayah Prancis. Dari jumlah tersebut, sekitar 110 ribu orang berunjuk rasa di Paris, jumlah yang hampir sama dengan pekan sebelumnya.
Para demonstran menyuarakan sejumlah tuntutan, mulai dari peningkatan investasi untuk sektor pendidikan, perluasan kesempatan kerja bagi anak muda, hingga penanganan kenaikan biaya hidup.
Mengutip CNN, Nuñez mengatakan polisi berhasil membatasi pergerakan massa agar tidak menggelar aksi tanpa izin atau bergerak menuju pusat kota.
"Di Paris, kami menyaksikan demonstrasi besar yang berlangsung damai, seperti sebagian besar aksi unjuk rasa di seluruh negeri," kata Nuñez.
Meski demukian, aparat mencatat hampir 1.000 penahanan selama demonstrasi pada Sabtu. Jumlah itu meningkat dibandingkan pekan sebelumnya, ketika polisi menahan 385 orang.
Nuñez mengatakan, sejumlah kota mengalami kerusakan dan penjarahan toko dalam skala terbatas. Namun, ia menyebut situasinya lebih terkendali dibandingkan pekan lalu, ketika terjadi serangan terhadap sejumlah fasilitas publik, termasuk balai kota dan kantor polisi.
Ia juga menyoroti kekerasan yang dihadapi aparat selama demonstrasi, termasuk lemparan benda dan tembakan kembang api mortir.
Polisi Kerahkan 70 Ribu Personel
Untuk mengamankan aksi demonstrasi, pemerintah Prancis mengerahkan sekitar 70 ribu personel kepolisian ke berbagai wilayah. Operasi pengamanan itu melibatkan unit khusus, helikopter, kendaraan lapis baja, anjing pelacak, hingga meriam air.
Di Paris, bentrokan terjadi setelah pawai damai yang diikuti sekitar 110 ribu orang berakhir di kawasan Porte de Vincennes. Menurut laporan tim CNN, sejumlah demonstran berhadapan dengan polisi yang menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa.
Di Marseille, kota terbesar kedua di Prancis, sejumlah demonstran menembakkan kembang api mortir ke arah polisi dalam bentrokan di jalanan.
Media Prancis BFMTV juga melaporkan penjarahan di beberapa lokasi, termasuk toko perhiasan yang kacanya pecah dan sebuah supermarket.
Sementara itu, rekaman dari Bordeaux memperlihatkan polisi menggunakan gas air mata di Place de la Bourse. Sejumlah demonstran bertopeng terlihat melempar benda ke arah aparat.
Di Nice, puluhan aktivis sayap kanan dilaporkan menyerang orang-orang yang tengah mengikuti demonstrasi damai, menurut BFMTV.
Ancaman Mogok Nasional
Di tengah gelombang demonstrasi tersebut, pemimpin partai sayap kiri La France Insoumise, Jean-Luc Mélenchon, memperingatkan kemungkinan aksi mogok nasional pada 5 November jika Presiden Emmanuel Macron tidak merespons tuntutan para demonstran.
"Pemogokan umum yang diserukan oleh CGT membayangi pemerintah pada 5 November," kata Mélenchon saat berada di barisan depan demonstrasi di Paris.
Aksi protes terhadap pemerintah juga berlangsung di sejumlah negara Eropa lainnya pada Sabtu.
Di Italia, toko-toko di Napoli, Roma, dan Milan menutup jendela dengan papan pelindung menjelang demonstrasi yang direncanakan, menyusul penjarahan dalam aksi sebelumnya.
Di ibu kota Albania, Tirana, demonstran membakar tempat sampah dan melempar batu serta tabung gas air mata.
Sementara di Brussel, Belgia, mahasiswa menggelar aksi dengan membawa poster dan memblokade jalan.
--- Guche Montero
Komentar