Breaking News

BOLA PSN Ngada dan Era Kebangkitan Sepakbola NTT 29 Nov 2016 16:07

Article image
Skuad PSN Ngada dalam Liga Nusantara 2016. (Foto: Ist)
PSN hadir dalam turnamen yang baru pertama kali diikutinya itu, dengan memainkan sepakbola indah dan menjadi tim yang paling produktif dalam turnamen sekaligus menjadi tim dengan pertahanan terbaik.


Oleh Hancel Goru Dolu

 

PSN Ngada baru saja membuat sejarah! Kemarin, Senin (28/11/2016), PSN lolos ke Babak 8 Besar Liga Nusantara 2016. Sebuah sejarah bagi persepakbolaan NTT yang sebelumnya hampir-hampir tak pernah banyak berbicara di pentas sepakbola nasional. Menjadi makin luar biasa, karena PSN hadir dalam turnamen yang baru pertama kali diikutinya itu, dengan memainkan sepakbola indah dan menjadi tim yang paling produktif dalam turnamen sekaligus menjadi tim dengan pertahanan terbaik.

Tentang sepakbola indah, kita bisa lihat itu, salah satunya dalam pertandingan melawan Putra Palangkaraya kemarin. Terutama di babak kedua. PSN mendominasi hampir 70-80 persen penguasaan bola dengan passing-passing pendek diselingi umpan langsung ke garis pertahanan lawan. Pressing-pressing ketat dengan determinasi tinggi pun langsung ditampilkan manakala tim kehilangan bola. Tim yang diisi oleh pemain-pemain muda ini, tak pelak, telah mencuri perhatian publik.

Banyak kawan berpendapat, seandainya hujan tak menggenangi lapangan Stadion Sultan Agung Bantul, PSN pasti akan lebih mudah memastikan lolos. Tapi, begitulah, sejarah seringkali tak memberi tempat pada hal-hal andaian. Asyik menyerang sejak peluit wasit dibunyikan, PSN malah kebobolan di menit-menit awal babak pertama, hasil dari satu-satunya tembakan ke gawang yang dibuat Putra Palangkaraya sepanjang pertandingan.

Kondisi lapangan yang tak memungkinkan untuk memainkan bola-bola pendek, strategi parkir bus dan 'teknik' mengulur-ulur waktu yang diterapkan lawan, serta bola membentur mistar gawang sebanyak dua kali; sempat menimbulkan pesimisme di kalangan para penggemar PSN. Pertandingan melawan Putra Palangkaraya sendiri berakhir dengan skor 1-1. Runner-up Grup G itu akhirnya tumbang di babak adu pinalti.

Sebelumnya, Persipal Palu yang lolos dari Grup H mendampingi PSN, juga berhasil lolos ke Babak 8 Besar setelah menaklukkan Juara Grup G Persilat Lampung Tengah dengan skor 1-0. Fakta ini semakin mempertegas bahwa Grup H merupakan salah satu pool yang paling kompetitif.

Sejauh ini PSN telah mengalahkan Gama FC Jogja (2-0), PS Malinau Utara Kaltara (7-0), Pesipal Palu (3-1), dan Putra Palangkaraya (1-1 dan adu pinalti 4-2). Dengan demikian, PSN telah mengoleksi 13 gol dan kebobolan 2 gol, juga menyertakan duet striker-nya, Yoris Nono dan Okta Pone, dalam persaingan Top Skorer sementara. Di babak 8 Besar nanti, PSN akan berhadapan dengan Mamuju Utama FC.

Sudah sejak lama, saya heran, mengapa PSN Ngada tak menjadi salah satu peserta liga profesional di Indonesia? Di setiap tempat yang ada komunitas orang Ngada, tim sepakbolanya hampir selalu merupakan favorit juara. Salah satu yang paling berkesan bagi saya adalah PSN Ngada Malang. Dalam sebuah turnamen yang dihelat di kota Malang, mereka berhasil mencapai 5 final secara berturut-turut untuk berhadapan dengan tim dari Sentani Papua yang juga lima kali berturut masuk final. Anak-anak Ngada Malang menang 3 kali dan anak-anak Papua menang 2 kali. Turnamen itu sendiri baru dihelat 5 kali.

Final kelima itu sendiri, sangat menarik. Ngada tertinggal 2-0 di babak pertama lalu bangkit menyamakan kedudukan di babak kedua. Bablas sebagai juara setelah menyelesaikan adu pinalti yang menegangkan. Irama Ja'i lalu diputar, setelah 'Sa Ngaza' dari salah seorang mahasiswa yang datang ke lapangan lengkap dengan pakaian adat Ngada dan parang Bajawa.

Sebenarnya masih ada banyak contoh lain. Baik itu di Surabaya, Jakarta, Jogja, Bali, ataupun di tempat-tempat lainnya. Contoh Malang diajukan karena lawannya adalah Papua. Papua, seperti semua orang tahu, adalah bibit sepakbola terbaik negeri ini. Tapi anak-anak Ngada Malang telah membuktikan bahwa Ngada sebenarnya bisa terlibat dalam persaingan ketat dengan lawan yang terbaik.

Begitulah Ngada dan orang-orangnya, mereka sebenarnya selalu bisa bersaing di manapun mereka berada. Kebajikan lama yang tertanam dalam bentuk 'Waka' dan 'Ngagha' alias menegakkan kewibawaan dan martabat, tampaknya menyesap ke dalam relung jiwa setiap kawulanya. Mungkin itulah sebabnya di Ngada tak ada sejarah penguasa, yang ada hanyalah kisah-kisah pemimpin kuno.

PSN Ngada di Liga Nusantara 2016 kali ini telah mengingatkan kembali publik Ngada, juga NTT secara umum, akan spirit kuno itu. Semangat juang mereka telah mengangkat martabat dan kewibawaan sepakbola NTT di level nasional. Semua insan sepakbola di Ngada, dan NTT, mestinya bisa mengambil pelajaran dari kisah manis PSN ini. Sepakbola NTT harus segera bangkit, dengan dukungan sarana dan prasarana yang lebih memadai.

Meski belum mencapai puncak kompetisi ini, perjalanan PSN membawa seberkas cahaya harapan: ternyata -- dan mestinya -- kita bisa. Ya, kini bangkitlah kesadaran 'baru' di relung jiwa anak-anak Ngada bahwa kita mampu tampil di pentas nasional.

Terima kasih, PSN Ngada! Gau bha'i la'a me'a! Ebu nusi dai wa'i bhego logo, Dewa beka...

 

Penulis adalah Kontributor IndonesiaSatu.co, penggemar PSN Ngada, tinggal di Surabaya.

Komentar