REGIONAL RMC Detusoko: Project Wisata Berbasis Kawula Muda 22 Sep 2017 10:47
Konsep awal pendirian RMC Detusoko yakni merangsang kawula muda dan para pelajar untuk belajar secara kreatif, inovatif dan mandiri.
ENDE, IndonesiaSatu.co -- Gagasan awal pendirian Remaja Mandiri Community (RMC) yakni sebagai wadah ekspresi kawula muda, kaum remaja dan anak-anak sekolah dari tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas yang peduli terhadap lingkungan hidup dan pendidikan.
Konsep awal pendirian RMC Detusoko yakni merangsang kawula muda dan para pelajar untuk belajar secara kreatif, inovatif dan mandiri. Juga kesadaran dini untuk peka dan peduli terhadap lingkungan. Metode yang digunakan yakni pengumpulan sampah organik dan non-organik sebagai "bekal" untuk mengikuti kursus bahasa Inggris secara gratis. Ternyata, metode itu efektif, selain membuat anak-anak antusias untuk mengikuti kursus gratis juga berdampak sosial pada kebersihan lingkungan sekitar.
“Konsep awal itu kemudian sinergi dengan wacana pariwisata yang mendorong eco-wisata berbasis penghijauan dan kebersihan (go green and clean)," kata Nando Watu selaku penggagas dan pendiri RMC Detusoko, Rabu (20/9/2017)
Kepada media ini, Nando menerangkan bahwa sasaran pendirian RMC tidak terlepas dari potensi anak-anak muda yang belum secara optimal diarahkan pada keterampilan berwirausaha dengan memanfaatkan berbagai potensi lokal yang ada. Sementara menurutnya, daerah Detusoko menjadi salah satu tempat strategis selain Moni, terutama bagi para wisatawan yang hendak mengunjungi Taman Nasional Kelimutu.
"Keterampilan bisa dibentuk, tergantung mentalitas, kemauan serta pendampingan secara terus-menerus. Anak-anak muda memiliki potensi dan kemauan. Ada banyak potensi lokal yang bisa dikembangkan sebagai investasi bisnis dengan kemasan yang kreatif, inovatif dan memiliki citarasa lokal. Secara perlahan RMC mulai mendorong kemauan anak-anak muda menuju kemandirian lewat keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge) juga kepribadian (attutude)," terangnya.
Project Pariwisata Berkelanjutan
Bermodalkan ilmu tentang kepariwisataan yang digelutinya selama berada di Amerika, Nando berkeyakinan bahwa anak-anak muda Detusoko, Ende dan NTT pada khususnya mampu berperan sebagai pelaku wisata yang handal dan mampu bersaing di tengah arus wisata yang terus berkembang signifikan setiap tahun.
"Anak-anak muda adalah generasi yang tidak pernah selesai. Keterampilan menjadi modal penting selain ilmu pengetahuan. Anak-anak muda perlu disiapkan agar mampu berperan sebagai pelaku wisata yang handal, kompeten dan teruji. Sebagai wadah yang terus belajar, RMC selalu membuka akses jaringan (networking) dengan berbagai pihak sehingga anak-anak muda yang memiliki potensi dan kemauan dapat mengasah keterampilan dan menjadi tenaga kerja siap pakai. Pada prinsipnya, pariwisata berkelanjutan (sustanable tourism) dengan menempatkan kawula muda, tetap menjadi sasaran," lanjut alumni STFK Ledalero ini.
Sebelumnya, RMC Detusoko berhasil mengutus Eka Raja Kapo mewakili NTT dalam workshop internasional tingkat Asean, Asean Economy Community (AEC) yang diselenggarakan di Pan Pasifik, Hanoi, Vietnam. Dalam kegiatan tersebut, Eka juga mendapat penghargaan sebagai 'the best participants on active and networking.'
Mendapat kepercayaan dalam event internasional tersebut, Eka memberikan apresiasi dan bangga dengan RMC Detusoko yang bisa mewakili NTT bahkan Indonesia Timur.
"Ketika menjelaskan bagaimana konsep community development dan social enterprise yang diterapkan di RMC Detusoko, 10 peserta dari Indonesia mendukung penuh sebagai role model project untuk kaum muda Flores dan NTT. RMC akan menjadi role model dan bermitra dengan Malaysia, Singapura dan Thailand terkait pemberdayaan kawula muda melalui kewirausahan sosial," kisah Eka.
Bangunan networking, jelas Nando, juga terjalin dengan Bali Wise, yang sejak tahun 2015 sudah menerima belasan anak muda tamatan SMA yang direkomendasikan oleh RMC Detusoko setelah melewati berbagai proses pelatihan, kursus, interview, seleksi dan persyaratan yang diminta. Sekarang sedang menyiapkan 4 orang untuk mengikuti program Bali Wise.
"Terima kasih kepada RMC Detusoko yang sudah memberikan bekal masa depan lewat keterampilan, pengetahuan dan kepercayaan untuk mengikuti program Bali Wise. Banyak ilmu, keterampilan dan rasa percaya diri selama mengikuti program ini. Kami juga diberikan beasiswa selama 6 bulan megikuti program ini. Selanjutnya kami diberi sertifikat dan rekomendasi untuk bisa bekerja di hotel, restauran, spa, agent travell, guide, dll sesuai keinginan kami. Semoga banyak anak muda yang mau belajar mandiri dan tidak lagi menjadi pengangguran," ungkap Novy Fai yang mengaku sambil bekerja dan membiayai kuliah dari usahanya ini.
Nando yang mengaku konsen dengan pariwisata dan pemberdayaan potensi lokal ini mengharapkan dukungan berbagai pihak baik pemerintah, swasta, pelaku usaha, kaum muda dan segenap elemen masyarakat agar dapat memanfaatkan arus wisata dengan mengembangkan usaha-usaha ekonomi kreatif dengan kualitas dan citarasa lokal yang khas.
"Apa yang menjadi potensi lokal selalu memberikan citarasa yang berbeda. Korodegalai, kopi detusoko, merupakan contoh kecil yang menunjukkan citarasa lokal. Semoga semakin banyak pihak yang tergerak terutama kawula muda. Mari kita berjuang menuju kemandirian lewat pintu pariwisata sehingga semakin banyak potensi lokal yang dapat dijual. Semoga sektor pariwisata terus bersinergi dengan sektor-potensial lain guna mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat," tandas Nando.
--- Guche Montero
Komentar