Breaking News

NASIONAL Sie Kok Liong, Pejuang Sumpah Pemuda Yang Dilupakan 21 Mar 2017 12:05

Article image
Sie Kok Liong, pejuang keturunan Tionghoa yang dilupakan. (Foto: ist)
Sie Kok Liong adalah salah satu orang keturunan Tionghoa yang dilupakan tapi ikut berperan secara tak langsung dalam Peristiwa Sumpah Pemuda di Gedung Kramat 106, Jakarta.

KONTRIBUSI warga keturunan Tionghoa dalam pergerakan menuju kemerdekaan Indonesia tidak banyak disebut, baik dalam penulisan sejarah resmi maupun ulasan popular di media massa. Bahkan, catatan sejarah keterlibatan mereka cenderung diabaikan atau dikaburkan.

Ketidaktahuan kita tentang sejarah pergerakan dan keterlibatan berbagai suku dan etnis di seluruh Indonesia termasuk Tionghoa membangkitkan sentimen seolah-olah hanya suku dan etnis tertentu di Indonesia yang memiliki hak istimewa sementara yang lain tidak, termasuk di antaranya hak berpolitik.

Sie Kok Liong adalah salah satu orang keturunan Tionghoa yang dilupakan tapi ikut berperan secara tak langsung dalam Peristiwa Sumpah Pemuda di Gedung Kramat 106, Jakarta.  

Dalam suasana tengah dijajah dan setiap gerak langkah para pejuang diawasi secara ketat, Sie Kok Liong berani menyediakan rumah menjadi tempat kos bagi para pejuang, seperti Muhammad Yamin, Aboe Hanifah, Amir Sjarifuddin, A.K. Gani, Mohammad Tamzil, dan Assaat dt Moeda pernah tinggal di sana.

"Perlu keberanian luar biasa untuk menyediakan tempat buat kelompok pergerakan pada masa itu," kata Ketua Umum Suara Kebangsaan Tionghoa Indonesia, Eddie Kusuma, dalam artikelnya berjudul Jejak Samar Bapak Kos Dokter Politik dari Timur di majalah Tempo, 2 November 2008.

Disebutkan dalam buku Bunga Rampai, 50 Tahun Soempah Pemoeda, rumah Sie Kok Liong seluas  460 meter persegi ini disewa anggota Jong Java karena kontrakan sebelumnya di Kwitang terlalu sempit untuk menampung kegiatan diskusi politik dan latihan kesenian. Anggota Jong Java dan mahasiswa lainnya menyebut gedung ini Langen Siswo.

Selama ini, tidak ada cacatan sejarah yang lebih detail tentang sosok Sie Kok Liong yang dengan gagah berani membiarkan rumahnya di Jalan Kramat No 106 yang dijadikan markas para pemuda dan kemudian tempat diselenggarakannya perhelatan besar, Kongres Pemuda II yang menghasilkan “Sumpah Pemuda 1928”.

Sie Kok Liong menyewakan rumahnya menjadi tempat kos seharga 12,5 gulden per orang setiap bulan, atau setara dengan 40 liter beras waktu itu. Sebagian besar penghuni kos Sie Kok Liong adalah pelajar Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (Stovia).

Selain Sie Kok Liong, ada empat pemuda keturunan Tionghoa yang ikut mengambil  bagian dalam Sumpah Pemuda 1928. Mereka adalah Kwee Thiam Hong, Ong Kay Sing, Liauw Tjoan Hok dan Tjio Djin Kwie.

Kwee Thiam Hong sebenarnya berprofesi sebagai pedagang tapi tertarik bergabung dalam pergerakan pemuda kala itu. Sebagai orang Palembang, Hong bergabung bersama perkumpulan Jong Sumatra.

Saat Sumpah Pemuda 1928, ia mengajak tiga rekannya, Ong Kay Sing, Liauw Tjoan Hok dan Tjio Djin Kwie.

Berdasarkan profil yang ditulis seorang wartawan dengan nama samaran Tjamboek Berdoeri, Kwee Thiam Hong mulai aktif dalam pergerakan dan hadir dalam Kongres Sumpah Pemuda II pada usia 19 tahun saat menghadiri Kongres Sumpah Pemuda II.

--- Simon Leya

Komentar