Breaking News
  • Defisit Lebih Rendah Dari Proyeksi APBN-P 2017
  • Menkeu: investasi tumbuh karena kepercayaan pelaku usaha
  • Penerimaan Bea Cukai hingga November Rp130,1 triliun
  • Presiden Jokowi setuju pendiri HMI jadi Pahlawan Nasional

SASTRA Sabtu, Awal Oktober (Puisi) 05 Oct 2016 14:47

Article image
Ilustrasi welcome october. (Foto: ist)
"Aku sadar, segelas kopi nyatanya tak menyelamatkan apapun..."

Oleh Frid Embu

 

 (I)

Pagi hari

Oktober baru mulai

Wajah ramah di halaman

Seperti bukan kau

Bukan kita lagi

Udara mati

Dingin mati

Aku sadar, segelas kopi nyatanya tak menyelamatkan apapun

 

Pagi hari

Mestikah kita ribut di halaman

Tentang wajah, bukan kita, dan kegagalan segelas kopi

Hanya karena Oktober baru mulai?

 

(II)

12:00

Aku coba menarik kembali tubuhmu

Membersihkan lebam bekas tinju di dahi

Menjauh dari kota

Dari asap dan ketakutan

Cerita

Hikayat kakek kubaca ulang

Sekedar mengajak kau tenggelam sekali lagi

Beberapa kali lagi

 

Kau bilang, kita selalu tak berdaya di laut pekat kenangan

Konon, tak ada yang mampu mengalahkannya

Siapapun!

Kau bilang, aku seharusnya jadi malam

Selalu berhasil meneguhkan kembali wajahnya

Tak peduli berapa lampu yang menampar

 

(III)

Apa yang terjadi setelah senja?

Aku tak tahu

 

Mungkin gadis Magdala yang bertobat

Mungkin kita meributkan jembatan yang runtuh kemarin malam, dekat pasar

Mungkin kita mulai menyiapkan gigi, lidah, dan nyanyian baru

Untuk menipu Tuhan lagi di esok hari

Mungkin tak terjadi apa-apa

Hanya merah gaunmu

Turun merayap sepanjang trotoar

Menutup lampu jalan

Biar gelap

Biar kacau

Biar asam

Seperti sajak basi yang jatuh dari matamu

 

Apa yang terjadi sesudah senja

Kita hanya bisa menunggu

Selain itu hanya berita duka di radio

Dan huru-hara di jalan

 

(IV)

Malam kembali

Seperti biasa kita tak belajar apa-apa

 

Dan

Tuhan entah kenapa

Kita tempatkan di sudut sempit

Yang belum sempat diisi lemari, kasur, dan bualan

 

Malam berulang

Wajahmu belum ku

Mataku tak kau

Kenangan dan petuah kita masukan kembali ke dalam kotak

 

Sabtu malam sesudah oktober

Mungkin sebaiknya tak ada lagi gelas kopi esok pagi

Bila wajah kita tak rela melepas pekat

Bila enggan belajar menyentuh sekali lagi

Dan terus melipat dalam gelap

(2016)

 

*) Penulis adalah alumnus STFK Ledalero. Buku kumpulan puisi pertama terbit dengan “1 Hari Lelaki” (Penerbit Pena House/2016)

Komentar