Breaking News

REGIONAL Sanggar Musik Waturaka Kembangkan Alat Musik Tradisional Sato 05 Nov 2017 00:15

Article image
Sanggar Musik Waturaka Ende saat menampilkan musik Sato (Foto:Ist.)
Justru dengan dikembangkannya musik Sato ini, banyak wisatawan yang berkunjung ke desa Waturaka bahkan ada yang menginap untuk belajar bagaimana cara memainkan musik Sato.

ENDE, IndonesiaSatu.co-- Selain dinobatkan sebagai desa wisata terbaik kategori alam oleh Kementerian Desa, Pembangungan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi beberapa waktu lalu, Waturaka yang terletak di kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende juga memiliki alat musik tradisional, Sato. Kekhasan alat musik gesek Sato menyerupai biola ini terus dikembangkan oleh kelompok sanggar musik Mutulo’o, Waturaka dalam berbagai seremoni adat, event seni dan budaya tingkat kabupaten hingga ditampilkan di hadapan para wisatawan yang berkunjung ke Danau Kelimutu.

“Meski tidak setenar alat musik lain, alat musik Sato memiliki keunikan bagi kami. Bahannya terbuat dari buah labu hutan (bila) dan dawai dari serat daun lidah buaya yang sudah dikeringkan lalu dijalin dengan getah kenari. Seperti halnya biola, alat gesek pada Sato berbentuk busur kecil dengan tali dari bahan ijuk. Perpaduan dari bahan-bahan ini akan menghasilkan bunyi yang khas. Dahulu, alat musik Sato ini dimainkan sendirian untuk mengusir kesepian di tengah kebun atau di rumah. Sato juga biasa dimainkan secara bersamaan pada saat ritual adat,” ungkap Marselinus Satu, pelatih sekaligus pemain musik Sato, Sabtu (4/11/17).

Ia menjelaskan bahwa proses pembuatan alat musik Sato tidak semudah yang dibayangkan. Selain bahannya cukup langka, hanya sebagian orang tua yang memiliki keahlian khusus membuat alat musik ini.

“Tidak semua labu bisa dipakai tetapi labu hutan yang masih dijumpai di kawasan sekitar desa Waturaka. Labu hutan yang diambil biasanya sudah tua, dibelah dan dibuang isinya lalu dikeringkan hingga berwarna kecokelatan. Orang tua yang memiliki keahlian khusus dalam pembuatan Sato ini bisa menentukan jenis labu terbaik dengan bunyi yang khas dan bervariasi. Labu hutan ini juga dapat digunakan sebagai wadah untuk menyimpan air maupun sirih pinang oleh para ibu,” lanjutnya.

Dikatakannya, meski pun memiliki kemiripan dengan alat musik biola, tidak semua orang bisa memainkan alat musik Sato. Hingga kini para pemain Sato masih didominasi oleh orang tua.

“Pemain musik Sato idealnya terdiri dari enam orang. Namun dalam pementasan, jumlah pemain bisa bertambah termasuk para penyanyi dan penari dari kalangan para ibu. Apabila dipadukan secara baik antara pemain musik, penyanyi dan penari, maka akan menghasilkan orkestra musik tradisional Sato. Sejauh ini masih dikembangkan oleh kelompok sanggar musik yang ada di desa Waturaka sendiri. Kami sangat yakin, jika terus dikembangkan dan dijaga secara baik, musik Sato ini akan menjadi suatu kekhasan dan kebanggaan bagi musik tradisional etnis Ende-Lio,” yakinnya.

Sementara Robert Lele, salah seorang penggagas sanggar seni dan budaya Waturaka mengatakan bahwa dalam setiap penampilan dan pertunjukkan musik Sato, selalu ditunjukan kekhasan daerah Ende Lio baik pemain musik, penyanyi maupun penari.

“Agar terlihat elegan dengan kekhasan etnik, para pemain musik Sato yang terdiri dari kaum lelaki mengenakan kain, selendang dan desta dari tenun ikat motif khas Waturaka. Sementara para perempuan selaku penyanyi dan penari juga mengenakan sarung kain tenun, baju merah bersulam dan rambut disanggul,” kata Robert.

Menurutnya, keunikan budaya lokal dan nilai-nilai tradisional perlu ditunjukkan agar dikenal oleh semua orang terutama generasi muda yang sudah mengikuti arus modernisasi.

“Apa yang kami tunjukan dan tampilkan berangkat dari potensi dan kearifan budaya lokal. Alhasil banyak wisatawan asing yang menyukai hal-hal yang bersifat lokal atau atraksi lokal yang diperlihatkan oleh masyarakat di kampung (desa) termasuk musik Sato yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya. Jangan sampai kekhasan dan kekayaan budaya lokal ditinggalkan atau diabaikan. Justru dengan dikembangkannya musik Sato ini, banyak wisatawan yang berkunjung ke desa Waturaka bahkan ada yang menginap untuk belajar bagaimana cara memainkan musik Sato,” tuturnya.

Dampak arus wisata Danau Kelimutu

Kemauan dan komitmen untuk mengembangkan alat musik tradisional Sato tidak terlepas dari kesadaran masyarakat setempat akan potensi wisata alam Waturaka yang tergolong strategis dan memikat para wisatawan selain berkunjung ke Danau Kelimutu. Kesadaran itu kemudian membentuk kelompok sadar wisara (pokdarwis) desa Waturaka, sanggar seni dan budaya, pengrajin dan pegiat tenun ikat serta berbagai atraksi lokal yang bisa mengundang minat para wisatawan baik domestik maupun manca negara.

“Kami melihat banyak potensi lokal di desa ini yang perlu dikembangkan secara optimal seiring arus wisata ke Danau Kelimutu yang terus meningkat setiap tahun. Salah satu yang mulai dikenal melalui sanggar seni yakni musik Sato. Sejauh ini, hanya di desa Waturaka ini yang memiliki kekhasan musik Sato. Ini yang perlu dijaga dan dikembangkan bahkan harus diwariskan kepada generasi muda. Diharapkan, musik Sato layaknya sebuah orkestra, dapat berkolaborasi dengan para penyanyi dan penari juga alat musik lain seperti suling, gambus, okulele, gong dan gendang. Pemerintah desa mendukung segala kreativitas dan inovasi yang berangkat dari potensi yang ada di daerah,” ujar Kepala Desa Waturaka, Aloysius Jira Loi.

Ia mengakui bahwa perlahan-lahan masyarakat di sekitar objek wisata Danau Kelimutu mulai merasakan dampak dari arus wisata.

“Danau Kelimutu tentu menjadi pintu masuk wisata. Daerah Moni mulai membangun homestay, hotel dan layanan travel. Demikian juga desa Waturaka terus mendorong agar ada hal menarik yang dapat menarik para wisatawan selain Danau Kelimutu. Sejauh ini kami mulai merasakan dampak dari wisata,” ungkapnya.

Ia mengharapkan agar dampak wisata Danau Kelimutu dapat menyentuh potensi-potensi lokal yang ada di desa-desa di sekitar objek wisata. Secara khusus, generasi muda harus menjadi pelaku dan pegiat wisata melalui kreativitas, inovasi dan kompetensi melalui ilmu maupun keterampilan khusus guna menangkap peluang wisata.

"Generasi muda harus menjadi penggerak dan pegiat wisata. Anak muda jangan jadi penonton. Potensi wisata kita sudah dikenal dunia," pungkasnya.

 

--- Guche Montero

Komentar