Breaking News

HUKUM Firma Hukum Veritas Dignitas Salus (VDS Law Firm): Apa dan Siapa? 17 Jun 2026 08:31

Article image
Logo resmi Firma Hukum Veritas Dignitas Salus (VDS Law Firm) (Photo: SandyUdika/ IndonesiaSatu.co)
Kami bekerja berdasarkan prinsip dan nilai yang tertanam dan terpancar dari nama firma hukum ini. Veritas artinya kebenaran. Dignitas berarti martabat, kehormatan. Salus bermakna keselamatan, perlindungan.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Pendiri dan salah satu advisor senior Firma Hukum "Veritas Dignitas Salus" (FH VDS) Valens Daki-Soo mengatakan, sejak mulai bergerak tahun 2015 Firma Hukum VDS sudah menangani sejumlah kasus besar dan kecil.

Kasus besar, misalnya, membantu dan membela kepentingan warga Telukjambe Karawang, Jawa Barat, yang 350 hektare tanah mereka dicaplok oleh sebuah perusahaan raksasa properti. FH VDS berhasil membela masyarakat yang dirugikan sehingga grup usaha tersebut tidak bisa membangun apapun di atas tanah sengketa itu. Padahal, grup raksasa itu mulanya sudah merencanakan pembangunan pusat bisnis dan sebagainya di lahan tersebut.

Hal itu dikisahkan Valens kepada media, Rabu (17/6/2026).

"Kasus sengketa tanah di Telukjambe Karawang itu adalah ujian berat bagi kami. Karena kami menghadapi kekuatan besar yang adalah salah satu raksasa nasional di dunia bisnis properti. Klien kami sempat menggunakan beberapa pengacara hebat dan bernama besar tetapi belum efektif atau gagal. Lahan pun tidak bisa dimasuki karena dijaga ratusan preman berpakaian sekuriti/satpam. Namun, kami bisa masuk lalu memediasi pertemuan para pihak sehingga dialog pun terbuka. Itulah bukti kebenaran bisa menang," tutur Valens yang juga pengusaha, pendiri PT Veritas Dharma Satya dan PT Veritas Media Bangsa.

"Pro Bono" Bagi Rakyat Kecil

Menurut Valens, FH VDS tidak hanya bergerak dalam kasus besar. Sudah sering pula kasus-kasus yang menimpa orang kecil tak berdaya diadvokasi. Ketika membela orang-orang kecil, FH VDS tidak meminta dan tidak menerima bayaran apapun.

Misalnya, FH VDS pernah membantu secara "pro bono" (artinya gratis, tanpa bayaran demi kebaikan) bagi perempuan di bawah umur yang menjadi korban kekerasan seksual di Ngada, Flores. Pelakunya sempat menganggap dirinya tak bisa tersentuh hukum karena mengklaim dirinya dekat dengan pejabat daerah.

Ada pula kasus seorang perempuan janda di Bajawa, Flores, yang tanahnya dirampas secara amat licik. Kasus tersebut kini tengah menunggu putusan PK di Mahkamah Agung. Dalam kasus ini FH VDS tidak menerima imbalan apapun, bahkan justru membantu membiayai urusan hukum dan keperluan terkait dari perempuan yang dirugikan itu hingga membawanya ke Jakarta.

"Kami bekerja berdasarkan prinsip dan nilai yang tertanam dan terpancar dari nama firma hukum ini. Veritas artinya kebenaran. Dignitas berarti martabat, kehormatan. Salus bermakna keselamatan, perlindungan. Jadi, kita tidak hanya berorientasi mencari uang semata, tetapi juga menjunjung dan menerapkan prinsip dan nilai-nilai itu," ujar Valens.

Jauh sebelum mendirikan PT VDS tahun 2012 bahkan hingga hari ini, sejak 1998 Valens adalah staf khusus Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri yang pernah menjabat Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad). Sejak 2001 Valens juga menjadi staf khusus Komjen Pol Gories Mere, pendiri Densus 88/Antiteror Polri.

Kekuatan Kolektif

Valens menambahkan, kekuatan FH VDS terletak dan bertumpu pada kekuatan bersama, spirit kolektif, jaringan yang dibangun secara lokal maupun nasional, dan visi luhur untuk membela kebenaran (veritas), martabat (dignitas) dan keselamatan (salus) sesama.

Sejak berdirinya, kiprah FH VDS digerakkan oleh para lawyer muda yakni Ryano Djogo, SH, Bram Ala Aka, SH, Christian da Cunha, SH (kini anggota DPRD Sikka, NTT) bersama advokat senior Marihot Siaahan, SH, MH. Sempat bergabung juga Yosef Djuwa Dobe Ngole, SH, MH dan Devy Yanti, SH, MH. Saat ini sudah bergabung pula advokat muda Ali Nugroho, SH, MH, Sultan Tuzagugu, SH dan Elmo Woe, SH.
Para lawyer ini diperkuat oleh dukungan dua intelektual yang memberikan input non hukum agar suatu kasus dapat dilihat secara komprehensif-integral. Keduanya adalah Simon Leya, SFil, MM dan Rikard Mosa Dhae, MA.

Di barisan advisor senior ada nama yang bereputasi tinggi seperti mantan Kepala BNN Komjen Pol (Purn) Gories Mere, mantan Deputi Pemberantasan BNN Irjen Pol (Purn) Tommy Sagiman (kini almarhum), mantan Sestama BNN Irjen Pol (Purn) Nicolaus Eko Riwayanto.*

--- Hendrik Penu

Komentar