Breaking News

INTERNASIONAL Balas AS, Iran Serang Fasilitas Militer di Bahrain dan Kuwait 08 Jul 2026 20:47

Article image
Iran serang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait. (Foto: AFP)
"Mereka menyerang 85 fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait, sekaligus menembak jatuh sebuah drone MQ-9," kata IRGC.

TEHERAN, IndonesiaSatu.co-- Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeklaim telah menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat (AS) di Bahrain dan Kuwait pada Rabu (8/7/2026).

Serangan itu disebut sebagai balasan atas operasi militer AS yang sebelumnya menghantam puluhan target Iran di wilayah pesisir.

Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, IRIB, IRGC menyebut serangan dilakukan oleh pasukan angkatan laut dan udara mereka.

"Sebagai respons awal pada agresi itu, Angkatan Laut dan Angkatan Udara IRGC melakukan operasi gabungan rudal dan drone. Mereka menyerang 85 fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait, sekaligus menembak jatuh sebuah drone MQ-9," kata IRGC.  

Menurut laporan Al Jazeera, IRGC menyebut Iran serang Bahrain dan Kuwait yang menyasar pangkalan Armada Kelima AS di Bahrain dan Pangkalan Udara Ali Al-Salem di Kuwait.

IRGC menyatakan, operasi tersebut merupakan "respons awal" atas apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran gencatan senjata dan kesepakatan oleh Amerika Serikat. 

AS Sebut Hantam Lebih Dari 80 Target Iran

Sebelumnya, Komando Pusat AS atau Centcom mengatakan, pihaknya telah menyerang lebih dari 80 target di Iran pada Selasa malam. Target tersebut termasuk lebih dari 60 kapal kecil milik IRGC. 

Serangan AS disebut menghantam sejumlah wilayah, termasuk Bandar Abbas dan Sirik. Media pemerintah Iran melaporkan, beberapa orang terluka akibat pecahan peluru dalam serangan tersebut.

Washington menyebut operasi itu dilakukan setelah terjadi serangan terhadap tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz.

Hingga kini, serangan terhadap kapal tanker tersebut belum diklaim secara langsung oleh Iran, dikutip dari BBC. 

NATO Sebut Serangan AS Diperlukan 

Kepala NATO, Mark Rutte sebelumnya menyatakan bahwa serangan AS terhadap Iran "benar-benar diperlukan". 

Rutte menuduh Iran pada dasarnya telah melanggar gencatan senjata setelah adanya serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut.

Namun, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membantah tuduhan itu.

Ia justru menuding Amerika Serikat sebagai pihak yang melanggar nota kesepahaman atau MoU yang sebelumnya telah disepakati. Menurut Ghalibaf, AS melanggar kesepakatan tersebut dengan mengabaikan penyesuaian Iran di Selat Hormuz.

Pada bulan lalu, Teheran dan Washington menandatangani MoU setebal 14 halaman. Kesepakatan itu disebut bertujuan memperpanjang gencatan senjata dan mengakhiri konflik "di semua lini".

Namun, ketegangan kembali meningkat setelah AS melancarkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan Iran di kawasan pesisir serta stasiun non-militer di Hormozgan dan Mahshahr.

Iran kemudian membalas dengan mengklaim menyerang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait.

--- Guche Montero

Komentar