Breaking News

SASTRA Belajar Setia (Cerpen) 09 Mar 2016 11:00

Article image
Gambar Ilustrasi (Foto: liputan6.com)
Karena tidak ada seorangpun yang bisa membantu kita keluar dari kesulitan, kecuali diri kita sendiri.

Oleh: Erlin Lasar*

 

Saat kecil dulu, di bangku Sekolah Dasar, saya selalu tidak terima kalau Ayah kami menolak mengantar kami dengan naik sepeda motor kalau kami bangun kesiangan dan terlambat berangkat ke sekolah. Saya dan adik-adik bersekolah di SD yang sama, yang berjarak kurang dari satu kilometer dari rumah. Pelajaran dimulai tepat pukul 07.00. Artinya, kalau tidak ingin terlambat sampai di depan pintu gerbang sekolah, kami harus berangkat dari rumah paling lambat lima belas menit sebelumnya. Tetapi tidak jarang saya atau adik-adik bangun terlalu siang. Akibatnya “upacara” persiapan kami belum selesai bahkan selepas pukul 06.50.Ayah kami bekerja sebagai seorang guru di sebuah Sekolah Menengah. Karena beliau bukan guru wali kelas, kadang beliau memang tidak diharuskan berangkat sebelum pukul 07.00. Maka sebenarnya Ayah selalu masih ada di rumah ketika kami akan berangkat ke sekolah. Sayangnya, Ayah tidak pernah mau mengantar kami dengan membonceng sepeda motornya, kalau kami memang sudah terlambat. Bagi beliau justru sebaliknya, kami boleh membonceng sepeda motornya kalau kami telah siap sebelum terlambat. Jika kami ternyata akan terlambat, beliau akan dengan tegas menyuruh kami berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Menurutnya, kami harus menanggung sendiri resiko terlambat itu. Membonceng kami dengan sepeda motor memang akan lebih menghemat waktu, tetapi tetap saja kami akan terlambat tiba di sekolah. Maka baginya, jalan kaki atau naik motor akan sama saja. Maka kami tetap harus bertanggungjawab terhadap keterlambatan itu. Setidaknya, guru kami tidak akan merasa aneh mengapa kami harus terlambat padahal berangkat dengan naik sepeda motor. Begitu biasanya Ayah menyodorkan pembelaan akan prinsipnya.

Biasanya, tepat pukul 07.00 gerbang sekolah akan ditutup dan siswa yang terlambat hanya bisa masuk ke sekolah lewat pintu gerbang di sisi lain sekolah,dari arah mata angin sebaliknya. Artinya, kami masih harus berjalan mengitari kompleks sekolah yang bergabung dengan tingkat sekolah menengah itu untuk bisa masuk lewat gerbang lain tersebut.Alhasil, kami akan tiba di kelas semakin terlambat. Ibu yang oleh cintanya kepada kami anak-anaknya sering merasa kasihan dan turut memrotes, Ayah tidak bergeming. Kalau kami terlambat, beliau tidak akan bersedia mengantarkan kami dengan sepeda motornya.

Maka, sejak mulai sekolah, akibat prinsip Ayah itu, terlambat berangkat dari rumah kemudian menjadi hal yang paling tidak mengenakan bagi saya. Mungkin juga bagi adik-adik saya. Tetapi sebagai anak kecil, kami seolah selalu punya alasan untuk terlambat bersiap ke sekolah. Maka meski sudah tahu resikonya, kadang kami tidak bisa begitu saja dengan mudah menghindari kebiasaan terlambat itu. Meskipun demikian, Ayah kami tetap dengan pendiriannya, bahkan sampai saya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Saat jarak sekolah semakin jauh, dan waktu masuk pagi jauh lebih ketat, Ayah tetap memberlakukan aturan yang sama. Meski dengan rasa kesal a la anak ingusan, sampai perasaan ingin memberontak a la remaja sekolah menengah, saya dan adik-adik tetap saja menjalankannya. Kami masih sering terlambat berangkat, dan masih tetap menjalankan prinsip Ayah tersebut.

Saat kuliah, saya tidak lagi tinggal di rumah orangtua. Waktu perkuliahan di hari efektif pun bisa sangat fleksibel. Tidak semua mata kuliah dimulai tepat pukul 7 pagi. Gerbang kampus tidak pernah ditutup untuk mahasiswa yang terlambat. Dosen pun tidak pernah memanggil orangtua dari mahasiswa yang sudah lebih dari tiga kali terlambat masuk kelas atau bahkan bolos kuliahnya. Melirik nama mahasiswanya di kertas absen pun hanya pada hari ujian. Saya pun, sejak semester satu bukan tidak pernah terlambat masuk ke kelas, jam berapa pun kuliahnya dimulai. Sebagai seorang mahasiswa yang juga mengikuti banyak kegiatan lain, saya tetap tidak luput dari potensi terlambat saat ikut kuliah. Tetapi semakin saya menjalani semester-semester akhir masa studi di Universitas, saya semakin sadar betapa berharganya pengalaman dengan prinsip Ayah kami dahulu itu. Saya menyadari bahwa saya dengan mudahnya menjadi sangat setia terhadap segala sesuatu yang saya pilih. Apa pun resikonya, saya tidak pernah merasa terpaksa untuk menghadapinya. Tidak oleh aturan, tidak juga oleh hal lainnya. Prinsip sederhana Ayah kami yang sempat membuat kesal dan kecewa sepanjang duduk di bangku sekolah itu ternyata berdampak besar.

Kini, dari berbagai sumber yang saya baca, dengar dan lihat, saya tahu bahwa dunia semakin tinggi tuntutannya. Tuntutan akan persaingan, kompetensi dan keterampilan semakin hari semakin meningkat saja. Tidak cukup hanya punya titel sarjana atau titel lain yang lebih tinggi tingkatannya. Selesai kuliah, kita akan dituntut untuk segera mendapatkan pekerjaan. Setelah punya pekerjaan, kita dituntut untuk bisa menjalankannya dengan baik. Padahal jelas, bertahun-tahun di bangku sekolah, tidak ada satupun mata pelajaran atau mata kuliah yang mengajari kita bagaimana mendapatkan pekerjaan, menjalankan dan lalu mencintainya.

Sebentar lagi, saya akan menamatkan sekolah di Universitas sebagai seorang sarjana. Dan, mungkin, seperti banyak calon sarjana lainnya, saya mulai merasakan aura kompetisi yang melambai dari depan sana. Sedikit banyak lambaian itu menggentarkan jua. Banyak orang bilang mencari pekerjaan setelah lulus kuliah itu amatlah susah. Saya kira saya setuju. Tapi saya kira saya harus siap untuk itu. Karena kesulitan tidak pernah berhenti. Kesulitan tidak saja hanya akan ada saat kita sekolah, atau bekerja. Selama kita hidup, kita akan berhadapan dengan kesulitan. Saya kira prinsip ayah dahulu mengajarkan saya dan adik-adik bagaimana setia dan bertahan.Dengan menyiapkan diri, memprediksi resiko dan berani menghadapi konsekuensi, persaingan di dunia apa pun itu, sekolah, kuliah atau kerja, bisa jadi tidak begitu menakutkan lagi. Setidaknya dari hasil menjalankan prinsip Ayah dulu itu, kini saya tahu saya akan setia, pada apa pun yang telah menjadi pilihan saya. Betapa pun sulitnya persaingan setiap hari, saya akan mengenali resikonya dan bisa berusaha setia menjalaninya.

Seperti prinsip Ayah saya soal terlambat sekolah itu. Kalau sudah tahu akan terlambat, jalankan konsekuensinya. Karena tidak ada seorangpun yang bisa membantu kita keluar dari kesulitan, kecuali diri kita sendiri.

 

 

*) Erlin Lasar, cerpenis. Tinggal di Yogyakarta.

Tags:
ayah bunda

Komentar