Breaking News

SENI BUDAYA Bohemian dari Mataloko: Ketika Nada Menjadi Warta 24 May 2025 18:01

Article image

MATALOKO, IndonesiaSatu.co - Bagi sebuah komunitas rohani seperti Seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko, keheningan, doa, dan kehidupan liturgis adalah denyut utama keseharian. Namun di tengah dunia yang terus berubah, panggilan imamat tak hanya dipupuk lewat buku dan kapel. Ia perlu menyapa dunia, berbicara dalam bahasa zaman, dan berdialog lewat ekspresi yang dimengerti generasi muda. Inilah semangat yang dibawa oleh Berkhmawan Band ketika mereka menerima undangan untuk tampil dalam Lomba Band Pelajar di UNIKA St. Paulus Ruteng.

Lebih dari sekadar kompetisi, keikutsertaan ini menjadi peristiwa formasi, katekese melalui seni, dan pengutusan ke tengah dunia sekuler. Bukan tanpa pertimbangan panjang, Berkhmawan Band memutuskan untuk memilih tantangan besar dan berani: membawakan lagu “Bohemian Rhapsody” karya Queen—salah satu karya paling ikonik, rumit, dan simbolik dalam sejarah musik dunia.

Mengapa lagu itu?

Karena “Bohemian Rhapsody” adalah karya seni, bukan sekadar lagu. Ia adalah cermin jiwa yang bergulat, penuh kejujuran, ketegangan, dan pencarian makna. Dan seperti hidup panggilan, lagu ini membawa pendengarnya dari keheningan, melalui tragedi, hingga pada klimaks kebebasan dan perenungan. Meski tidak memiliki lirik rohani eksplisit, lagu ini justru membuka ruang kontemplasi bagi siapa saja yang mendengarnya. Itu sebabnya Berkhmawan Band memilih lagu ini sebagai bentuk dialog iman dan budaya.

Perjalanan Menuju Panggung

Persiapan dimulai beberapa hari sebelum lomba. Di balik pintu-pintu asrama dan ruang musik kecil seminari, mereka memecah lagu itu bagian demi bagian. Dari harmoni vokal yang rumit, transisi tempo yang mendadak, hingga emosi yang harus dikelola dalam setiap lirik. “Bohemian Rhapsody” bukan lagu biasa. Dibutuhkan keberanian, kedisiplinan musikal, dan kedewasaan emosional untuk membawakannya.

Di sinilah semangat formasi muncul. Setiap latihan menjadi latihan karakter: belajar rendah hati saat salah nada, belajar saling mendukung, belajar mendengar, dan belajar mempersembahkan yang terbaik bukan untuk tepuk tangan, tetapi untuk melayani seni dan kebenaran yang dikandungnya.

Di bawah bimbingan para guru dan pembina Berkhmawan Band, para seminaris bukan hanya berlatih sebagai band, tapi sebagai komunitas pewarta yang menggunakan musik sebagai sarana evangelisasi dan komunikasi iman.

Hari itu di UNIKA Ruteng

Tiba di UNIKA St. Paulus Ruteng, atmosfernya jauh berbeda dari kapel atau aula Mataloko. Sorot lampu, riuh penonton, dan gaya band pelajar lain yang tampil dengan musik cadas, pop alternatif, dan nuansa kebebasan muda, sempat membuat para seminaris merasa kecil. Tapi dalam hati, mereka membawa sesuatu yang besar: makna, misi, dan iman.

Ketika giliran tampil tiba, suasana berubah.

Intro piano khas “Bohemian Rhapsody” mulai terdengar. Penonton yang sebelumnya ramai, mulai diam. Mereka penasaran. Beberapa tahu lagu ini, tetapi tak menyangka lagu ini dibawakan oleh band seminari.

Dengan harmoni yang bersih, permainan gitar yang solid, drum yang dinamis, dan vokal yang penuh perasaan, Berkhmawan Band membawakan lagu itu dengan interpretasi yang khas: bukan untuk memamerkan kemampuan, tapi untuk menyampaikan pergulatan batin manusia di hadapan misteri kehidupan.

Bagian “Is this the real life? Is this just fantasy?” menjadi seperti pertanyaan eksistensial yang diajukan bukan hanya oleh Freddie Mercury, tapi oleh siapa pun yang mencari makna hidup, termasuk para seminaris yang sedang memaknai panggilan suci.

Ketika lagu selesai, ruangan kembali hening sejenak—bukan karena tidak mengapresiasi, tetapi karena terpukau dan tercengang. Lalu tepuk tangan pecah, bukan hanya karena mereka berhasil secara teknis, tetapi karena mereka berhasil menyampaikan jiwa.

Pasca Penampilan

Mereka tak membawa pulang trofi juara. Tapi mereka membawa pengalaman yang jauh lebih besar: menjadi saksi di tengah dunia. Mereka telah menunjukkan bahwa menjadi seminaris adalah juga menjadi saksi iman yang bisa berbicara lewat musik pop, bahkan dalam karya yang tak secara eksplisit religius.

Mereka juga telah menantang stigma—bahwa seni sekuler tak bisa menjadi media pewartaan. Justru, dengan membawa karya Queen ke atas panggung, mereka menunjukkan bahwa kekristenan tidak anti budaya, melainkan berani berdialog, menyerap, dan mentransformasi.

Bagi mereka pribadi, momen itu menjadi tonggak formasi:keberanian keluar dari zona nyaman, ketekunan dalam latihan dan disiplin, ketulusan berkarya tanpa ambisi pribadi. Dan yang paling penting: d.semangat pewartaan di ruang yang tak biasa.

Kembali ke Mataloko, mereka tak hanya kembali sebagai band yang pernah tampil di lomba. Mereka kembali sebagai penabur benih budaya dialog. Generasi berikutnya belajar dari pengalaman ini, bahwa musik adalah jembatan—antara iman dan dunia, antara seminari dan publik, antara panggilan dan zaman.

Bohemian Rhapsody mungkin telah berlalu di panggung itu, tetapi gaungnya tetap hidup dalam kenangan dan inspirasi. Dan Berkhmawan Band, dalam keberanian dan kesetiaannya, telah menorehkan sejarah kecil namun bermakna: bahwa dari lembah Mataloko, suara panggilan bisa menggema hingga ke ujung dunia—dengan nada, dengan nyanyi, dan dengan iman. ***

Oleh : RD Klemens Raymundus Neno Nage

Komentar