Breaking News

KESEHATAN Cegah Gagal Ginjal Permanen, Kelainan Saluran Kemih Anak Kini Bisa Dideteksi Sejak Janin 05 Jun 2026 10:36

Article image
Ketepatan waktu dalam melakukan deteksi dini ini menjadi krusial. Pasalnya, keterlambatan diagnosis berisiko tinggi memicu kerusakan ginjal permanen yang akan berdampak buruk pada kualitas tumbuh kembang anak hingga usia dewasa.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co – Banyak orang tua mengira gangguan organ ginjal pada anak baru dapat diidentifikasi secara medis setelah bayi dilahirkan. Padahal, sejumlah kelainan saluran kemih dan ginjal bawaan (urologi kongenital) sebenarnya sudah bisa dideteksi sejak masa janin melalui pemeriksaan kehamilan secara rutin.

Ketepatan waktu dalam melakukan deteksi dini ini menjadi krusial. Pasalnya, keterlambatan diagnosis berisiko tinggi memicu kerusakan ginjal permanen yang akan berdampak buruk pada kualitas tumbuh kembang anak hingga usia dewasa.

Dokter Spesialis Bedah Anak Konsultan Urologi Anak yang berpraktik di Primaya Evasari Hospital dan Primaya Hospital PGI Cikini, dr. Ronald Sorongku, Sp.BA, Subsp.U.A (K), FIAPS, memaparkan bahwa lompatan teknologi pencitraan medis saat ini telah memungkinkan berbagai kelainan anatomi bawaan dikenali secara akurat di dalam kandungan.

"Banyak kelainan saluran kemih dan ginjal pada anak sebenarnya sudah bisa diketahui sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan khusus USG fetomaternal. Semakin dini kondisi ini terdeteksi, semakin besar peluang untuk mencegah kerusakan ginjal permanen dan mempertahankan fungsi ginjal anak dalam jangka panjang," jelas dr. Ronald dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (5/6/2026).

Fenomena Hidronefrosis Kongenital pada Janin

Salah satu kasus kelainan saluran kemih bawaan yang paling kerap ditemukan pada masa janin melalui USG kehamilan adalah hidronefrosis kongenital, yaitu kondisi terjadinya pelebaran pada organ ginjal akibat adanya hambatan atau gangguan pada aliran urine.

Kendati terdengar mengkhawatirkan, dr. Ronald meminta para orang tua untuk tidak langsung panik saat menerima diagnosis pembengkakan ginjal pada janinnya.

"Tidak semua temuan hidronefrosis memerlukan tindakan operasi. Penting untuk melakukan pemantauan yang tepat, evaluasi fungsi ginjal secara berkala, dan menentukan waktu intervensi yang sesuai bila memang diperlukan," ungkapnya.

Pasca-persalinan, tim medis akan melakukan evaluasi berkala lanjutan untuk mengukur tingkat keparahan gangguan. Serangkaian metode diagnostik yang disiapkan meliputi USG traktus urinarius, renogram atau skintigrafi ginjal, serta pemeriksaan radiologi komprehensif lainnya sesuai indikasi klinis bayi.

Urgensi Penanganan Lintas Multidisiplin

Lebih jauh, dr. Ronald menekankan bahwa tata laksana penanganan kelainan urologi anak tidak boleh dilakukan secara parsial atau terpisah. Penanganan ideal harus mengadopsi pendekatan multidisiplin yang mengintegrasikan keahlian dokter spesialis fetomaternal, obstetri dan ginekologi (obgyn), neonatologi, radiologi, bedah anak, urologi anak, hingga tim rehabilitasi medik.

Sinergi lintas disiplin ini memungkinkan rancangan penanganan medis dirumuskan sejak masa kehamilan, penentuan metode persalinan, hingga pengawasan tumbuh kembang pasca-lahir. Deteksi prenatal juga memberikan indikator valid bagi dokter untuk memantau volume cairan ketuban serta kesehatan kandung kemih janin.

“Ketika kelainan sudah diketahui sejak dalam kandungan, orang tua memiliki waktu untuk memahami kondisi anaknya, memilih fasilitas kesehatan yang tepat, serta mempersiapkan langkah penanganan sejak awal. Ini akan memberikan hasil yang jauh lebih baik dibandingkan jika diagnosis baru diketahui setelah muncul komplikasi," pungkasnya.

Melalui momentum peningkatan kesadaran kesehatan preventif, pemeriksaan kehamilan berkala kini diposisikan bukan sekadar alat pantau berat badan janin, melainkan instrumen proteksi dini penentu masa depan anak. ***

--- Maria Aurelia

Komentar