Breaking News

INTERNASIONAL China Kirim Kapal Perang Buntuti Kapal Tempur AS “USS Charleston” di Laut China Selatan 21 Oct 2026 16:12

Article image
Peta kawasan sengketa di Laut China Selatan. (Foto/Image: BBC)
Laut China Selatan menjadi wilayah rawan konflik sejak klaim China atas hampir seluruh perairan tersebut yang juga diklaim oleh sejumlah negara Asia Tenggara, terutama Filipina, sebagai wilayah teritorialnya.

BEIJING, IndonesiaSatu.co – Pemerintah China mengerahkan kapal Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) untuk membuntuti kapal perang Amerika Serikat “USS Charleston” yang dituding memasuki perairan sengketa di Laut China Selatan tanpa izin pada Selasa (20/10/2026).

Dilansir DPA, Rabu (21/10/2026), Juru bicara Komando Armada Selatan Angkatan Laut PLA Yin Gang mengatakan, USS Charleston secara ilegal memasuki perairan sekitar Sabina Shoal "tanpa izin" dari otoritas China.

Kawasan Sabina Shoal, yang dikenal sebagai Xianbin Jiao di China dan Escoda Shoal di Filipina, terletak sekitar 145 kilometer di barat laut Pulau Palawan, Filipina. Wilayah tersebut menjadi salah satu titik utama perselisihan kedua negara itu sejak 2024.

Pejabat di Beijing menegaskan, pergerakan kapal perang AS tersebut dinilai sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan China dan dapat mengganggu stabilitas kawasan.

Pemerintah China juga menegaskan kembali prinsip "kedaulatan yang tidak terbantahkan" atas Kepulauan Spratly di Laut China Selatan.

Disebutkan, aktivitas tanpa izin dan koordinasi militer AS di kawasan tersebut dapat "merugikan perdamaian dan stabilitas regional".

Pihak Beijing mendesak otoritas di Washington agar segera menghentikan kegiatan tersebut.

Akan tetapi, militer Filipina membantah tuduhan Beijing bahwa kapal AS tersebut melanggar wilayah China.

Juru bicara militer Filipina, Vincent Trinidad, menegaskan tidak ada negara yang berhak mewajibkan kapal memperoleh izin terlebih dahulu untuk melintasi perairan internasional secara sah di Laut China Selatan.

Kawasan Laut China Selatan menjadi wilayah rawan konflik sejak klaim China atas hampir seluruh perairan tersebut yang juga diklaim oleh sejumlah negara Asia Tenggara, terutama Filipina, sebagai wilayah teritorialnya.

--- Aprilio G.