INTERNASIONAL Dua Kapal Yang Mengangkut Rohingnya Tenggelam, Diperkirakan 500 Orang Meninggal 17 Jul 2026 12:41
Terjadinya peristiwa tersebut dan jumlah pasti korban kecelakaan masih belum dinyatakan secara resmi.
Myanmar, IndonesiaSatu.co – Tragedi kemanusiaan kembali menimpa komunitas Rohingya. Lebih dari 500 orang yang sebagian besar merupakan pengungsi etnis Rohingya diduga meninggal dunia setelah dua kapal yang mereka tumpangi tenggelam di perairan Myanmar dalam beberapa pekan terakhir.
Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) bersama Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dalam pernyataan bersama yang dirilis pada Kamis (16/7/2026) mengungkapkan bahwa dua kapal tersebut berangkat pada akhir Juni 2026.
Melansir dari Antara meneruskan informasi yang dilaporkan Anadolu, sebagian besar penumpang merupakan warga Rohingya yang berasal dari Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Beberapa di antaranya diketahui berangkat dari kamp pengungsian di Cox's Bazar, Bangladesh.
Menurut UNHCR dan IOM, kapal pertama yang mengangkut sekitar 250 penumpang dilaporkan hilang kontak tidak lama setelah meninggalkan lokasi keberangkatan.
Sementara itu, kapal kedua yang membawa sekitar 280 orang diduga tenggelam di perairan lepas pantai Ayeyarwady, Myanmar, pada 8 Juli 2026.
Hingga kini, kedua badan PBB tersebut menyatakan belum ada konfirmasi resmi mengenai kronologi kejadian maupun jumlah pasti korban jiwa.
"Terjadinya peristiwa tersebut dan jumlah pasti korban kecelakaan masih belum dinyatakan secara resmi," demikian pernyataan bersama UNHCR dan IOM.
Meski demikian, kedua lembaga internasional itu menyampaikan keprihatinan mendalam atas kemungkinan besarnya jumlah korban dalam tragedi tersebut.
Melalui akun resminya di platform X, UNHCR menyatakan sebagian besar korban merupakan warga Rohingya yang nekat menempuh perjalanan laut yang sangat berbahaya demi mencari perlindungan dan kehidupan yang lebih aman.
"Sebagian besar penumpang berasal dari etnis Rohingya yang menantang risiko pelayaran laut yang berbahaya demi mencari keamanan," kata Badan Pengungsi PBB di platform X.
Selama bertahun-tahun, lebih dari satu juta etnis minoritas Muslim Rohingya terpaksa meninggalkan Negara Bagian Rakhine akibat penganiayaan sistematis, operasi militer, dan berbagai aksi kekerasan. Gelombang eksodus terbesar terjadi sejak 2017, ketika ratusan ribu warga melarikan diri ke Bangladesh dan negara-negara lain di kawasan.
Hingga kini, kamp pengungsian di Cox's Bazar menjadi tempat penampungan terbesar bagi para pengungsi Rohingya. Namun, keterbatasan kondisi hidup dan tidak adanya kepastian status kewarganegaraan membuat banyak dari mereka terus berusaha mencari perlindungan ke negara lain, termasuk Indonesia.
Untuk mencapai tujuan tersebut, para pengungsi kerap menempuh jalur laut melalui Teluk Benggala dan Laut Andaman, yang dikenal sebagai salah satu rute migrasi paling berbahaya di kawasan karena cuaca ekstrem, kepadatan penumpang, serta minimnya perlengkapan keselamatan.*
--- Hendrik Penu
Komentar