INTERNASIONAL Fransisco Guterres alias "Lu Olo" Terpilih Jadi Presiden Timor Leste 21 Mar 2017 21:17
Dengan hasil tersebut, Lu Olo dipastikan menggantikan Presiden Taur Matan Ruak yang akan mengakhiri masa jabatannya pada 20 Mei 2017.
DILI, IndonesiaSatu.co -- Fransisco Guterres yang juga dikenal dengan julukan "Lu Olo" dipastikan terpilih sebagai presiden baru Timor Leste untuk periode 2017-2022, usai meraup total suara tertinggi dalam pemilihan presiden negara tersebut, Senin (20/3/2017). Dikutip dari Deutsche Welle, Selasa (21/3/2017), pimpinan tertinggi Partai Fretilin itu meraih sedikitnya 57 persen dari total suara sah. Sedangkan Antonio de Conceicao dari Partai Demokrat yang menjadi pesaing terkuat Lu Olo hanya mampu memperoleh 33 persen suara. Enam kandidat presiden lainnya tak mampu berbuat banyak, hanya mengumpulkan suara antara 0 hingga 2 persen.
Berdasarkan hasil perhitungan yang beredar di media, dari total pemilih 743.150 orang, hanya sekitar 504.730 yang mengikuti pemilihan presiden Timor Leste 2017. Dari jumlah tesebut, total suara sah tercatat sebanyak 493.311, suara tidak sah sejumlah 8.393, surat suara kosong sebanyak 2.789, dan sekitar 250 suara yang dinyatakan bermasalah dan ditolak atau diprotes.
Dengan hasil tersebut, Lu Olo dipastikan menggantikan Presiden Taur Matan Ruak yang akan mengakhiri masa jabatannya pada 20 Mei 2017. Ia berharap agar para pesaingnya menerima hasil pemilu dengan lapang dada dan bersama-sama membangun Timor Leste.
Kemenangan Lu Olo, yang didukung oleh tokoh berpengaruh di Timor Leste Xanana Gusmao, dipastikan berdasarkan regulasi pilpres di Timor Leste yang menyatakan, bila calon presiden memperoleh suara sebanyak 50 plus 1 persen, maka pilpres dilakukan satu putaran.
Negara kecil di belahan timur Pulau Timor itu merupakan salah satu negara termiskin dunia dengan tingkat pengangguran sekitar 60 persen.
Sejumlah pengamat mengatakan, Lu Olo akan menghadapi kondisi sulit Timor Leste yang masih memiliki ketergantungan tinggi pada hasil minyak bumi. Sektor energi menyumbang sekitar 60 persen PDB pada tahun 2014. Lebih dari 90 persen pendapatan pemerintah berasal dari pemasukan di sektor energi. Oleh karena itu, presiden baru ditantang untuk melakukan diversifikasi pendapatan negara melalui pengembangan sektor lain, seperti manufaktur dan pertanian.
"Tentu saya akan mendorong pemerintah untuk bekerja keras mengatasi kekurangan yang masih kita lihat di hampir semua sektor," ujar Guterres seperti dikutip dari laman Deutsche Welle/dw.com, Selasa (21/3/2017).
--- Rikard Mosa Dhae