Breaking News

BERITA Gempa Lombok, BNPB: Korban Meninggal 387 Orang 13 Aug 2018 09:12

Article image
Dampak Gempa Bumi yang melanda Lombok, NTB (Foto: Ist)
Korban yang meninggal dunia tersebar di Kabupaten Lombok Utara (334 orang), Kabupaten Lombok Barat (30 orang), Kabupaten Lombok Timur (10 orang), Kota Mataram (9 orang), Kabupaten Lombok Tengah (2 orang) dan Kota Denpasar (2 orang).

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, jumlah korban gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat bertambah menjadi 387 orang.

"Diperkirakan jumlah korban meninggal akan terus bertambah karena masih ada korban yang diduga tertimbun longsor dan bangunan roboh," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB, Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Sabtu (11/8/18), seperti dikutip Antara.

Ia menerangkan bahwa selain korban yang diduga tertimbun longsor dan bangunan roboh, kemungkinan juga masih ada korban meninggal yang belum didata dan dilaporkan.

“Verifikasi terhadap data korban meninggal terus dilakukan. Di Kabupaten Lombok Timur, misalnya, sebelumnya dilaporkan 11 orang meninggal dunia, ternyata setelah diverifikasi, terjadi pencatatan ganda karena ada satu korban dilaporkan dua kali menggunakan nama panggilan dan nama lengkap," terangnya.

Sutopo menjelaskan bahwa korban yang meninggal dunia tersebar di Kabupaten Lombok Utara (334 orang), Kabupaten Lombok Barat (30 orang), Kabupaten Lombok Timur (10 orang), Kota Mataram (9 orang), Kabupaten Lombok Tengah (2 orang) dan Kota Denpasar (2 orang).

“Selain data korban yang meninggal dunia, korban yang mengalami luka-luka tercatat 13.688 orang. Sementara pengungsi tercatat 387.067 jiwa tersebar di ribuan titik. Ratusan ribu jiwa pengungsi tersebut tersebar di Lombok Utara (198.846 orang), Kota Mataram (20.343 orang), Lombok Barat (91.372 orang) dan Lombok Timur (76.506 orang).

Jaminan Kesehatan Pengungsi

Guna menjamin kesehatan para pengungsi, Kepala BNPB meminta agar masyakat tidak mendonasikan susu formula untuk para pengungsi usia bayi dan anak korban gempa di Lombok, NTB. Pasalnya, bayi dan anak termasuk kelompok paling rentan, selain ibu hamil, lansia dan penyandang disabilitas dalam kelompok para pengungsi

"Mereka perlu mendapatkan perlakuan khusus karena rentan selama di pengungsian. UNICEF dan WHO telah mengingatkan bahaya pemberian susu formula di pengungsian. Banyak kasus saat terjadi bencana di dunia, pemberian susu formula kepada balita dan anak-anak justru memperparah kondisi penderita sakit, bahkan berujung pada kematian," kata Sutopo.

Ia mencontohkan kasus pascabencana gempa di Bantul, Yogyakarta, menjadi pelajaran. Pemberian susu formula kala itu justru meningkatkan terjadinya diare pada anak di bawah usia dua tahun. Sebanyak 25 persen dari penderita itu ternyata meminum susu formula.

"Karena itu, masyarakat/lembaga/relawan tanggap gempa dihimbau tidak menyalurkan donasi susu formula dan produk bayi lainnya seperti botol, dot, empeng tanpa persetujuan dari Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota setempat. Ibu yang menyusui anaknya harus diberikan dukungan dan bantuan praktis untuk meneruskan menyusui. Mereka tidak boleh sembarang diberikan bantuan susu formula dan susu bubuk," harapnya.

Ia mengatakan, terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula, seperti air bersih, alat memasak, botol steril dan lainnya membuat pemberian susu formula tidak disarankan.

“Sarana yang terbatas telah menyebabkan munculnya kasus-kasus penyakit diare di kalangan bayi usia di bawah enam bulan yang menerima bantuan susu formula. Jumlah kasusnya bisa mencapai dua kali lebih banyak dibandingkan mereka yang tidak menerima bantuan itu. Namun dalam kondisi tertentu ada pengecualian. Jika ada bayi yang tidak bisa disusui, bayi tersebut harus diberikan susu formula tetapi perlengkapan untuk menyiapkan susu tersebut harus diawasi ketat oleh tim dokter dan kondisi kesehatan bayi harus dimonitor,” tandasnya.

--- Guche Montero

Komentar