REGIONAL GM-VDS Menganyam Belarasa di Tanah Nangaroro 18 Aug 2026 23:53
"Dengan menerima, kita menghidupi diri sendiri. Namun dengan memberi, kita ikut menganyam kehidupan sesama," pungkas Valens.
NANGARORO, IndonesiaSatu.co-- Perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia di Kelurahan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Senin (17/8/2026), berlangsung dalam keheningan yang berbeda. Dua hari setelah gempa tektonik bermagnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores pada Sabtu (15/8/2026), warga tak memperingati kemerdekaan dengan panggung hiburan atau pesta rakyat, melainkan dengan merajut kembali puing-puing harapan yang runtuh.
Di tengah luka 239 keluarga terdampak—baik yang mengalami kerusakan rumah tingkat berat, sedang, maupun ringan—sebuah uluran tangan hadir. Tepat di hari kemerdekaan, Pos Komando (Posko) GM-VDS resmi berdiri, diinisiasi oleh purnawirawan kepolisian Gories Mere bersama Valens Daki-Soo (VDS).
Gerakan kemanusiaan ini lahir dari percakapan singkat via telepon dan pesan instan sehari pascagempa.
"Om, kita perlu kasih perhatian untuk warga kita. Banyak yang susah," kenang Valens menirukan pesan awal yang ia kirimkan kepada Gories Mere pada Minggu (16/8/2026).
Tanpa ragu, Gories merespons hangat dan menanyakan langkah konkret yang harus diambil. "Lens, gimana pendapat Valens?" tanya Gories. Jawaban Valens lugas: menyalurkan bahan pokok secepat mungkin untuk menyambung napas dapur warga.
Hari berikutnya, gerakan belarasa itu berdenyut di Nangaroro. Posko didirikan dengan merangkul segenap elemen lokal—mulai dari Camat Nangaroro Agustinus Egho Wea, Lurah Aleksius Jata bersama stafnya Linda dan Since Lori, hingga mantan Lurah Yomos Toniag. Semangat itu menular kepada kaum muda Nangaroro seperti Andi Dawi, Andi Abolla, Jois Mite, dan Yemi Siga, yang bergerak menjadi relawan.
Bantuan sembako dibagikan secara merata. Terkait adanya penyesuaian porsi di beberapa tempat, Valens meluruskan bahwa hal tersebut merupakan hasil kearifan lokal dan kesepakatan di tingkat RT, agar tak ada satu pun warga setempat yang terlewatkan.
Bagi Valens dan Gories, membantu Nangaroro adalah panggilan nurani yang tak bisa ditunda. Setelah sekian lama menyokong berbagai kegiatan sosial dan budaya di berbagai kabupaten lain, kini saatnya menyentuh tanah kelahiran sendiri yang berada dalam keprihatinan.
"Ini bukan agar dipuji. Kami ingin membuktikan bahwa memberi itu jauh lebih berharga daripada sekadar jago orasi," ujar Valens.
Aksi di Nangaroro menjadi tapak awal, sebab Gories Mere kini tengah menggalang dukungan bersama jejaringnya untuk menjangkau wilayah terdampak bencana lain di Flores.
Di balik guncangan tanah Nagekeo, ada pesan mendalam tentang hakikat kemanusiaan yang ditinggalkan gerakan ini.
"Dengan menerima, kita menghidupi diri sendiri. Namun dengan memberi, kita ikut menganyam kehidupan sesama," pungkas Valens.
--- Guche Montero
Komentar