TAJUK Hari Pendidikan Nasional dan Cerita Miris dari Dusun Feku, TTU 02 May 2025 07:31
Stop berkoar-koar tentang generasi emas 2045 di kantor-kantor megah. Turun langsung memantau kualitas pendidikan di wilayah terpencil itu harus dilakukan agar kebijakan pendidikan tepat sasar dan menyentuh wilayah paling membutuhkan.
Selasa, 28 April 2025, wartawan IndonesiaSatu.co turun langsung mengunjungi Dusun Feku, Desa Noelelo, Kecamatan Mutis, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Dusun Feku letaknya sangat terpencil, berjarak 8 kilometer dari pusat Kecamatan.
Kunjungan ke Feku dapat menjadi momen reflektif di Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) bahwa kualitas pendidikan di NTT masih sangat memprihatinkan.
Untuk mencapai Feku, kita harus menempuh jalan yang sangat rusak. Masyarakatnya terisolasi sehingga layak disematkan terpencil, terbelakang, dan tertinggal. Seluruh masyarakat Feku bekerja sebagai petani tradisional, namun terkendala akses pasar karena jalannya yang sangat parah.
Salah satu keluhan masyarakat di Feku adalah kualitas pendidikan di wilayah tersebut. SD Feku hanya berjumlah puluhan siswa, namun mereka sangat kekurangan fasilitas pendidikan yang layak.
Salah satu fasilitas yang tidak layak adalah penginapan untuk para guru. Masyarakat sudah membangun penginapan untuk guru secara swadaya, namun karena keterbatasan finansial dibangun seadanya, sehingga tidak layak untuk ditinggali.
Hal ini menyebabkan para guru harus tinggal di pusat kecamatan, setiap hari harus berangkat ke Feku yang membutuhkan lebih dari sejam. Akibatnya kegiatan belajar-mengajar tidak bisa dilakukan tepat waktu.
Hal ini semakin diperparah dengan tidak adanya perpustakaan, sinyal internet, dan taman belajar. Akibatnya ada tamatan SD Feku yang belum bisa membaca dan berhitung dengan baik dan lancar.
Guru di Feku juga masih ada guru honorer, sehingga belum mendapatkan gaji yang layak dan cukup untuk membiayai bahan bakar dan keperluan transportasi ke Feku setiap hari.
Cerita miris dari Feku merupakan potret nyata ketimpangan kualitas pendidikan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ada kesenjangan yang signifikan antara akses pendidikan di wilayah perkotaan dan pedesaan.
Kota-kota besar memiliki fasilitas pendidikan yang lebih lengkap, sementara desa-desa terpencil seringkali menghadapi berbagai tantangan, seperti kurangnya infrastruktur, kualitas pengajaran yang rendah, dan keterbatasan akses terhadap sumber daya pendidikan.
Karena itu, pemerintah di pusat hingga daerah harus serius memberikan kebijakan afirmatif untuk mempercepat peningkatan kualitas pendidikan di wilayah-wilayah terpencil, terbelakang, dan terisolasi.
Stop berkoar-koar tentang generasi emas 2045 di kantor-kantor megah. Turun langsung memantau kualitas pendidikan di wilayah terpencil itu harus dilakukan agar kebijakan pendidikan tepat sasar dan menyentuh wilayah paling membutuhkan.
Para guru di wilayah terpencil harus mendapat gaji, insentif, dan pembekalan kapasitas agar dapat berkonsentrasi mengabdi di sekolah. Ironisnya, gaji honorer masih di bawah Rp. 500 ribu. Bagaimana para guru dapat mengabdi jika kesejahteraannya sangat tidak layak?
Rumah penginapan untuk guru, perpustakaan, taman belajar, infrastruktur jalan dan komunikasi harus dibangun. Bila perlu pemerintah menyekolahkan anak-anak dari wilayah terpencil seperti di Feku dan memulangkan mereka untuk mengabdi di kampung halamannyab sendiri.
Anak-anak di wilayah terpencil seperti di Dusun Feku juga adalah warga negara Indonesia, juga bagian penting dari Indonesia Emas 2025. Negara harus hadir dan memberikan kebijakan yang berdampak dan nyata untuk memajukan pendidikan di wilayah terpencil.
Salam Redaksi IndonesiaSatu.co
Komentar