Breaking News

KESEHATAN Ingatkan Dokter Anestesi yang Mogok Kerja Karena Honor Kecil, Gubernur NTT: Utamakan Dedikasi untuk Kemanusiaan 11 Apr 2025 23:53

Article image
Gubernur NTT, Melki Laka Lena menyinggung soal profesi dokter (Anestesi) dan tanggung jawab kemanusiaan, di sela-sela kunkernya di daerah Manggarai Timur. (Foto: Ist)
Gubernur yang sangat konsen terhadap masalah kesehatan itu menekankan bahwa profesi dokter adalah panggilan hati, bukan semata-mata pekerjaan untuk mencari keuntungan material.

BORONG, IndonesiaSatu.co-- Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, memberi tanggapan serius terhadap alasan Dokter Anestesi di RSUD TC Hillers Maumere, Kabupaten Sikka yang mogok kerja karena honor yang diterima terlalu kecil.

Di sela-sela kunjungan kerjanya ke Puskesmas Waelengga, Kabupaten Manggarai Timur, Jumat (11/4/2025), Gubernur Melki memberi peringatan keras bahwa akan mencabut Surat Izin Praktik (SIP) terhadap dua Dokter Anestesi di RSUD TC Hillers Maumere, yakni dr. Remidason Riba, Sp. An dan dr. Yosefin Erfleniati Jati.

Pasalnya, kedua Dokter itu menolak bertugas dengan alasan insentif yang tidak sesuai dengan beban kerja, terutama dalam menangani kasus-kasus anestesi yang krusial di rumah sakit rujukan utama di Kabupaten Sikka tersebut.

Gubernur menegaskan bahwa aksi mogok kerja itu tidak hanya berdampak pada administrasi internal rumah sakit.

Sebaliknya, aksi tersebut telah menghambat pelayanan medis, bahkan menyebabkan meninggalnya seorang pasien yang seharusnya menjalani tindakan anestesi.

"Kedua dokter ini mogok kerja karena menilai honor terlalu kecil. Tapi akibat dari tindakan mereka, sudah ada pasien yang meninggal. Ini bukan lagi soal honor, ini soal tanggung jawab kemanusiaan," tegas Gubernur Melki.

Gubernur mengatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi langsung dengan Kementerian Kesehatan untuk segera mencabut SIP keduanya.

"Kalau SIP dicabut, mereka tidak akan bisa praktik di mana pun di Indonesia, sampai mereka sadar kembali akan tanggung jawab sebagai dokter," tegas Gubernur.

Gubernur yang sangat konsen terhadap masalah kesehatan itu menekankan bahwa profesi dokter adalah panggilan hati, bukan semata-mata pekerjaan untuk mencari keuntungan material.

"Harus diingat kembali sumpah dokter yang menekankan dedikasi terhadap kemanusiaan. Jangan jadi dokter hanya karena ingin uang. Daerah ini punya keterbatasan. Ingat kembali sumpah profesi untuk melayani masyarakat," kata Gubernur.

Gubernur Melki juga menyatakan kekhawatirannya terhadap kemungkinan efek domino jika tuntutan kenaikan honor dipenuhi.

"RSUD TC Hillers mempekerjakan sekitar 50 dokter. Kalau honor anestesi dinaikkan dan semua ikut menuntut hal yang sama, rumah sakit bisa lumpuh total," jelasnya.

Sebagai solusi sementara, Gubernur Melki mengungkapkan bahwa Dirjen Tenaga Kesehatan dari Kementerian Kesehatan telah menyatakan kesiapan untuk mengirim dua dokter anestesi pengganti agar pelayanan medis tetap berjalan.

--- Guche Montero

Komentar