INTERNASIONAL Inilah Edicule Makam Yesus Pasca Restorasi 05 Apr 2017 14:42
Restorasi Edicule dikerjakan oleh sebuah tim yang melibatkan 50 pakar dari the National Technical University of Athens, yang sebelumnya pernah menangani restorasi Acropolis di Ibukota Yunani dan Hagia Sophia di Istanbul.
Oleh Simon Leya
EDICULE (rumah kecil) yang menutupi tempat di mana Yesus pernah dimakamkan setelah peristiwa penyaliban telah resmi dibuka dalam sebuah perayaan Rabu, 22 Maret 2017.
Makam yang terletak di tengah Gereja Makam Kudus, Kota Tua Yerusalem dibuka kembali untuk umum setelah satu tim dari Yunani yang terdiri dari para ilmuwan dan ahli restorasi menyelesaikan proyek selama 10 bulan. Restorasi difokuskan pada struktur kecil di atas ruang makam.
Makam Yesus adalah monumen paling sakral dalam Kekristenan.
“Jika intervensi tidak dilakukan sekarang, akan sangat berisiko bahwa bagian atas dari makam akan roboh,” kata pengawas proyek Bonnie Burnham dari World Monuments Fund kepada Associated Press sebagaimana dikutip The Guardian (21/3/2017).
“Ini adalah transformasi utuh dari monumen.”
Restorasi rumit tersebut dikerjakan oleh sebuah tim yang melibatkan 50 pakar dari the National Technical University of Athens, yang sebelumnya pernah menangani restorasi Acropolis di Ibukota Yunani dan Hagia Sophia di Istanbul. Para konservator melakukan pengerjaan pada malam hari agar tidak mengganggu para peziarah.
Tempat suci ini dalam sejarahnya sudah pernah dibangun ulang selama empat kali, terakhir pada 1810 setelah mengalami kebakaran. Selama 70 tahun terakhir, struktur bangunan yang sudah mulai rapuh disanggah menggunakan tiang besi atas perintah Gubernur Inggris untuk Palestina. Setelah direstorasi, tiang-tiang besi penyanggah tersebut sudah disingkirkan.
Biaya restorasi sebesar 4 juta Dolar AS atau Rp 53,3 milar berasal dari sumbangan enam denominasi gereja, yakni Gereja Katolik Roma, Gereja Orthodox Yunani, Gereja Apostolik Armenia, Gereja Orthodox Suriah, Gereja Orthodox Ethiopia dan Gereja Koptik. Raja Abdullah dari Yordania, Otoritas Palestina, dan Mica Ertegun, istri mendiang pendiri studio rekaman Atlantic Records Ahmet Ertegun ikut menyumbang sebesar 1,3 juta Dolar AS atau Rp 17,3 miliar.
Restorasi
Setelah berabad-abad terlibat cekcok dan beda pendapat, akhirnya tiga gereja yang selama ini secara bersama-sama mengelola Gereja Makam Suci Yerusalem sepakat untuk melakukan restorasi bagian paling suci dari gereja tersebut (IndonesiaSatu.co (21/6/2016).
Tiga gereja yang selama ini mengelola Gereja Makam Suci Yerusalem yakni gereja Ortodoks Yunani, Katolik Roma, dan Gereja Armenia. Dengan mengesampingkan perbedaan pandangan, tiga otoritas gereja sepakat untuk bersama-sama mendukung upaya restorasi gereja ini.
Antonia Moropoulou, seorang insinyur kimia pada the National Technical University di Athena yang menjadi manajer proyek tersebut menegaskan bahwa pekerjaan yang akan ditangani timnya tidak akan mudah.
"Kami memiliki pekerjaan yang sangat sulit dan menantang di sini," kata Moropoulou, sebagaimana dilansir NBC News (20/6/2017).
Makam Yesus pertama kali dibangun pada 335, dihancurkan oleh pasukan Persia 300 tahun kemudian, dan dibangun kembali oleh penguasa Bisantium, Kaisar Constantine Monomachus pada 1048. Hampir 20 tahun setelah terjadi gempa hebat pada tahun 1927, dilakukan pamasangan sistem perlindungan berupa penyanggah dari besi
Pekerjaan pertama yang dilakukan tim Moropoulou adalah memasang pilar-pilar yang menopang kubah di atas Edicule. Pilar-pilar tersebut dimaksudkan untuk memperkuat dan mempertahankan struktur yang mulai rapuh. Hal ini yang mendorong pihak kepolisian Israel menutup tempat suci tersebut untuk sementara setelah pada tahun 2015 Otoritas Kepurbakalaan menyatakan bahwa bangunan tersebut dalam kondisi tidak aman.
Proses renovasi butuh kehati-hatian mengingat di atas tempat tersebut oleh umat Kristen diyakini sebagai lokasi di mana Yesus pernah diminyaki, dibungkus kain, dan dimakamkan sebelum kebangkitan.
Gereja Katolik Roma, Gereja Ortodoks, dan Gereja Armenia sering berselisih paham tentang siapa yang paling bertanggung jawab menjadi pengelola tempat suci ini. Bahkan perselisihan mengarah pada adu fisik di antara para biarawan. Pada perayaan Paskah beberapa tahun silam, biarawan Ortodoks Yunani dan Gereja Armenia saling pukul. Seperti kebanyakan konflik di sini, kejadian itu merupakan sengketa wilayah. Yang satu takut yang lain mencoba melanggar batas wilayah yang bukan miliknya.
Sejak abad ke-12, tepatnya pada 1187, oleh Sultan Saladin yang merebut Kota Yerusalem pada Perang Salib, memberikan mandat kepada dua keluarga Muslim sebagai pemegang kunci Gereja Makam Kudus.
Saladin ingin memastikan gereja itu tidak dirusak oleh umat Muslim seperti pada 1009—ketika pemimpin Kekhalifahan Fatimiyah, Al Hakim, memerintahkan agar sejumlah gereja di Yerusalem dibakar, termasuk Gereja Makam Kudus (belakangan, putra Al Hakim mengizinkan pembangunan kembali Gereja Makam Kudus pada 1128).
"Sehingga Saladin memberi keluarga kami kunci ini untuk melindungi gereja. Bagi keluarga kami, ini adalah suatu kehormatan. Namun, kehormatan itu bukan hanya untuk keluarga kami, melainkan juga untuk semua umat Muslim di dunia," kata Al Husseini seperti ditulis BBC Indonesia (26/12/2016).
Karena itu, bersama keluarga muslim Nuseibeh, keluarga Al Husseini menjadi bagian dari pengurus Gereja Makam Kudus
Tapi sekarang para pihak yang bertikai selama ini sepakat untuk dilakukan renovasi.
"Kami sama-sama memutuskan bahwa renovasi sangat perlu dilakukan, jadi kami menyetujuinya," kata Rev. Samuel Aghoyan, pimpinan tertinggi Gereja Armenia kepada AP.
Perhatian atas makam suci tersebut juga datang dari orang pertama Kerajaan Yordania. Raja Abdullah II bin Hussein berjanji akan membantu proyek tersebut dari dana pribadinya. Uskup Yerusalem Mgr William Shomali dalam pernyataan yang dirilis Vatikan pada 7 Juni 2016 mengatakan bahwa pengumuman yang disampaikan Raja Abdullah menggambarkan, "Kepedulian untuk mempertahankan warisan Kristiani."
Yordania mengambil alih kontrol atas Kota Suci Yerusalem sampai diduduki Israel pada 1967 dan mengambil alih peran pengamanan situs-situs suci Islam dan Kristen di Yerusalem.
Moropoulou dan timnya secara perlahan dan penuh hati-hati memindahkan lempengan marmer yang menutup Edicule. Lebih lanjut, tim membersihkan setiap lempengan dari endapan lilin yang dipasang para peziarah menggunakan kapas yang dicelupkan cairan ethanol. Selama berabad-abad, para peziarah memasang lilin di atas pualam sehingga merusak batu tersebut.
Waktu itu, Moropoulou memperkirakan proyek restorasi diharapkan selesai pada Maret 2017.
"Situs suci ini adalah simbol kebangkitan dan perdamaian," katanya.
"Kami perlu mempertahankan setiap lapisan dari tempat suci ini untuk memberi pelajaran bagi generasi yang akan datang."
Penulis adalah Redaktur Pelaksana IndonesiaSatu.co
Komentar