Breaking News

INTERNASIONAL Kim Jong-Nam Dalam Kenangan 21 Feb 2017 18:21

Article image
Kim Jong-Nam ketika masih kecil duduk berdampingan dengan almarhum ayahnya Kim Jong-Il yang menjadi pemimpin generasi kedua Korea Utara di Pyongyang, 19 Agustus 1981 (Foto: Washington Post)
Nama Kim Jong-Nam tidak pernah disebut media Korea Utara. Dan bahkan saat ini hanya segelintir elit Korut yang mengetahui keberadaannya.

Oleh Simon Leya

 

SOSOK Kim Jong-Nam tidak sepopuler saudara tirinya pemimpin Korea Utara saat ini Kim Jong-Un. Bahkan pria berumur 45 ini kurang dikenal publik Korea Utara. Namanya baru dikenal pada hari kematiannya. Kematiannya pun masih meninggalkan misteri. Dugaan sementara, Jong-Nam meninggal akibat diracun agen rahasia Korea Utara di Malaysia satu pekan lalu.

Jong-Nam tidak seberuntung adik tirinya Jong-Un. Meski lahir dari rahim yang berbeda tapi mereka memiliki ayah yang sama, pemimpin Korea Utara generasi kedua, Kim Jong-Il. Song Hye Rim, ibunda Jong-Nam yang adalah aktris Korea Utara ditinggalkan secara diam-diam oleh ayahnya Kim Jong-Il karena hubungan mereka tidak direstui kakek Jong-Nam yang adalah pendiri Korea Utara, Kim Il-sung.

Bertumbuh menjadi anak yang jauh dari sentuhan kasih sayang ayah membuat Jong-Nam didera kesepian.

Washingtonpost.com edisi 15 Februari 2017 menulis, Kim Jong-Nam dilahirkan pada 10 Mei  1971 — bukan 10 Juni  1970 sebagaimana tertara pada paspor yang ditemukan pada saat kematiannya.

Setelah orang tuanya bercerai, keberadaan Jong-Nam dan ibunya dirahasiakan. Sejak kecil, Jong-Nam dibesarkan di keluarga ibunya di Ibukota Korea Utara, Pyongyang. Pada umur 8 tahun, dia dibawa ke Moscow ketika hubungan antara Korea Utara dan Uni Sovyet yang sama-sama menganut ideologi komunis sedang mesra.

Pada 1980-an, Jong-Nam dimasukkan di sebuah sekolah internasional di Moscow. Selama di Mowcow, dia mulai belajar bahasa Perancis dan Jerman, dan bisa berbahasa Inggris dengan sangat fasih.

Pada 1988 ketika umurnya menjelang 18 tahun, Jong-Nam kembali ke Pyongyang dan menjadi kader di Kementerian Keamanan Rakyat (Ministry of People’s Security). Pada saat itu dia sangat dekat dengan bibinya yang adalah saudara dari ayahnya Kim Jong-Il dan suaminya  Jang Song Thaek.

Rahasia Kim Jong-Nam

Hubungan antara Kim Jong Il dan ibunda Jong-Nam sengaja ditutup rapat. Akibatnya, status anak, termasuk Kim Jong-Nam juga tidak diakui secara publik.

Song Hye Rang, bibi sekaligus pengasuh Kim Jong-Nam memiliki kenangan tentang hubungan Jong-Nam dan ayahnya Jong-Il yang ditulis dalam sebuah buku harian berjudul “The Wisteria House.”

“Kata-kata tidak dapat melukiskan bagaimana dalamnya cinta Jong-Il kepada putranya,” tulis Song, beberapa lama setelah Jong-Nam lahir.

“Pangeran mengelus-elus punggung putranya agar tertidur, menggendongnya sampai berhenti menangis, dan meninabobokannya seperti yang lazim dilakukan para ibu kepada bayinya.”

Jong-Nam kemudian dikirim ke luar negeri untuk menempuh pendidikan di Moscow dan Genewa, menghabiskan lebih dari separuh masa kecilnya di sana bersama ibunya dan saudara perempuan, serta sepupunya.

Song menggambarkan betapa keponakannya Kim Jong-Nam hidup dalam kesepian ketika kembali ke Pyongyang dan bertumbuh menjadi pemuda berumur 18 tahun bersama sepupunya. Mereka tidak diizinkan untuk keluar dari Pyongyang.

“Lebih dari satu atau dua kali di mana kami mengalami kesedihan berada di suatu tempat yang menghadap ke arah hamparan pantai yang luas, di mana hanya ada dua anak dan beberapa sopir yang mondar-mandir,” tulis Song.

Tetapi perasaan hampa yang dialami Kim Jong Nam kian menjadi beriringan dengan proses di mana ayahnya betul-betul meninggalkannya, tulis Song.

“Ayahnya memulai kehidupan baru bersama istrinya yang baru dan memiliki anak laki-laki dan perempuan. Sang ayah menyalurkan cinta tak normal yang bertabur air mata bagi putranya Jong-Nam kepada putra-putrinya yang baru,” tambah Song dalam tulisannya.

Nama Kim Jong-Nam tidak pernah disebut media Korea Utara. Dan bahkan saat ini hanya segelintir elit Korut yang mengetahui keberadaannya.

Selama kuliah di Swiss, Kim Jong-Nam dikabarkan tertarik pada teknologi. Pada 1998, ketika kembali ke Pyongyang, dia terpilih sebagai Kepala Komite Komputer negara, di mana dia bertanggung jawab pada sejumlah prakarsa teknologi. Dia juga memfasilitasi penggunaan internet negara, sebuah sistem yang dapat digunakan pejabat lokal dan mahasiswa tetapi tidak terhubung dengan dunia luar.

Suka Bertualang

Jong-Nam pernah tertangkap ketika ingin menyusup ke Jepang menggunakan paspor palsu bersama keluarganya. Sejak itu dia praktis hidup di pengasingan. Selama bertahun-tahun setelah itu, dia tinggal di Macau, bagian dari wilayah China yang berdekatan dengan Hong Kong bersama istri dan anak-anaknya.

Sebagaimana ayahnya, Jong-Nam juga dilaporkan memiliki sedikitnya enam anak dari beberapa istri yang berbeda.

Dia juga diperkirakan memiliki sebuah rumah dan keluarga lain di Beijing, dan kerap bepergian ke Singapura. Masa itu, warga negara Korea Utara bebas keluar masuk ke China, Malaysia, atau Singapura tanpa menggunakan visa.

Kim Jong-Nam biasa makan di restoran Italia milik pengusaha Jepang yang dijalankan oleh pengusaha Indonesia pada 2014. Persistiwa ini pernah diabadikan dan disiarkan televisi Korea Selatan.

Dia juga bertualang ke Eropa, mengunjungi Paris pada beberapa kesempatan. Pada 2004, ketika berumur 30-an tahun, dia terlihat sedang bersama seorang perempuan.

Dalam banyak kesempatan, Jong-Nam tampil dengan kumis dan janggut yang tidak dicukur sambil mengenakan pakaian yang tidak khas Korea Utara, celana jeans, jaket kulit, dan kaca mata gelap.

Jong-Nam diketahui kembali ke Korea Utara hanya sekali ketika ayahnya Kim Jong Il meninggal pada akhir tahun 2011. Kakak-beradik Jong-Nam dan Jong-Un tidak bertemu pada acara pemakaman ayah mereka.

Pesan Sang Ayah

Dalam pesan dan pernyataan terakhirnya sebelum kematian, Kim Jong Il memberikan resep kepada Kim Jong-Un, agar merujuk pada ahli kepemimpinan Ken Gause yang menulis sebuah buku kepemimpinan berjudul “North Korean House of Cards,”

Kim Jong Il juga mendesak agar Kim Jong-Nam tidak akan diganggu dan tidak menjadi target atau tidak diusik oleh rejim,” demikian pesan yang Gause terima pada 2012 melalui sumber-sumber orang dekat.

Kantor intelijen Korea Selatan mengatakan bahwa ketika Jong-Nam memimpin Departemen Keamanan Negara pada 2009 dan ketika ayah mereka masih hidup, Jong-Un sudah memerintahkan untuk menggerebek dan menangkap saudara tirinya.

Anak Internasional

Kim Han-Sol, putra kesayangan Jong-Nam yang dibesarkan di Macau menempuh pendidikan sekolah internasional dan memiliki pergaulan yang luas dengan teman-temannya. Dia juga pernah mengikuti United World College di Bosnia pada 2012. Di sana dia melayani wawancara dengan Finnish TV. Han-Sol tampak berbicara bahasa Inggris dengan sangat fasih dengan mengenakan anting permata.

Dia menjelaskan kehidupan di dalam asrama dan bagaimana teman sekamarnya yang berasal dari Lybia begitu bahagia ketika Moammar Qaddafi digulingkan.

Kim Han Sol mengatakan bahwa dia tidak pernah bertemu pamannya, Kim Jong-Un.

“Saya sungguh tidak tahu mengapa dia menjadi seorang diktator,” katanya.

Setelah di Bosnia, dia belajar di Paris.

Pascal Dayez-Burgeon, seorang pakar Korea Utara yang bekerja sebagai diplomat di Seoul antara 2001 dan 2007, mengatakan bahwa Kim Han Sol memiliki dua tukang pukul di Paris untuk memastikan bahwa dia tidak akan diculik oleh rejim pamannya Kim Jong-Un.

Meskipun memiliki pengalaman internasional, Jong-Nam tampil sebagai sosok yang rendah hati.

Jong Nam amat dekat dengan pamannya, Jang Song-Thaek, penganjur keterbukaan ekonomi Korea Utara yang selama ini tertutup rapat. Jang Song-Thaek terlibat dalam beberapa kesepakatan bisnis di China, termasuk membuka zona ekonomi khusus di perbatasan antara Korea Utara dan China.

Selama akhir tahun 1990-an, ketika masih berada di Pyongyang, Kim Jong-Nam dilaporkan melonggarkan kontrol perbatasan dan membiarkan banyak warga Korea Utara untuk bepergian.

Komentar