Breaking News

BOLA Lebih Dekat dengan Sang "Allenatore" PSN Ngada 01 Dec 2016 07:27

Article image
Kletus Gabhe, Pelatih Kepala TIm PSN Ngada yang kini tengah berlaga di ajang Liga Nusantara 2016. (Foto: Ist)
Transformasi gaya bermain PSN Ngada nyata terlihat di pertandingan-pertandingan yang dilakoninya di Liga Nusantara 2016 ini. Meski diisi oleh pemain-pemain muda, mereka kelihatan lebih tenang dan mampu mengontrol pertandingan.

Oleh: Hancel Goru Dolu

SAYAP kanan eksplosif itu selalu mencuri perhatian. Pertama kali saya menyaksikannya beraksi pada suatu Minggu pagi, dua belas tahun silam di lapangan sepakbola milik SMA Seminari St Yoh Berchmans Todabelu - Mataloko, Ngada, NTT. Ketika itu, dia datang bersama skuad Persatuan Sepakbola (PSN) Ngada untuk melakoni pertandingan uji coba melawan tim sepakbola SMA Seminari Todabelu. PSN Ngada sedang bersiap menuju perhelatan turnamen El Tari Memorial Cup (ETMC), sebuah turnamen rutin tahunanyang menjadi salah satu kompetisi tertua di Indonesia.

Saya bersama kawan-kawan remaja seusia, ketika itu, datang ke lapangan untuk menyaksikan nama-nama beken di jagat sepakbola NTT. Sebab PSN dihuni oleh pemain-pemain top lokal, sebut saja Hans Ruba, John Dopo, Evo Sabu, No Liko, Rokus Gomu, Engel Suri, Frans Sabon, dan lain-lain. Sayap kanan yang turut dalam rombongan tersebut, relatif baru bagi kami. Namun, dribling-dribling dengan gaya ala Latino, rotasi posisi rutin dengan Rokus Gomu di sayap kiri, serta sebuah gol dalam laga yang berakhir dengan skor 3-3 itu membuat kami mulai mengingat namanya.

Selepas laga uji coba itu, kami kembali disuguhkan aksi memikatnya di lapangan yang sama, pada dua laga. Yakni saat dia membawa tim sepakbola Radabata mengalahkan tim Dadawea dalam final perebutan Piala Camat Golewa. Golewa sendiri merupakan salah satu ‘gudang’ penting bagi bibit-bibit sepakbola Ngada yang merajai sepakbola NTT. Di masa lalu, mereka punya Bruder Othmar Jessberger SVD, seorang misionaris Katholik yang melahirkan bakat-bakat hebat dalam diri Nadus Subha, Sius Loke, dan Lipus Tadi yang pernah memperkuat Niac Mitra Surabaya.

Puncak dari performa sang sayap kanan di lapangan hijau adalah ketika menyabet penghargaan sebagai pemain terbaik dalam turnamen Berkhmawan Cup, turnamen yang melibatkan semua perwakilan klub dari seluruh kabupaten yang ada di Pulau Flores dalam rangka merayakan Pesta Intan Seminari St Yoh Berchmans Todabelu – Mataloko. Dan masa-masa setelah itu adalah eranya mencuri perhatian pecinta sepak bola di pentas regional NTT. Publik bolamania lalu mengenalnya sebagai Kletus Gabhe.

Merenda Karir Sepakbola

Pemuda Golewa ini terlahir dengan nama lengkap Kletus Marselinus Gabhe, di Bajawa pada tanggal 26 April 1978. Gen sepakbola yang terus diasah sejak kecil membawanya malang melintang di berbagai klub, ketika menempuh studi di sebuah perguruan tinggi di Pulau Dewata. Tercatat, Kletus pernah memperkuat Persibu Buleleng dan Pesrt Tabanan, sebelum akhirnya pulang memperkuat PSN Ngada tercinta. Dua gelar juara turnamen ETMC (Eltari) berhasil dipersembahkannya untuk Ngada, yakni 2003 di Soe dan 2007 di Atambua.

Selepas itu, Kletus mulai merambah dunia kepelatihan. Di sela-sela rutinitasnya sebagai salah satu tenaga pendidik pada sebuah SMA Negeri di Ngada, beberapa tim lokal telah dia bina. Di antaranya Turbo FC yang dibawanya menjadi runner up Bupati Nagekeo Cup pada tahun 2010 dan Citra Bakti United yang dipolesnya hingga menempati peringkat III Boawae Cup tahun 2014. Saat menjadi Asisten Pelatih PSN Ngada, bersama pelatih kepala, Kletus berhasil meraih posisi runner up ETMC tahun 2013 di Manggarai, menjuarai Gubernur Cup pada tahun 2014, dan peringkat  3 ETMC tahun 2015 di Maumere.

Transformasi Pola

Seakan menapaktilasi karirnya sebagai pemain, Kletus akhirnya membawa PSN Ngada menjuarai Gubernur  Cup  tahun 2016 di Kupang, saat berstatus sebagai Pelatih Kepala. Di masa kepelatihannya, PSN Ngada berangsur-angsur mengubah pola permainannya. Bola-bola panjang yang rentan dengan duel fisik perlahan ditinggal. Sebagai gantinya, passing-passing pendek, pressing ketat pada lawan, dan determinasi permainan diutamakan. Pemain muda menjadi jawaban dari skema segar ini. Itulah yang dibawanya ke Liga Nusantara 2016, dengan status tim sebagai 8 kali juara ETMC dan 4 kali juara Gubernur Cup.

Transformasi gaya bermain PSN Ngada nyata terlihat di pertandingan-pertandingan yang dilakoninya di Liga Nusantara 2016 ini. Meski diisi oleh pemain-pemain muda, mereka kelihatan lebih tenang dan mampu mengontrol pertandingan. Sistem permainan yang mengandalkan kolektivitas tampak berjalan dengan baik. Datang dengan status underdog, PSN justru menggebrak, lolos sebagai juara grup dengan nilai sempurna. Duet strikernya bahkan masuk dalam daftar puncak Top Scorer sementara.

Kepada IndonesiaSatu.co, Kletus menyatakan bahwa pengalaman PSN Ngada sepuluh tahun lalu di Divisi II Nasional telah menjadi evaluasi bagi tim di Liga Nusantara 2016 kali ini. “Saat itu, PSN Ngada tidak berhasil melewati penyisihan grup, maka kali ini kami menetapkan target untuk dapat lolos dari putaran grup saja. Lolos dari putaran grup untuk berlaga di putaran 16 Besar Nasional  adalah prestasi yang patut dibanggakan, karena PSN Ngada belum pernah meraih status itu,” kata Kletus, di Kudus, pada Rabu (30/11/2016) malam.

Dengan situasi yang melebihi target saat ini, Kletus tetap memilih rendah hati. Dirinya tak menampik, meski telah melakukan beberapa pembenahan, tim masih menyisakan lubang sebagai pekerjaan rumah. Dalam aspek-aspek tertentu, menurut Kletus, harus diakui bahwa PSN Ngada masih memiliki kekurangan untuk bisa bersaing ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Namun, Liga Nusantara ini telah memberikan banyak pengalaman dan pelajaran berharga untuk tim agar mampu mengeluarkan potensi terbaik yang dimiliki.

“Dibandingkan dengan tim-tim di Piala Gubernur NTT, di sini kita menghadapi tim yang memiliki kemampuan satu tingkat di atas atau berada di atas rata-rata lawan-lawan kita di NTT, baik secara individu maupun organsasi permainan secara tim,” tuturnya.

Terkait transformasi pola, Kletus mendasarkannya pada prinsip sederhana. Bahwasanya beda pelatih tentu beda filosofi, metode dan ide bermain. Masih menurut Kletus, dirinya dan tim pelatih tidak secara total mengubah pakem bermain PSN Ngada yang selama ini identik dengan permainan keras dan bola-bola panjang.

“Kami coba membuat beberapa perubahan dalam elemen taktik untuk lebih variatif sehingga tidak terkesan monoton yang tentunya akan berdampak pada mudahnya lawan membaca alur permainan PSN,” ungkapnya.

Lebih lanjut, tranformasi pola permainan tim juga dilakukan guna menyesuaikan dengan pilihan taktik bermain lawan dalam kerangka situasi riil yang terjadi di dalam lapangan. “Ya seperti meminjam istilah ada plan A, ada plan B, jadi tidak terpaku pada satu pola tertentu begitu,” ulasnya.

Kolektivitas dan Keseimbangan

Sebagaimana klub favoritnya di Seri A Italia, AC Milan, Kletus juga menggemari skuad yang diisi oleh pemain-pemain muda. Sebabnya, mereka biasanya masih memiliki rasa lapar yang luar biasa untuk meraih segala sesuatu. Rasa lapar yang akan mengikis habis rasa takut sehingga yang kelihatan adalah kumpulan individu bernyali besar, yang akan berjuang tak kenal lelah sampai titik darah penghabisan.

Kletus menambahkan bahwa tim pelatih dan manajemen telah sepakat untuk menyiapkan tim ini dalam sebuah proyek jangka panjang. Peremajaan skuad akan terus dilakukan. Tim Pelatih PSN Ngada sendiri diisi oleh sosok-sosok kenyang pengalaman dalam diri Timoteus Keli Sebo, Johanes Liko dan Arnoldus Y. Siwe Mole yang selalu siap mengeluarkan kemampuan terbaik mendukung upaya-upaya itu.

Di Liga Nusantara 2016 ini, faktor pemain muda yang paten stamina tampaknya berkorelasi apik dengan keseimbangan antara pertahanan dan penyerangan. Sejauh ini PSN Ngada menjadi tim dengan kebobolan paling minim dan paling produktif di lini serang. Kletus berkeyakinan bahwa hasil positif itu merupakan buah dari latihan yang baik.

“Saya selalu percaya dengan filosofi ‘best practice makes a perfect matches’, itu bermakna sekedar berlatih tanpa sebuah konsep perencanaan yang baik tidak akan menghasilkan apa-apa,” tegasnya.

Doa dan Dukungan

Lolosnya PSN Ngada sampai sejauh ini telah memunculkan banyak puja-puji. Kletus mengaku, tim selalu melakukan doa bersama setiap malam untuk selalu mengingatkan anggota tim bahwa hasil yang didapat sejauh ini adalah campur tangan Tuhan semata-mata. Selain itu, diskusi dan evaluasi selalu dilakukan untuk menjaga tim selalu menjejak bumi, sembari menyisipkan optimisme bahwa tim ini juga bisa melanjutkan perjuangan dan melakukan hal-hal besar.

Tidak lupa, Kletus menyampaikan rasa hormat dan penghargaan setinggi-tingginya pada semua pihak yang terlibat dalam keikutsertaan PSN Ngada di Liga Nusantara kali ini. ”Terutama Pemerintah Kabupaten Ngada dalam hal ini Bapak Bupati Marianus Sae dan Bapak Wakil Bupati Paulus Soliwoa yang memiliki komitmen untuk mendukung pengembangan olahraga khususnya sepakbola Ngada dalam kerangka pembangunan SDM Ngada yang unggul,” ujarnya.

Lebih lanjut dirinya juga menghaturkan terima kasih kepada para pemerhati PSN Ngada yang telah mendukung dengan caranya masing-masing, juga kepada Ikatan Keluarga Ngada Jogja, Malang, dan Surabaya yang selalu setia mendukung PSN Ngada hingga sejauh ini. Kletus berharap, dukungan dan kerjasama semua pihak bisa termanifestasikan dalam bentuk pembinaan dan pengembangan sepakbola yang lebih baik, mulai dari tataran perencanaan hingga pelaksanaannya, sehingga harapan untuk melihat PSN Ngada berkiprah di Divisi Utama atau bahkan ISL bukan sekedar impian belaka.

Kletus Gabhe, sosok di balik transformasi permainan PSN Ngada yang secara luar biasa telah menoreh sejarah. Turnamen Liga Nusantara 2016 memang belum selesai. Masih ada beberapa pertarungan lagi menuju panggung kampiun.Tapi sebagaimana Minggu pagi dua belas tahun silam di Lapangan Seminari Todabelu,  dia telah mencuri perhatian dan akan sangat mungkin senantiasa mencuri perhatian!

 

Penulis adalah Kontributor IndonesiaSatu.co, penggemar PSN Ngada, tinggal di Surabaya.

Komentar