SOSOK Maria Loretha: "Mama Sorgum NTT" Raih Liputan6 Awards 2026 Kategori Ketahanan Pangan 25 May 2026 10:52
"Dari Flores, NTT, ada sorgum yang bisa menjadi bagian dari masa depan pangan Indonesia, bahkan dunia," ungkap Maria Loretha.
JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Penggerak penanaman sorgum dari Yayasan Agro Sorgum Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maria Loretha, berhasil meraih Penghargaan Liputan6 Awards 2026, Sabtu (23/5/2026).
Perempuan Asal Waiotan, Pajinian Kecamatan Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur (Flotim) yang akrab disapa "Mama Sorgum NTT" itu menerima penghargaan kategori Ketahanan Pangan, berkat perjuangan dan dedikasinya mengembangkan dan menghidupkan kembali sorgum sebagai pangan lokal unggulan di Flores Timur, Flores, dan NTT, sejak 2007 silam.
Penghargaan tersebut sekaligus menegaskan bahwa perjuangan Maria Loretha dinilai membawa dampak nyata bagi para petani dan kemandirian pangan daerah.
Diversifikasi dan Revitalisasi Pangan Lokal
Ketika menerima Penghargaan Liputan6 Awards 2026, Maria Loretha mengatakan bahwa sorgum bukan hanya komoditas, tetapi jalan hidup dan identitas pangan yang kembali ditemukan.
Menurutnya, setiap daerah harus mampu menjaga dan menghidupkan keanekaragaman hayati masing-masing sebagai identitas daerah, penopang hidup, juga aset masa depan.
"Ketika berbicara tentang pangan, kita tidak hanya berpikir tentang padi dan jagung. Ada berbagai sumber pangan lokal lain. Dari Flores, NTT, ada sorgum yang bisa menjadi bagian dari masa depan pangan Indonesia, bahkan dunia," ungkapnya.
Maria Loretha berharap pengembangan sorgum dapat menjadi solusi pangan berkelanjutan bagi NTT.
"Salam sorgum bergizi, sehat, dan berduit. Sorgum bergizi karena kandungan nutrisinya sangat baik untuk kesehatan, dan berduit karena berdampak ekonomi bagi masyarakat," katanya di hadapan para peserta Penganugerahan Liputan6 Awards.
Kiprah dan dedikasi "Mama Sorgum NTT" ini dinilai sejalan dengan program pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan dan diversifikasi pangan.
Menko Pangan RI, Zulkifli Hasan mengucapkan selamat kepada Mama Maria Loretha atas raihan anugerah Liputan6 Awards 2026, sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi nyata mengembangkan sorgum sebagai pangan lokal di NTT.
"Saya mengucapkan selamat kepada Maria Loretha atas dedikasinya mengangkat tanaman lokal sorgum sebagai bagian dari ketahanan pangan Indonesia," ucap Menko Zulkifli melalui tayangan video.
Menko Zulkifli menyebut, di tengah tantangan pangan global, upaya Maria Loretha adalah contoh nyata bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari kekuatan masyarakat kita sendiri. Selamat kepada Maria Loretha atas penghargaan Liputan6 Awards 2026. Semoga pengabdian ini menjadi inspirasi untuk terus menjaga kedaulatan pangan Indonesia. Selamat dan sukses," ungkap Menko Zulkifli sembari menyampaikan permohonan maaf karena tidak bisa hadir langsung di acara penghargaan itu karena sedang mendampingi Presiden Prabowo di daerah Kebumen.
Merawat Sorgum; Melestarikan Kehidupan
Sejak 2027 silam, Mama Maria Loretha mulai fokus pada pemberdayaan masyarakat dari sudut pandang ekonomi dengan memanfaatkan budaya tradisi Lamaholot.
Ia menuturkan bahwa berkat bantuan media, dirinya berhasil mendapatkan benih sorgum yang diperlukan.
"Dan puji Tuhan, sejak awal merintis usaha yang dianggap aneh dan mustahil oleh sebagian besar masyarakat Flores, NTT, kini 'misi gila' ini berhasil," kisah Maria Loretha kepada media ini dalam sebuah kesempatan.
Mama Maria menerangkan, sorgum yang dipanen kemudian diolah menjadi berbagai jenis cemilan atau sebagai substitusi beras sebagai makanan pokok masyarakat.
Perempuan berusia 54 tahun yang lahir di Ketapang, Kalimantan Barat ini mengatakan bahwa upaya pengembangan sorgum yang ia tekuni selama belasan tahun, memang tidak berjalan mulus.
Menurutnya, masih banyak orang yang belum melihat keunggulannya, terutama kandungan serat dan nutrisi yang lebih tinggi dibandingkan beras dan jagung, yang amat bermanfaat untuk tubuh.
"Serat (nutrisi) ini berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan dan membantu mengikis kolesterol berbahaya sehingga dapat menjaga kesehatan jantung dan mencegah stroke," katanya.
"Sorgum juga bisa menyembuhkan beberapa penyakit; seperti penyakit gula, diabetes melitus, masalah usus, lambung, tulang rapuh, jantung dan tiroid," bebernya.
Pendiri Perhimpunan Petani Sorgum untuk Kedaulatan Pangan Nusa Tenggara Timur (P2SKP-NTT) ini menekankan bahwa pemberdayaan masyarakat sejalan dengan pemberdayaannya sendiri.
"Janganlah secara umum menganggap wilayah Timur sebagai daerah miskin, atau membuat stigma bahwa NTT miskin, mengalami stunting, kekurangan air, dan stereotipe negatif lainnya. Padahal, kami memiliki kopi Flores, potensi perikanan laut yang melimpah, sorgum, dan banyak potensi lainnya," timpalnya.
Sentuhan Kearifan Budaya Lokal
Maria Loretha mengungkapkan bahwa wilayah Flores, NTT, selalu melekat dengan ritual dan tradisi budaya, termasuk dalam konteks pemberdayaan Sorgum di Flores Timur dalam tradisi budaya Lamaholot.
"Saya merefleksikan perjalanan dan usaha pemberdayaan sorgum dan aneka benih lokal, dengan tetap mestarikan nilai-nilai budaya Lamaholot sebagai pengalaman terbaik dalam menyukseskan pertanian lahan kering di Flores-Lembata," ujarnya.
"Ritual dan tradisi menjadi alat pemberdayaan; seperti konsumsi jagung muda, sorgum (watablolo), serta mengadaptasi tradisi untuk mengusir hama. Kami melakukan ini sesuai dengan aturan kami sendiri, membangkitkan romantisme, dongeng-dongeng, juga mengangkat peran perempuan dalam pengorbanan untuk menghasilkan benih," ungkapnya bangga.
Maria Loretha yang juga Pendiri Sekolah Agro Sorgum Flores yang berbasis di Desa Pajinian, Adonara, Kabupaten Flores Timur (Flotim) ini meyakini, melestarikan sorgum adalah menjaga warisan yang menghidupkan bagi masa depan anak cucu.
"Mari kita berpikir bahwa selain nasi, kita punya makanan utama yang diwariskan oleh nenek moyang kita," ajaknya.
Ia mengatakan, keterbukaan cara berpikir akan sangat penting membantu kita melihat ketersediaan pangan pada segala musim. Baginya, sorgum adalah penyelamat jika keadaan alam tidak memungkinkan.
"Yang paling utama adalah bagaimana mengubah cara pandang dan pola pikir (mindset) masyarakat kita untuk melihat sorgum sebagai makanan lokal yang memiliki beragam kelebihan, termasuk bisa tumbuh di mana pun kita menanamnya. Saatnya, dalam konteks kolaborasi pentahelix, setiap elemen di Flores-NTT memformulasikan model transformasi masyarakat melalui revitalisasi budaya," tandasnya.
Sebelum menerima penghargaan Liputan6 Award 2026, Mama Maria Loretha pernah mendapat penghargan Kehati Award 2012 (bidang keanekaragaman hayati dan pelestarian sumberdaya genetik lokal), Ashoka Award–Innovators for the Public 2013 sebagai sosok inovatif yang berdampak publik di bidang sosial, Svarna Bhumi Pahlawan Award 2023 sebagai pahlawan pangan lokal Indonesia.
Selain itu, ia juga menerima berbagai penghargaan nasional di bidang lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan penyuluhan pangan; seperti Kartini Award, Nova Award, Anugerah Seputar Indonesia, dan penghargaan Kementerian Pertanian.
--- Guche Montero
Komentar