Breaking News

PERTANIAN Gubernur Melki Ajak Gerakan Bersama Bangun Agribisnis Jagung NTT 14 Aug 2026 23:33

Article image
Gubernur NTT bersama para stakeholders saat membuka kegiatan Gebyar Gelar Teknologi Budidaya Jagung Hibrida di Kabupaten Kupang, NTT. (Foto: Che/Indonesia Satu)
Gubernur Melki menekankan, peningkatan produksi harus didukung dengan kebijakan, pembiayaan, pendampingan, inovasi, teknologi, serta kepastian pasar.

KUPANG, IndonesiaSatu.co-- Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emmanuel Melkiades Laka Lena mengajak seluruh stakeholders untuk bergotong royong membangun agribisnis jagung di NTT dari hulu hingga hilir.

Ajakan tersebut disampaikan Gubernur Melki saat membuka Gebyar Gelar Teknologi Budidaya Jagung Hibrida dan Pencanangan Gerakan Masyarakat Agribisnis Jagung (GEMA AGUNG) bertempat di Balai Benih Induk (BBI) Tarus, Desa Air Mata, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Jumat (14/8/2026).

Gubernur Melki menekankan, peningkatan produksi harus didukung dengan kebijakan, pembiayaan, pendampingan, inovasi, teknologi, serta kepastian pasar.

"Kegiatan yang bermartabat ini sangat dekat dengan kehidupan masyarakat di NTT yaitu pangan, pertanian dan kesejahteraan. Karena itu, kegiatan ini tidak semata soal seremoni dan slogan tetapi sungguh harus menjadi gerakan bersama untuk membangun agribisnis jagung dari hulu sampai hilir. Kita ingin agar petani tidak hanya menanam dan memanen tetapi terutama menjadi bagian utama dan penting dari sebuah agribisnis yang memberikan nilai tambah," kata Gubernur Melki sembari mengapresiasi Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT serta semua pihak yang telah bekerja sama dalam mendukung kegiatan tersebut.

Gubernur mengatakan bahwa pemerintah akan terus hadir melalui kebijakan dan pendampingan, dunia usaha diharapkan membuka akses pasar, perguruan tinggi menghadirkan inovasi, serta para petani menjadi pelaku utama produksi.

Gubernur menyebut, NTT memiliki potensi lahan yang sangat luas dan pengalaman masyarakat yang sangat panjang. Namun potensi tersebut belum sepenuhnya dioptimalkan karena produktivitas jagung yang masih perlu ditingkatkan.

Karena itu, Gubernur mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidak hanya sekedar memperluas lahan, tetapi terutama bagaimana upaya meningkatkan produktivitas dari lahan yang ada, mendorong penggunaan benih unggul dan bersertifikat, teknologi budidaya, pemupukan yang berimbang, pengelolaan lahan yang baik, serta penanganan panen dan pasca-panen secara benar.

"Kegiatan hari ini menjadi penting karena tidak hanya berbicara mengenai teknologi, namun melihat langsung penerapannya melalui demplot varietas jagung hibrida.

Kita semua harus menyadari bahwa peningkatan produktivitas tidak semata dibebankan kepada petani. Petani tentu membutuhkan benih, pupuk, teknologi pembiayaan pendampingan, dan yang penting bagaimana kepastian pasar," ujarnya.

Karena itu, lanjutnya, dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, petani, penyuluh perguruan tinggi, dunia usaha, perbankan, bulog, produsen, serta seluruh stakeholder terkait.

"Kita ingin agar ketika produksi meningkat, petani juga mendapatkan harga dan pendapatan yang lebih baik," imbuhnya.

Pada kesempatan itu, Gubernur juga mengajak seluruh petani milenial di NTT untuk terus membuka diri terhadap berbagai Inovasi dan teknologi. 

"Teknologi perlu kita manfaatkan untuk membuat pekerjaan petani menjadi lebih efektif produktif dan menguntungkan," ujarnya.

Gubernur berharap agar dari Balai Benih Induk Tarus, lahir satu semangat baru bahwa jagung NTT harus dikembangkan bersama dengan cara yang lebih modern, lebih produktif dan berorientasi pada kesejahteraan petani. 

Menurutnya, NTT sudah memiliki sumber daya, petani, lahan, juga mitra. 

"Oleh karena itu, dibutuhkan kemauan untuk berkolaborasi dan konsisten menerapkannya.

Dalam semangat gotong royong, mari kita bersama menatap Indonesia Terang, Ayo Bangun NTT, Ayo Bangun Indonesia," ajak Gubernur Melki.

Karakteristik NTTBLahan yang Mendukung

Sementara itu, Direktur Perbenihan Tanaman Pangan pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementrian Pertanian RI, Dr. Ir. Ladiyani Retno Widowati, M.Sc, menyebut NTT sebagai salah satu daerah yang memiliki kondisi agroklimat dan karakteristik lahan yang cocok untuk pengembangan pangan dan holtikultura.

"Dengan potensi dan karakteristik wilayah yang mendukung seperti di NTT ini, perlu perencanaan dan kesesuaian dengan lahan, iklim, pasokan air, dan karakteristik sehingga berdampak pada peningkatan tanaman pangan maupun holtikultura secara terpadu dan berkelanjutan," jelasnya.

Ladiyani juga mengatakan bahwa kemandirian benih akan menjadi fondasi penting dalam peningkatan produktivitas dan produksi jagung nasional sehingga memperkuat kemandirian pangan nasional.

Ia menyebut, keberhasilan kegiatan penyediaan benih Tahun Anggaran 2026 oleh pemerintah tidak terlepas dari peran serta stakeholders perbenihan.

Ia meminta agar Kepala Dinas Pertanian Provinsi segera mengkoordinasikan stakeholders perbenihan yang ada di wilayahnya antara lain UPTD Balai Benih, UPTD BPSB TPH, produsen Benih BUMN dan swasta untuk melakukan pengawalan penyediaan benih bersertifikat.

Dalam sesi dialog singkat, para perwakilan kelompok tani menyampaukan aspirasi berupa masalah pemasaran (stabilitas harga jagung dan bawang); kesulitan mendapatkan pupuk, bantuan alsintan, dan dukungan pembukaan lahan baru; serta dukungan fasilitas untuk petani milenial dalam meningkatkan nilai jual komoditi pertanian. 

Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran Kementrian Pertanian, OPD lingkup Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota, para Penyuluh, Produsen Benih, Kelompok Petani Jagung, Pelaku Usaha Perbenihan, Perbankan, mahasiswa-mahasiswi, serta perwakilan para petani.

--- Guche Montero

Komentar