REFLEKSI Jadilah Pribadi yang Peduli dan Tulus Hati 24 Sep 2026 12:20
Ketulusan lahir ketika seseorang hadir bagi orang lain tanpa kepura-puraan dan tanpa menjadikan hubungan sebagai sekadar transaksi kepentingan.
Oleh: Valens Daki-Soo*
Ada yang bilang, tidak mudah menemukan orang yang tulus dan peduli di era penuh kompetisi ini, apalagi di megapolitan Jakarta yang masyarakatnya kian individualistis. Namun, dalam perjalanan pribadi saya, justru saya menemukan masih banyak orang baik yang peduli dan tulus hati.
Ada jurnalis senior sekaligus pemimpin redaksi harian ekonomi yang selalu rela berbagi pengalaman, spirit, dan motivasi.
Ada pula bankir dan pebisnis yang bermurah hati membuka jalan agar saya -- yang "dari sono"-nya sama sekali tidak pernah berurusan dengan bisnis -- bisa belajar menjadi pengusaha.
Waktu itu beliau berpesan, "Bung, Anda boleh jago sebagai orator, tapi dalam politik itu tidak cukup kalau tidak punya uang." Saya tertawa, sambil dalam hati membenarkannya.
Politik memang membutuhkan idealisme, gagasan, dan kemampuan berkomunikasi, tetapi dalam praktiknya juga membutuhkan fondasi ekonomi.
Namun, bagi saya, ada pelajaran yang jauh lebih penting dari pengalaman itu. Kita patut bersyukur karena masih ada orang-orang yang mau peduli dan tulus membantu kemajuan orang lain.
Senior dan sahabat yang jurnalis itu tidak mendapatkan apapun dari saya sebagai imbalan atas setiap "sharing" gagasan dan pengalamannya yang inspiratif. Bankir dan pengusaha yang membuka cakrawala saya tentang dunia bisnis juga tidak pernah menerima jasa baik apapun dari saya sebelumnya. Ia hanya tergerak hatinya melihat seorang politisi asal Flores yang bergerak lebih karena semangat, tetapi belum memiliki dukungan logistik dan fondasi ekonomi yang memadai.
Itulah contoh pribadi yang peduli dan tulus hati.
Dalam perspektif psikologi positif, tindakan membantu orang lain secara tulus bukan hanya bermanfaat bagi penerima, tetapi juga dapat memberi makna dan kepuasan batin bagi orang yang memberi.
Psikolog Sonja Lyubomirsky, melalui berbagai kajian tentang kebahagiaan, menunjukkan bahwa tindakan kebaikan kepada orang lain dapat berkontribusi pada kesejahteraan psikologis. Kebaikan, dengan demikian, bukan sekadar tindakan sosial, tetapi juga bagian dari kehidupan yang bermakna.
Psikolog Carl Rogers juga menekankan pentingnya penerimaan dan hubungan manusia yang autentik. Ketulusan lahir ketika seseorang hadir bagi orang lain tanpa kepura-puraan dan tanpa menjadikan hubungan sebagai sekadar transaksi kepentingan.
Oleh karena itu, niat yang tulus dan hati yang ikhlas membuat wajah Anda bersinar, memantulkan kebeningan dan kekuatan jiwa.
Jika Anda tulus, senyum Anda tidak hanya indah, tetapi juga menyemburkan "virus" gairah hidup yang mudah menjalar kepada orang-orang di sekitar Anda.
Kalau Anda ikhlas, apa pun yang Anda lakukan tidak pernah benar-benar sia-sia. Mungkin balasannya tidak datang hari ini, bahkan mungkin tidak datang dari orang yang pernah Anda bantu. Tetapi kebaikan selalu meninggalkan jejak: dalam ingatan, dalam hubungan, dan dalam kehidupan orang lain.
Maka, jadilah pribadi yang peduli dan tulus hati. Jangan selalu menghitung apa yang akan kita dapatkan dari sebuah kebaikan.
Ketika kebaikan dilakukan dengan hati yang bersih, kita tidak hanya membantu orang lain bertumbuh, tetapi juga sedang membangun kualitas diri kita sendiri. Itulah yang membuat seseorang dihormati bukan karena jabatan atau kekayaannya, melainkan karena kehadirannya memberi arti bagi sesama.
Pribadi yang peduli dan tulus hati bukan hanya membuat dirinya dicintai, tetapi juga dapat hadir sebagai agen pembawa damai di tengah dunia yang semakin membutuhkan kasih, empati, dan sentuhan kemanusiaan.
*) Penulis adalah entrepreneur; peminat psikologi; Pendiri & CEO VDS Group (PT Veritas Dharma Satya, PT Veritas Media Bangsa, Firma Hukum "Veritas Dignitas Salus")
Komentar