Breaking News

BUDAYA Medium Kohesi Sosial, Luminesa Hadirkan Layar Tancap di Awal Tahun 01 Jan 2026 18:39

Article image
Layar Tancap. (Foto: Ist)
Menonton film bersama adalah pengalaman sosial. Ia membuka ruang dialog, menumbuhkan empati, dan mempererat rasa kebersamaan.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co  - Forum Peduli Literasi Masyarakat melahirkan wadah baru yang berfokus pada audio visual bernama Komunitas Luminesa. Forum ini bertujuan untuk menjadi medium edukasi dan produksi pengetahuan.

Pada momen perayaan tahun baru ini, Komunitas Luminesa mengadakan pemutaran layer tancap. Diadakannya layar tancap merupakan upaya kultural untuk menghidupkan kembali memori kolektif warga terhadap tradisi menonton bersama yang pernah tumbuh subur di ruang-ruang publik Jakarta pada masa lampau.               

“Di tengah perubahan pola konsumsi hiburan yang semakin individual dan berbasis gawai, komunitas Luminesa menghadirkan kembali layar tancap sebagai ruang bersama untuk menonton film, membangun literasi, serta memperkuat keakraban sosial di tengah masyarakat,” ujar Dahlan founder Luminesa.                  

Komunitas Luminesa memutar film ‘Buaye Gile’ dan ‘Musuh Bebuyutan’ yang dibintangi oleh Benyamin Sueb yang merupakan legenda dan ikon kebudayaan Betawi.

Benyamin Sueb telah menjadi memori kolektif bagi masyarakat Jakarta dalam bidang kesenian dan budaya. Tetapi menghadirkan Benyamin dalam masa kini merupakan semangat literasi untuk generasi Z dan orang muda untuk memahami sejarah dan sosial budaya Jakarta lewat sinema.                 

Kegiatan layar tancap yang digelar Luminesa tidak semata menjadi hiburan malam bagi warga, melainkan dirancang sebagai praktik literasi audiovisual yang menghidupkan kembali tradisi menonton bersama. Dalam konteks ini, film diposisikan sebagai teks budaya yang dapat dibaca, dimaknai, dan didiskusikan secara kolektif.         

“Menonton film bersama adalah pengalaman sosial. Ia membuka ruang dialog, menumbuhkan empati, dan mempererat rasa kebersamaan. Layar tancep memungkinkan masyarakat kembali berkumpul, saling menyapa, dan berbagi makna,” tutur Dahlan.         

Layar tancep memiliki fungsi penting sebagai medium kohesi sosial. Aktivitas menonton bersama di ruang terbuka mendorong interaksi antarwarga, membangun semangat gotong royong, serta memperkuat ikatan sosial yang kerap tergerus oleh hiburan lewat gawai yang serba personal dan tertutup.

Warga terlibat sejak tahap persiapan, mulai dari penataan ruang, penyediaan perlengkapan, hingga makan bersama pasca pemutaran, yang secara alami membangun rasa memiliki dan kebersamaan.                 

 

Hadirkan Ruang Egaliter

Dari sisi literasi, film menjadi sarana pembelajaran yang kontekstual dan mudah diakses. Melalui narasi visual, masyarakat diajak membaca realitas sosial, memahami nilai-nilai kemanusiaan, serta mengasah kemampuan berpikir kritis.

Demikian pun, diskusi ringan setelah pemutaran film menjadi bagian integral dari kegiatan, mendorong warga untuk bertukar pandangan dan mengekspresikan pendapat secara terbuka.                  

Inisiatif ini juga sejalan dengan pendekatan literasi kontemporer yang menekankan pentingnya literasi visual dan media sebagai pelengkap literasi baca-tulis. Dalam dunia yang dipenuhi arus informasi audiovisual, kemampuan memahami pesan film, gambar, dan cerita visual menjadi kompetensi penting bagi masyarakat.       

Luminesa menilai bahwa layar tancap adalah bentuk literasi yang membumi dan inklusif. Menjembatani hiburan, pendidikan, dan interaksi sosial dalam satu ruang yang egaliter. Dengan menghadirkan film di ruang publik, literasi tidak lagi terasa elitis, melainkan hadir sebagai praktik budaya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.       

Ke depan, Luminesa memiliki program workshop film untuk orang muda sebagai pelatihan intens membuat film. Luminesa juga berkomitmen untuk terus mengembangkan program layar tancap literasi sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang tidak hanya terhibur, tetapi juga kritis, berempati, dan solid secara sosial.

Melalui film dan kebersamaan, Luminesa percaya bahwa literasi dapat menjadi jalan untuk memperkuat ikatan sosial dan nilai gotong royong di tengah masyarakat. *

--- F. Hardiman

Komentar