Breaking News

OPINI Catatan Politik Tahun 2025: Stabilitas Semu dan Demokrasi yang Makin Tergerus 01 Jan 2026 12:50

Article image
Jeirry Sumampow, Koordinator Komite Pemilih Indonesia. (Foto: Ist)
Tahun 2025 bukanlah tahun konsolidasi demokrasi, melainkan tahun konsolidasi kekuasaan yang makin menjauh dari rakyat.

Oleh: Jeirry Sumampow*)

JAKARTA, IndonesiaSatu.co  - Tahun 2025 segera berlalu, namun ia meninggalkan jejak yang amat tebal dalam nalar demokrasi kita. Jika kita harus jujur - dan kita memang harus jujur jika masih mencintai Republik ini - tahun 2025 bukanlah tahun konsolidasi demokrasi, melainkan tahun konsolidasi kekuasaan yang makin menjauh dari rakyat.

Kita menyaksikan sebuah paradoks yang menyesakkan: stabilitas politik tampak begitu tenang di permukaan, namun di bawahnya, fondasi kedaulatan rakyat sedang digerogoti secara perlahan tapi pasti oleh ambisi-ambisi pragmatis para elit yang merasa sudah memenangi segalanya.

 

Anatomi Politik 2025: Fenomena "Perselingkuhan" Elit

Sepanjang tahun 2025, fenomena yang paling menonjol adalah apa yang saya sebut sebagai "kartelisasi politik yang paripurna". Dinamika politik kita tidak lagi diwarnai oleh dialektika kebijakan atau perdebatan ideologis yang sehat. Sebaliknya, kita melihat semua kekuatan politik besar seolah-olah masuk ke dalam satu gerbong besar kekuasaan dengan alasan "stabilitas demi pembangunan". Padahal, dalam kamus demokrasi, ketiadaan oposisi yang kredibel adalah lonceng kematian bagi akuntabilitas dan transparansi.

Peristiwa reshuffle kabinet di pertengahan tahun dan pergeseran beberapa posisi strategis di lembaga-lembaga negara menunjukkan betapa kuatnya tangan-tangan kekuasaan dalam mengatur ritme politik. Dinamika ini bukan lagi soal siapa yang paling mampu bekerja untuk rakyat, tapi soal siapa yang paling setia menjaga kepentingan koalisi besar. Rakyat hanya ditempatkan sebagai penonton dari sebuah sandiwara yang naskahnya sudah disusun di meja-meja makan m eksklusif para elit politik dan pimpinan partai.

Secara umum, peristiwa politik 2025 juga diwarnai oleh munculnya kebijakan-kebijakan yang "tuna-empati". Kenaikan beban pajak (PPN 12% dan berbagai pungutan baru), penyesuaian tarif energi, serta kebijakan fiskal yang mencekik kelas menengah dilakukan dengan dalih mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi. Pertanyaannya: pertumbuhan ekonomi untuk siapa? Jika indikator makro dianggap membaik tapi meja makan rakyat semakin kosong, maka politik telah kehilangan fungsi kemanusiaan dan kedaulatannya.

 

Lima Akar Kerusakan Demokrasi 2025

Apa yang sebetulnya terjadi di dalam rahim politik Indonesia tahun 2025? Ada lima persoalan fundamental yang saling berkelindan, kemudian menciptakan sebuah ekosistem politik yang sakit dan menjauh dari cita-cita reformasi.

 

  1. Menguatnya Sentralisme Eksekutif

Kita melihat kembalinya pola-pola kekuasaan yang sangat sentralistik, bahkan melampaui apa yang kita bayangkan di awal masa transisi. Eksekutif seolah-olah menjadi "dirigen" tunggal yang mengontrol semua instrumen negara. DPR, yang seharusnya menjadi penyeimbang, justru terlihat seperti "kantor cabang" atau sekadar stempel dari kepentingan pemerintah. Hampir tidak ada produk legislasi di tahun 2025 yang benar-benar lahir dari aspirasi bawah melalui debat publik yang sehat; mayoritas adalah pesanan dari atas yang dibungkus rapi dengan jargon akselerasi pembangunan dan stabilitas nasional.

 

  1. Hukum sebagai Alat Penjinak dan Instrumen Barter

Saya melihat bahwa hukum di tahun 2025 makin sering digunakan sebagai instrumen "barter" politik. Penegakan hukum tampak tajam kepada mereka yang berada di luar lingkaran kekuasaan atau yang mencoba bersuara kritis, namun tumpul dan penuh kompromi ketika menyentuh lingkar dalam koalisi. Ini adalah degradasi moral yang sangat serius. Ketika aparat penegak hukum dan lembaga yudikatif terseret dalam pusaran kepentingan politik praktis, maka integritas negara hukum kita sedang berada di titik nadir. Hukum tidak lagi menjadi Panglima, melainkan menjadi alat penjinak lawan.

 

  1. Politik Populis: Candu yang Meninabobokan Rakyat

Tahun 2025 ditandai dengan massifnya penggunaan politik populis sebagai instrumen peredam gejolak sosial. Pemerintah sangat gemar memproduksi kebijakan yang "terasa enak" di permukaan namun "keropos" di substansi. Program bagi-bagi bansos yang tidak tepat sasaran, makan bergizi gratis (MBG) yang menyedot anggaran pendidikan dan kesehatan, serta narasi "politik riang gembira" adalah upaya sistematis untuk menjauhkan rakyat dari substansi persoalan kenegaraan. Ini adalah strategi klasik "bread and circuses" - beri rakyat roti dan pertunjukan agar mereka lupa pada hak-hak sipilnya yang sedang dirampas. Populisme ini berbahaya karena ia memangkas daya kritis warga negara dan menggantinya dengan ketergantungan pada sosok pemimpin, bukan pada penguatan sistem.

 

  1. Gurita Dinasti Politik dan Nepotisme yang Terlembagakan

Fenomena yang paling menyakitkan bagi nalar demokrasi kita di tahun 2025 adalah normalisasi dinasti politik dan nepotisme. Kita tidak lagi melihat ini sebagai penyimpangan, melainkan sebuah strategi yang sengaja dipamerkan secara terbuka. Jabatan publik tidak lagi diraih melalui proses kaderisasi yang sehat di internal partai, melainkan melalui jalur hubungan darah dan kekerabatan. Nepotisme tahun 2025 telah menjadi "penyakit akut" yang mematikan meritokrasi. Ketika anak, menantu, atau kerabat elit menduduki posisi strategis tanpa rekam jejak yang mumpuni, maka negara sedang dikelola seperti perusahaan keluarga. Dampaknya luar biasa: birokrasi menjadi tidak profesional dan korupsi cenderung dilakukan secara kolektif di dalam lingkaran keluarga.

 

  1. Matinya Narasi Publik dan Dominasi Mesin Buzzer

Politik 2025 juga ditandai dengan matinya ruang publik yang sehat. Kritik-kritik substantif dari akademisi, mahasiswa, dan aktivis seringkali tenggelam oleh narasi buatan yang diproduksi secara massal oleh pasukan digital (buzzer). Akibatnya, isu-isu krusial seperti kerusakan lingkungan akibat eksploitasi tambang, pelanggaran HAM, dan ketimpangan ekonomi yang makin lebar tertutup oleh kebisingan konten remeh-temeh di media sosial dan media lainnya. Ini adalah pembodohan publik yang terstruktur, sistematis, dan massif, di mana kebenaran objektif digantikan oleh persepsi yang dibangun melalui manipulasi informasi.

 

Dinamika Kebijakan: Antara Janji dan Realita

Tahun 2025 adalah tahun pertama implementasi penuh janji-janji kampanye besar. Namun, yang kita lihat adalah ketidaksinkronan antara retorika dan eksekusi. Program-program populis memang memberikan dampak jangka pendek bagi sebagian masyarakat, namun tanpa perbaikan struktur ekonomi yang fundamental, kebijakan ini justru menjadi beban fiskal yang mengerikan dan memicu kenaikan utang luar negeri secara signifikan.

Dinamika ini menunjukkan bahwa politik kita masih terjebak pada politik jangka pendek. Para elit lebih peduli pada popularitas di survei bulanan (yang seringkali sudah diatur) daripada keberlanjutan masa depan bangsa. Akibatnya, kebijakan yang diambil seringkali bersifat reaktif dan tidak menyentuh akar persoalan, yaitu ketidakadilan distribusi sumber daya alam dan konsentrasi kekayaan pada segelintir orang. Rakyat disuruh bersabar demi "Indonesia Emas", sementara para elit sedang sibuk memanen hasil dari "Indonesia Cuan".

 

Prediksi Politik Indonesia 2026: Menuju Titik Jenuh

Berdasarkan kajian atas turbulensi dan pola politik sepanjang 2025, saya memprediksi bahwa tahun 2026 akan menjadi "Tahun Ujian Nyata" atau bahkan "Tahun Titik Jenuh". Ada beberapa poin krusial yang akan mewarnai tahun depan:

 

  1. Pecahnya Kongsi Koalisi Besar

Sifat koalisi yang dibangun di atas kepentingan pragmatis biasanya tidak akan bertahan lama. Di tahun 2026, ketika pembagian "kue kekuasaan" mulai dirasa tidak adil oleh salah satu pihak, atau ketika beberapa figur mulai mencuri start untuk kepentingan politik 2029, maka keretakan di internal pemerintah akan mulai muncul ke permukaan. Oligarki akan mulai terbelah karena persaingan bisnis dan akses terhadap proyek negara. Reshuffle jilid berikutnya diprediksi akan terjadi dan lebih bermuatan politis daripada teknokratis.

 

  1. Kebangkitan Perlawanan Rakyat Akar Rumput

Sejarah mengajarkan bahwa ketika saluran formal (DPR dan Partai Politik) mampet, maka aspirasi akan mencari jalannya sendiri di jalanan. Pada 2026, saya memprediksi akan ada gelombang protes yang lebih luas dan organik. Pemicunya bukan lagi soal isu politik abstrak, tapi soal "urusan perut". Kenaikan harga kebutuhan pokok yang tak terkendali dan beban pajak yang tak masuk akal akan memicu kemarahan kolektif. Kelompok buruh, petani, nelayan, mahasiswa, dan masyarakat sipil lainnya akan menemukan momentum untuk melakukan konsolidasi yang jauh lebih besar dari tahun sebelumnya.

 

  1. Pertarungan di Mahkamah Konstitusi

Agaknya beberapa UU kontroversial yang dipaksakan sah di tahun 2025 akan menemui ujian berat di 2026 melalui judicial review. MK akan kembali menjadi panggung pertempuran antara penjaga konstitusi dan kepentingan politik praktis. Integritas hakim MK di tahun 2026 akan benar-benar diuji: apakah mereka akan berpihak pada akal sehat konstitusional atau menyerah pada tekanan politik dan godaan jabatan? Rakyat akan menonton dengan seksama apakah MK masih menjadi "the guardian of constitution" atau justru menjadi "the guardian of oligarchy."

 

  1. Menguatnya Sentimen Anti-Dinasti

Jika di tahun 2025 rakyat seolah diam melihat nepotisme, maka di tahun 2026 rasa muak publik diprediksi akan mencapai puncaknya. Skandal-skandal yang melibatkan anggota keluarga elit politik akan lebih mudah terbongkar dan menjadi pemicu delegitimasi kekuasaan. Masyarakat akan semakin kritis terhadap praktik nepotisme yang menghambat kesempatan bagi anak bangsa yang berprestasi. Isu dinasti politik akan menjadi beban moral yang berat bagi rezim yang kini berkuasa.

 

  1. Polarisasi Baru: Nasionalis-Pragmatis vs Reformis-Kritis

Polarisasi politik 2026 tidak lagi soal identitas agama yang usang, melainkan soal keberpihakan pada sistem. Akan ada garis tegas antara kelompok yang ingin mempertahankan status quo demi stabilitas ekonomi semu (nasionalis-pragmatis) dengan kelompok yang menuntut perbaikan sistem demokrasi, keadilan ekonomi, dan penegakan hukum yang jujur dan adil (reformis-kritis). Perdebatan akan bergeser ke arah bagaimana menyelamatkan Republik dari kehancuran institusional.

 

Penutup

Menutup catatan ini, saya ingin menegaskan kembali bahwa politik Indonesia di tahun 2025 sedang berjalan dalam kegelapan dan kemunduran demokrasi. Kita terlalu sibuk memuja angka-angka pertumbuhan ekonomi yang rapuh, namun abai pada pertumbuhan nilai-nilai keadaban politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika pola politik transaksional, pembungkaman suara kritis melalui mesin digital, dan normalisasi dinasti politik terus berlanjut di tahun 2026, maka kita tidak sedang menuju kejayaan masa depan, melainkan menuju kehancuran sebuah peradaban bernegara.

Tahun 2026 harus dijadikan momentum untuk melakukan koreksi total. Rakyat tidak boleh lagi hanya menjadi pemilih yang pasif dan mudah disuap dengan janji-janji populis sesaat. Kita harus kembali menjadi warga negara yang aktif, yang berani melakukan pengawasan dan penolakan terhadap kebijakan yang melenceng. Kita butuh keberanian untuk mengatakan tidak pada praktik nepotisme dan oligarki yang merusak.

Demokrasi mungkin bisa dibeli dengan uang para oligarki, tapi martabat dan masa depan bangsa ini tidak boleh kita biarkan terjual. Mari kita masuki tahun 2026 dengan kewaspadaan yang tinggi, nalar kritis yang tidak pernah padam, dan semangat untuk merebut kembali kedaulatan rakyat yang sedang disandera. Tanpa itu, politik hanyalah sebuah sirkus kekuasaan yang melelahkan dan merugikan masa depan generasi mendatang.

*) Penulis Adalah Koordinator Komite Pemilih Indonesia.

 

--- F. Hardiman

Komentar