HUNIAN Mencari Tenang Lewat Warna 27 Jan 2026 13:07
JAKARTA, IndonesiaSatu.co - Di tengah kehidupan modern yang bergerak serba cepat, banyak orang mulai kehilangan ritme. Notifikasi tak pernah berhenti, jadwal semakin padat, dan ruang untuk berhenti sejenak terasa kian sempit. Kota, dengan segala kemudahannya, juga menyimpan kelelahan yang sering kali tak disadari. Dalam kondisi seperti itu, rumah dan ruang publik kembali dicari bukan hanya sebagai tempat beraktivitas, melainkan sebagai ruang pemulihan—tempat menurunkan tempo dan menata ulang emosi.
Kebutuhan akan ketenangan inilah yang menjadi latar lahirnya pendekatan warna Colours of The Year 2026 dari Dulux bertajuk Rhythm of Blues™. Alih-alih sekadar mengikuti tren visual, pendekatan ini berangkat dari pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana ruang dapat membantu manusia menemukan kembali keseimbangan hidupnya?
Melalui kampanye #TemukanTenangmu, Dulux merespons perubahan cara manusia memaknai ruang di era modern. Hasil riset tahunan yang mengamati dinamika sosial, budaya, dan emosional menunjukkan bahwa manusia kini tidak lagi mencari ruang yang spektakuler, melainkan ruang yang menenangkan—ruang yang mampu menampung kelelahan dan memberi rasa aman.
Berbeda dari pendekatan sebelumnya yang mengedepankan satu warna utama, Rhythm of Blues™ menghadirkan spektrum biru dalam tiga nuansa, mencerminkan beragam ritme hidup manusia. Slow Swing™, biru gelap yang dalam, menawarkan ketenangan untuk melambat dan memulihkan energi—seperti jeda yang dibutuhkan setelah hari panjang. Mellow Flow™, biru terang yang lembut, menghadirkan keseimbangan dan kehangatan untuk ruang kebersamaan. Sementara Free Groove™, biru yang lebih ekspresif, memberi ruang bagi kreativitas tanpa kehilangan rasa nyaman.
Pilihan warna biru bukan tanpa alasan. Dalam psikologi warna, biru kerap diasosiasikan dengan stabilitas, rasa aman, dan ketenangan emosional. Paparan warna ini diketahui mampu menurunkan intensitas visual dan membantu tubuh merespons ruang dengan lebih rileks. Dalam konteks hunian dan ruang publik, warna tidak lagi dipandang sebagai pelengkap estetika, melainkan bagian dari pengalaman ruang itu sendiri.
Head of Marketing AkzoNobel Decorative Paints Indonesia, Niluh Putu Ayu Setiawati, menjelaskan bahwa pendekatan ini berangkat dari pemahaman bahwa setiap individu memiliki ritme hidup dan kebutuhan emosional yang berbeda.
“Kami ingin mengajak orang melihat warna sebagai bagian dari pengalaman ruang. Ketika ruang mampu mendukung rasa aman dan nyaman, individu akan lebih siap menghadapi dinamika hidup sehari-hari. Lewat Rhythm of Blues™, kami ingin menunjukkan bahwa ketenangan itu personal—ada biru untuk setiap ritme hidup,” ujarnya.
Dari sudut pandang arsitektur, warna kini menjadi elemen penting dalam perancangan ruang yang berorientasi pada kesejahteraan. Teguh Aryanto, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, menilai bahwa praktik desain saat ini telah melampaui soal bentuk dan fungsi.
“Kami semakin mempertimbangkan bagaimana ruang memengaruhi kondisi mental penggunanya. Warna biru membantu menurunkan intensitas visual dan menciptakan rasa stabil, sehingga ruang terasa lebih tenang tanpa menjadi dingin atau pasif,” tuturnya.
Pendekatan ini juga bersinggungan dengan isu kesehatan mental yang semakin mendapat perhatian. Sylvia M. Siregar, Founder & Board of Patrons Filoksenia Foundation, menyoroti peran ruang dan warna dalam mendukung anak-anak dengan neurodiverse.
“Bagi anak-anak dengan neurodiverse, lingkungan visual yang tepat sangat penting. Warna biru sering menjadi penyeimbang emosional—membantu menurunkan kecemasan, meredam overstimulasi, dan menciptakan rasa aman,” ujarnya.
Sementara itu, dari perspektif feng shui, rumah dipahami sebagai pusat keseimbangan energi. Jenie, seorang praktisi feng shui, menilai bahwa warna biru memiliki karakter yang adaptif dalam membantu penghuni rumah menurunkan ritme setelah aktivitas yang padat.
“Nuansa biru dalam Rhythm of Blues™ memungkinkan penyesuaian energi sesuai fungsi ruang. Ada ruang untuk melambat, mengalir, maupun mengekspresikan diri. Ini membantu menciptakan hunian yang lebih personal dan seimbang,” jelasnya.
Di tengah dunia yang semakin bising secara visual dan emosional, pendekatan warna seperti Rhythm of Blues™ mencerminkan pergeseran cara manusia memandang ruang. Rumah dan lingkungan sekitar tidak lagi hanya menjadi latar kehidupan, melainkan mitra yang aktif mendukung kesejahteraan.
Pada akhirnya, warna bukan sekadar soal selera. Ia adalah bahasa sunyi yang bekerja di balik kesadaran, membentuk suasana, memengaruhi emosi, dan membantu manusia menemukan kembali ritmenya. Dan mungkin, di tengah kehidupan modern yang terus bergerak, ketenangan memang perlu dicari—perlahan, lewat ruang, dan lewat warna. ***
--- Sandy Javia
Komentar