Breaking News

INTERNASIONAL Mengapa Kim Jong-Nam Dibunuh? 17 Feb 2017 11:32

Article image
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un menghadiri parade milier. (Foto: Indian Express)
Anehnya, peristiwa pembunuhan berlangsung di sebuah terminal bandara yang ramai. Hal ini yang mengundang tanda tanya besar. Pertanyaan berikutnya adalah pesan apa yang ingin disampaikan kepada kita tentang apa yang ada di rejim Kim Jong-Un.

Oleh Simon Leya

 

PELAKU dan motif pembunuhan terhadap Kim Jong-Nam, kakak tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un masih menjadi teka-teki. Sejauh ini otoritas Malaysia sudah menahan Siti Aisyah yang berpaspor Indonesia dan perempuan berusia 29 tahun berpaspor Vietnam bernama Doan Thi Huong. Kedua perempuan ini yang diduga digunakan agen Korea Utara (Korut) untuk membunuh Nam dengan menggunakan racun. Turut ditahan  Muhammad Farid Jalaluddin (26) yang adalah kekasih Siti Aisyah.

"Mereka mungkin telah dimanfaatkan untuk terlibat secara langsung dengan pembunuhan tersebut supaya identitas agen dinas rahasia itu tidak terungkapkan. Ini adalah taktik intelijen yang biasa disebut cut out," kata sumber di Kuala Lumpur.

Katie Stallard dalam tulisannya berjudul  “Did 'paranoid' Kim Jong-Un order his half-brother's assassination?” yang dimuat Sky New edisi Rabu (15/2/2017) mengatakan, bila pembunuhan terhadap Nam merupakan ‘pesanan’ dari Kim Jong-Un, apakah ini menjadi tanda dari kelemahan, kekuatan, atau mental paranoia dari pemimpin Korut tersebut?

Sosok Kim Jong-Nam selama ini kurang dikenal publik. Usai menyelesaikan pendidikannya di Eropa, Jong-Nam lebih banyak menghabiskan waktunya di luar kampung halamannya. Dia tingggal di pengasingan karena khawatir menjadi korban pembunuhan yang dilakukan adik tirinya. Jong-Nam lebih memilih Macau sebagai tempat tinggalnya karena di sana dia bisa menghirup udara kebebasan sebagaimana Eropa.

Anehnya, peristiwa pembunuhan berlangsung di sebuah terminal bandara yang ramai. Hal ini yang mengundang tanda tanya besar. Pertanyaan berikutnya adalah pesan apa yang ingin disampaikan kepada kita tentang apa yang ada di rezim Kim Jong-Un.

Haruskah kita memandang peristiwa ini sebagai kekuatan, kelemahan, mental paranoia, atau apapun dari pemimpin Korut Kim Jong-Un?

Padahal dunia mengetahui bahwa meskipun tidak mendukung rezim adik tirinya, tapi Kim Jong-Nam tidak pernah melancarkan kritikan secara terang-terangan.

Memang, selama ini Jong-Nam pernah bicara tentang perlunya reformasi di Korut dan menganut gaya perekonomian China yang liberal. Jong-Nam juga mempertanyakana suksesi kepemimpinan dinasti yang mengokohkan kultus pribadi dan ketaatan buta masyarakat Korut terhadap Jong-Un.

Jong-Nam sebenarnya memiliki hak untuk mewarisi kebesaran ayah mereka Kim Jong-Il. Sayangnya, Jong-Nam lahir dari seorang wanita yang tidak dinikahkan secara resmi. Jong-Nam adalah kakak tiri dari Kim Jong Un, hasil hubungan tidak resmi antara ayah mereka Kim Jong Il dengan seorang aktris Korsel Sung Hae Rim.

Oleh sang ayah, Jong-Nam dianggap terlalu kebarat-baratan, terlalu market-oriented karena mengenyam pendidikan di Swiss. Apalagi ibunya sudah berpisah dari sang ayah dan memilih mengungsi ke Rusia.

Di antara banyak motif pembunuhan, satu alasan yang paling dipercaya para jurnalis adalah karena Jong-Nam pernah berusaha menerobos ke Tokyo Disneyland dengan menggunakan paspor palsu. Jong-Nam kemudian dipulangkan ke Korut. Kejadian ini yang membuat Pyongyang malu bukan kepalang.

Beberapa tahun kemudian, Jong-Un menghamburkan banyak uang di salah satu lokasi judi terkanal di dunia, Macau. Beredar kabar, Jong-Nam  mendapat sokongan dana dalam jumlah besar dan mendapat perlindungan dari ororitas China yang mengharapkan kerja sama jangka panjang bila rezim Jong-Un jatuh.

Di mata Beijing, Jong-Un memiliki potensi besar untuk meneruskan dinasti Kim bila nanti pemerintahan Jong-Un jatuh.

Lalu, apakah kematian Jong-Nam memperlihatkan kekuatan Jong-Un yang saat ini sedang berkuasa? Tidak juga. Lebih tepat, Jong-Un sedang dilanda kekhawatiran. Pembunuhan terhadap Jong-Nam adalah langkah untuk mengamankan kekuasaannya, terutama rongrongan dari anggota keluarga sendiri.

Atau, jangan-jangan pembunuhan terhadap Jong-Nam sebagai tanda kelemahan Jong-Un? Bisa saja. Seorang pemimpin yang paranoid akan selalu dilanda ketakutan bahwa kekuasaannya sewaktu-waktu digulingkan oleh para lawan politiknya, terutama para pembangkang dan pengkianat yang akan menggusurnya tanpa ampun?

Karena itu, lebih banyak orang percaya bahwa kasus kematian Kim Jong-Nam adalah aksi pembersihan lebih awal terhadap para lawan, terutama lawan yang dipandang paling potensial menggusur Jong-Un dari kekuasaan. Kesimpulan sementara, kematian Jong-Nam adalah skenario yang dirancang intelijen Korut.

Aksi ‘bersih-bersih’ terhadap lawan yang dianggap mengancam posisinya pernah dilakukan Jong-Un manakala dia tanpa penyesalan mengeksekusi mati pamannya sendiri  Jenderal Jang Song-Thaek tahun 2013 karena dianggap tidak loyal.

Rezim Kim Jong-Un perlahan-lahan digerogoti dari dalam. Tahun lalu, Wakil Duta Besar Korut di Londong Thae Yong-Ho mencari perlindungan ke Korea Selatan.

Thae Yong-Ho mengatakan, dia melihat ada tanda-tanda perpecahan elit di Pyongyang di bawah kekuasaan Kim Jong-Un yang penuh dengan kesewenang-wenangan  dan teror.

Besar kemungkinan, Jong-Un sudah merencanakan pembunuhan terhadap Jong-Nam sejak pertama kali naik tahta. Dan waktu kematian Jong-Nam baru tiba saat ini.

“Apa yang kita tahu dengan pasti saat ini: bahwa orang yang memerintahkan pembunuhan adalah dia yang saat ini sedang aktif mengembangkan senjata nuklir yang mampu menjangkau Amerika Serikat,” demikian ditulis Katie Stallard.

 

--- Penulis adalah Redaktur Pelaksana IndonesiaSatu.co

 

Komentar