INTERNASIONAL Pakar Menyebutkan El Nino Tahun 2026 Terkuat Dalam 150 tahun Terakhir 30 Jul 2026 01:55
Sebagai gambaran, selisih suhu antara El Nino terkuat dan terkuat kelima dalam 150 tahun terakhir hanya sekitar 0,5°C
Jakarta, IndonesiaSatu.co-- Zeke Hausfather, ilmuwan iklim dari Berkeley Earth menyebutkan El Nino tahun ini diprediksi menjadi yang terkuat dalam 150 tahun terakhir. Hal itu disampaikan berdasarkan hasil simulasi dari 14 model perkiraan musim yang berbeda.
Melansir CNNIndonesia, yang dikutip dari Gizmodo pada Senin (17/7), Pakar membeberkan Dari 14 model perkiraan tersebut, menunjukan puncak suhu permukaan laut di Samudra Pasifik beresiko melonjak hingga 3,6°C di atas rata-rata, dan angka itu jauh lebih tinggi dibanding rekor Super El Nino sebelumnya pada periode 2015-2016 yakni sebesar 0,8°C.
"Sebagai gambaran, selisih suhu antara El Nino terkuat dan terkuat kelima dalam 150 tahun terakhir hanya sekitar 0,5°C," kata Hausfather
Lanjutnya, saat ini model-model prediksi perkiraan musim memprediksi sesuatu yang jauh berbeda.
"Model-model saat ini sedang memprediksikan sesuatu yang sama sekali di luar jangkauan apa pun yang pernah kita amati sebelumnya," lanjut Hausfather.
Selain itu, Lembaga pemantauan cuaca dan iklim Amerika Serikat, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), secara resmi menyatakan mulainya fase El Nino pada bulan Juni. Seiring menguatnya El Nino, lautan akan menyalurkan makin banyak panas ke atmosfer dengan puncak suhu permukaan laut diperkirakan terjadi antara bulan November hingga Februari.
Lantaran momen puncak terjadi jelang akhir tahun, dampak kenaikan suhu global paling signifikan biasanya baru akan terasa pada tahun berikutnya.
Hausfather menyebut bahwa kombinasi antara El Nino kali ini dan krisis iklim yang sedang terjadi berpotensi mendorong kenaikan rata-rata suhu global ke angka 1,7°C di atas rata-rata era pra-industri pada tahun 2027.
Lonjakan ini akan melampaui ambang batas 1,5°C yang disepakati dalam Paris Agreement. Terakhir kali batas tersebut terlewati adalah pada tahun 2024, yang juga mencatat rekor sebagai tahun terpanas dalam sejarah.
Menurut dia, tahun 2026 juga memiliki peluang sekitar 28 persen untuk menggeser tahun 2024 sebagai tahun terpanas, sebelum nantinya berpotensi terlampaui lagi oleh tahun 2027.
Hal senada disampaikan juga oleh Erma Yulihastin, Profesor riset dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV pada Minggu (26/7) yang mengatakan bahwa berdasarkan pantauan satelit kasus El Nino tahun 2023 suhu maksimumnya jauh dibawah posisi El Nino tahun ini.
"Kalau kita bicara dampak untuk kasus El Nino 2023 yang suhu maksimum intensitasnya hanya 1,6 (derajat Celsius), sekarang kedudukannya, posisinya El Nino saat ini dalam pantauan satelit itu sudah 1,74 (derajat Celsius)," ungkap Erma.
Erma menyebutkan El Nino tahun ini sudah melampaui amabng batas El Nino tahun 2023 dan masih merangkak naik.
"Itu sudah melampaui ambang batas El Nino 2023, dan ini belum stop di sini, ini masih merangkak naik begitu dan diprediksi Agustus akan mencapai threshold atau ambang batas di atas 2 (derajat Celsius). Jika El Nino mencapai 2 atau lebih dari 2, maka itu disebut dengan super," sebutnya.
Kategori El Nino super baru terjadi dua kali sepanjang sejarah, yakni pada tahun 1997 dan 2015. Namun, fenomena El Nino tahun ini diprediksi bakal lebih kuat dari dua peristiwa sebelumnya.
Jika dibanding peristiwa tahun 2023, dampak El Nino kali ini diperkirakan bakal lebih parah. Pasalnya, intensitas El Nino tahun ini sudah melampaui tahun 2023, dengan kondisi masih bisa lebih panas lagi ke depannya.
Menurutnya, El Nino saat ini yang 2026 dampaknya akan lebih parah dibandingkan dengan El Nino 2023, karena intensitasnya saja sekarang sudah lebih tinggi daripada intensitas maksimum El Nino 2023*
--- Hendrik Penu
Komentar