Breaking News

REFLEKSI Pemimpin Mesti Berkarakter Kuat, Tak Cukup Punya Gelar Akademis Tinggi 08 Jun 2026 13:22

Article image
Valens Daki-Soo. (Foto: Dok. Ist)
Di dalam segalanya, apalagi dalam kepemimpinan, yang terpenting dan utama adalah karakter.

Oleh Valens Daki-Soo*

 

Tak henti-hentinya kita disergap berita 'tidak enak': pejabat atau petinggi negeri ini dibui karena kasus korupsi. Yang teranyar, mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana resmi ditahan Kejaksaan Agung di Jakarta, 3 Juni 2026.

Sebagai catatan awal, Dadan bergelar Profesor Doktor Insinyur (Prof. Dr. Ir), lulusan Jerman. Jadi, secara akademis dia punya latar belakang meyakinkan. 

Lalu, bagaimana orang hebat dan pintar secara akademis ini bisa jatuh di ngarai korupsi?

Mengapa kalangan elite bangsa kita rentan tergoda dan mudah tersungkur karena uang? Padahal mereka bukan orang yang kesulitan uang, sebaliknya justru mereka cenderung berkelebihan secara finansial.

Lalu mengapa mereka begitu rawan tergiur oleh godaan korupsi, sehingga mereka bahkan tidak peduli akan kemungkinan hilangnya nama baik dan reputasi mereka? 

Salah satu jawabannya adalah masalah karakter.

Banyak orang ingin dan 'merasa bisa' menjadi pemimpin. Tentu saja ini baik, karena (ke)pemimpin(an) memang diperlukan pada setiap lini kehidupan.

Pertanyaannya, tak hanya kemampuan manajerial/profesional, kapasitas intelektual dan keluasan pengetahuan, apakah mereka juga punya karakter yang kuat dan kepribadian yang integral?

Pertanyaan ini mesti dianggap penting bagi bangsa kita yang sungguh butuh para pemimpin yang punya kualitas (ke)pribadi(an) yang prima, lebih daripada sekadar orang-orang pintar.

Pakar kepemimpinan John C Maxwell (2001) mengatakan, inti dari kepemimpinan adalah pengaruh. "Leadership is influence, and character is power," tulisnya. 

Saya yakin kita sepakat dengan Maxwell. Jika Anda punya pengaruh yang kuat, Anda bisa menggerakkan orang lain. Itulah kepemimpinan: kemampuan dan pengaruh untuk bisa menggerakkan orang lain menuju cita-cita atau impian bersama.

Daya pengaruh atau kemampuan Anda menggerakkan orang lain sangat ditentukan oleh kekuatan karakter Anda. Orang hanya mau dan rela mengikuti seseorang yang jelas, tegas, berani, jujur, tulus, cerdas, dan kuat karakternya.

Kualitas Spiritual

Segala teori tentang kepemimpinan bisa dibaca sebagai referensi pengetahuan yang diperlukan untuk memperkaya pengetahuan, memperluas wawasan dan mempertajam persepsi seorang pemimpin tentang kepemimpinan.

Namun, teori saja tidak cukup. Dia harus berhadapan dengan praksis kehidupan. Buku saja tidak cukup. Dia mesti siap bergumul dan berbenturan dengan perlbagai tantangan riil yang sering tidak ditemukan resep solusinya dalam buku dan makalah.

Hemat saya, segala teori dan wacana tentang kepemimpinan secara padat dan sederhana dapat diambil patisarinya sebagai berikut.

Jika Anda lebih berpikir tentang bagaimana mendukung kemajuan orang lain; jika Anda selalu tergerak untuk bantu sesama menjadi lebih sejahtera; jika Anda merasa bahagia dan lebih suka memberi daripada diberi, Anda berpotensi menjadi pemimpin hebat.

Jika Anda punya karakter kuat dan tak mudah terpengaruh masukan menyesatkan; jika Anda lebih rela berkorban ketimbang memperhitungkan "apa yang saya dapatkan"; jika Anda meyakini nilai diri Anda tidak ditandai oleh kekayaan material melainkan oleh kualitas spiritual (kejujuran, kearifan, kebesaran jiwa, keyakinan, visi, harapan, semangat, keikhlasan berkorban); jika Anda memiliki karakter seperti ini, Anda berbakat menjadi pemimpin sejati.

Kompetensi manajerial, kemampuan teknis-profesional, kemahiran bernegosiasi, keterampilan berkomunikasi, kecakapan administratif, kepiawaian membangun jaringan bisa diajarkan dan dipelajari.

Di dalam segalanya, apalagi dalam kepemimpinan, yang terpenting dan utama adalah karakter.

 

*) Penulis adalah entrepreneur, Pendiri & CEO PT Veritas Dharma Satya, PT Veritas Media Bangsa, Firma Hukum "Veritas Dignitas Salus"

Komentar