REFLEKSI Kesehatan Jiwa: Kita Semua Butuh Psikiater 02 Jul 2026 23:11
Anda berharga. Hidupmu penting. Kita semua butuh psikiater.
Oleh Valens Daki-Soo*
# Pendahuluan
Sekian tahun silam saya terkena gangguan yang bikin saya berpikir, hidup saya selesai.
Apa yang terjadi? Saya merasa diserang kecemasan hebat dan mendalam. Tanpa tahu apa sebabnya, jantung saya berdebar kencang dan lama, tubuh saya kaku, kaki-tangan berkeringat dingin, asam lambung naik yang bikin sesak napas, dan saya merasa takut mati yang intens.
Saya dibawa berulang kali ke UGD RS Sint Carolus ataupun RSPAD Gatot Subroto.
Ringkas cerita, saya yang tadinya suka naik pesawat dan menikmati penerbangan, mendadak jadi takut naik pesawat. Butuh waktu lama untuk terbiasa kembali bisa naik pesawat, meski dengan kondisi batin yang belum sepenuhnya nyaman.
Ketika ke dokter spesialis kesehatan jiwa (psikiater), saya dinyatakan mengidap gangguan kecemasan atau "anxiety disorder". Ini sejenis gangguan jiwa ringan sebenarnya dan sama sekali tidak mematikan. Namun, jika tidak ditangani bisa mengganggu aktivitas rutin, menghambat karir politik dan bisnis.
Data menunjukkan, 19 juta orang Indonesia secara spesifik terdampak oleh gangguan kecemasan ini.
Seorang teman psikiater pernah berkisah, dia punya klien/pasien seorang pensiunan jenderal. Jenderal yang pemberani di medan tempur ini takut/cemas kalau mandi sendirian. Jadi, dia selalu minta istrinya jaga/berdiri di pintu kamar mandi kalau dia lagi mandi.
Bayangkan, dia gak takut mati di medan perang, tapi takut mati di kamar mandi.
Itulah salah satu contoh "anxiety disorder".
Bersama psikiater, saya menjalani psikoterapi dan butuh waktu yang tidak sedikit untuk pulih karena penyebabnya kuat dan dalam: akibat saya menyimpan luka batin parah karena pernah mengalami penolakan berat dan berkepanjangan dalam suatu relasi pribadi.
Psikiater yang menolong saya di Rumah Sakit Kepresidenan RSPAD Gatot Subroto adalah Brigjen TNI Dr. dr. Bagus Sulistyo, SpKJ, M.Kes yang menjabat Kepala Departemen Kesehatan Jiwa RSPAD.
Dokter Bagus -- sapaan beliau -- mengatakan, "Pak Valens, kalau mau luka batinnya cepat sembuh, kuncinya hanya satu: pengampunan. Maafkan dan ampuni orang-orang yang pernah menolak, menghina, memfitnah, ataupun mengkhianati Anda."
# Salah: Stigma Kalau ke Psikiater Itu "Gila"
Kita semua butuh dokter kalau sakit. Entah sekadar flu, gangguan pernapasan, penyakit kardiovaskular, hingga diabetes.
Begitu pula bila kita mengalami gangguan emosi, pola pikir dan perilaku.
Bayangkan tubuh Anda demam tinggi atau asam urat parah, pasti Anda ke dokter.
Begitu pula, jika kondisi psikis Anda terganggu, Anda butuh psikolog klinis ataupun langsung ke psikiater.
Masalahnya, di kalangan masyarakat kita yang masih berpikiran sempit, saat seseorang mengalami depresi berat, kecemasan kronis, atau punya pikiran untuk mengakhiri hidup, banyak yang memilih diam karena takut dicap “gila”.
Padahal, depresi adalah penyakit medis-psikiatris. Seperti diabetes atau hipertensi, ia punya gejala, penyebab biologis-psikologis-sosial, dan yang paling penting: itu bisa ditangani. Kunci penanganannya adalah psikiater.
Penting dicamkan, kita semua butuh psikiater. Psikiater bisa membantu orang sehat menjadi tetap atau semakin sehat.
Orang sakit dibantu psikiater menjadi sembuh dan sehat.
# Depresi: Bukan Sekadar “Sedih”
Depresi klinis berbeda dengan sedih biasa.
1. Secara biologis: Ada ketidakseimbangan zat kimia otak seperti serotonin dan dopamin.
2. Secara psikologis: Muncul pola pikir negatif terus-menerus, rasa tidak berharga, dan putus asa.
3. Secara sosial: Sering dipicu tekanan ekonomi, relasi, trauma, atau isolasi.
Data di Indonesia cukup serius:
- WHO 2021: 9,8% penduduk mengalami gangguan mental, dengan depresi 6,6%.
- Riskesdas 2018: 6,1% usia 15+ mengalami depresi.
- Remaja 15-24 tahun: 62% yang depresi pernah berpikir untuk mengakhiri hidup, jauh lebih tinggi dari 1,7% pada yang tidak depresi.
- Estimasi: 1.800 orang bun*uh diri setiap tahun.
Angka ini bukan untuk menakuti. Tapi untuk menegaskan: ini masalah kesehatan masyarakat, bukan masalah pribadi yang harus disembunyikan.
# Mengapa Bunuh Diri Bisa Terjadi pada Depresi?
Bunuh diri jarang terjadi “tiba-tiba”. Ia biasanya adalah ujung dari rasa sakit psikologis yang tidak tertolong.
1. Putus asa kronis: Otak dalam mode depresi membuat seseorang sulit melihat masa depan.
2. Distorsi kognitif: Muncul keyakinan “saya menjadi beban”, “tidak akan pernah pulih”.
3. Isolasi: Karena stigma, banyak yang menarik diri dan tidak mencari bantuan.
Fakta penting: Hanya 10,4% remaja usia 15-24 yang depresi mencari bantuan psikologis. Artinya, 9 dari 10 orang berjuang sendirian. Padahal penderita depresi sangat butuh dukungan orang dekat, keluarga dan lingkungan sosial.
# Apa Peran Psikiater? Dokter, Bukan Hakim!
Psikiater adalah dokter spesialis kesehatan jiwa. Berbeda dengan psikolog yang hanya bisa psikoterapi, psikiater bisa meresepkan obat (farmakoterapi).
Dua pendekatan utama yang terbukti efektif mencegah bunuh diri:
1. Psikoterapi: Terapi bicara untuk mengubah pola pikir putus asa, melatih strategi mengatasi krisis, dan membangun harapan. Ini menargetkan akar psikologis.
2. Farmakoterapi: Obat antidepresan membantu menstabilkan kerja otak. Saat gejala fisik seperti susah tidur, tidak nafsu makan, dan energi habis membaik, pikiran bunuh diri biasanya ikut menurun.
Bukti dari lapangan: Skrining Cek Kesehatan Gratis 2025 pada 13 juta orang menemukan 1% gejala depresi dan 0,9% gejala cemas. Deteksi dini + penanganan = nyawa terselamatkan.
# Kita Semua Butuh Psikiater, Bukan Hanya ODGJ
Anda pasti sudah tahu, ODGJ adalah orang dengan gangguan jiwa. Nah, bukan harus jadi ODGJ dulu baru ke psikiater. Orang sehat juga butuh ya.
1. Untuk orang sehat: Datang ke psikiater itu preventif. Sama seperti cek lab. Tujuannya menjaga resiliensi/ketahanan mental, mengelola stres, dan mencegah depresi jadi berat.
2. Untuk ODGJ: Ini bagian dari pengobatan. Depresi berat tanpa bantuan medis risikonya fatal.
3. Menghapus stigma: Mencari psikiater itu tanda waras. Itu berarti Anda sadar, bertanggung jawab, dan mau lanjut hidup.
Tanda Bahaya & Apa yang Harus Dilakukan
Segera cari bantuan jika Anda atau orang terdekat memiliki:
1. Membicarakan ingin mati atau “lebih baik tidak ada”.
2. Menarik diri total, berhenti aktivitas yang dulu disukai.
3. Perubahan drastis: tidak tidur atau malah tidur terus, tidak mau atau ogah makan.
4. Memberi barang-barang berharga seperti mau pamitan.
Ini jalur bantuan yang bisa diakses sekarang di Indonesia:
1. Puskesmas: Punya layanan kesehatan jiwa dasar yang ditanggung BPJS.
2. RS Umum/RSJ: Ada poli jiwa.
3. Darurat 24 Jam: Hubungi 119 ext 8 -- Layanan Kesehatan Jiwa Kemenkes.
4. Orang terdekat: Jangan dibiarkan sendiri(an). Dengarkan dia tanpa menghakimi. Ajaklah dia ke fasilitas kesehatan.
# Penutup: Pilih Hidup, Pilih Bantuan
Depresi bukanlah akhir hidup Anda. Apapun masalah Anda pasti ada jalan keluarnya.
Kesehatan jiwa adalah hak, bukan privilese atau kemewahan. Dalam konteks ini, psikiater adalah mitra medis untuk mewujudkannya.
Jadi, tidak perlu takut atau malu ke psikiater.
Saya memungkas catatan ini dengan pesan berikut:
Jika Anda sedang di titik paling gelap hari ini, jangan kecut hati.
Ingatlah selalu bahwa perasaan bisa berubah, termasuk perasaan tidak berdaya yang sedang melilit hati dan pikiran Anda.
Sekali lagi, Anda tidak sendiri. Ungkapkan perasaan Anda kepada orang yang dipercaya atau langsung ke psikiater.
Meminta bantuan adalah tindakan paling berani dan paling waras yang bisa Anda lakukan.
Anda berharga. Hidupmu penting. Kita semua butuh psikiater.
*) Penulis adalah peminat psikologi, pengusaha, Pendiri & Direktur Utama PT Veritas Dharma Satya, PT Veritas Media Bangsa dan Firma Hukum "Veritas Diginitas Salus" (VDS Group)
Komentar