Breaking News

REFLEKSI Mengapa Leluhur Kita Sehat Jiwa-Raga? 05 Jul 2026 11:43

Article image
Valens Daki-Soo. (Foto: Dok. Ist)
Kita sekarang punya psikolog, psikiater dan rumah sakit canggih. Tapi justru semakin banyak yang rapuh jiwanya dan rentan fisiknya. Apakah ada yang salah dengan cara kita menjaga diri?

Oleh Valens Daki-Soo*

 

# Mereka Tak Butuh Psikiater dan RS Jiwa!

# Mereka Praktikkan "Laku Spiritual"

# Mereka Hidup Selaras dengan Alam

 

Mari kita bayangkan: generasi-generasi sebelum kita tidak kenal istilah "burnout" (lelah fisik-mental), "anxiety" (kecemasan), atau depresi. Bukan karena mereka kebal stres. Tapi karena mereka punya sistem peringatan dini yang bekerja sebelum badai datang.

Mereka pun punya kemampuan "coping" atau cara mengatasi masalah mental secara efektif.

Kita sekarang punya banyak psikolog, psikiater dan rumah sakit jiwa. Tapi justru semakin banyak yang sakit secara fisik dan mental. Banyak yang rapuh jiwanya dan rentan fisiknya.

Maka kita bertanya, apakah ada yang salah dengan cara kita menjaga diri?

Kita hidup pada zaman yang paling nyaman secara fisik: makanan berlimpah, tempat tidur empuk, hiburan tak terbatas. Setiap hari kita dibombardir dengan aneka tawaran yang melenakan dari makan enak di restoran hingga hiburan drama Korea (drakor) dan drama China (dracin).

Tapi secara batin? Kita rupanya sangat rapuh dibanding para leluhur kita.

Stres merebak luas. "Overthinking" menjadi bagian dari gaya hidup. Bagi banyak orang, kecemasan dan tekanan sosial-ekonomi adalah teman sehari-hari.

Kita punya obat untuk segala penyakit, tapi tidak punya kekebalan untuk mencegahnya. Kita punya rumah sakit canggih di mana-mana, tetapi tak punya cara efektif mencegah dan mengatasi problem mental-psikis seperti para leluhur kita.

Apa yang dilakukan para leluhur itu?

Mereka mempraktikkan "laku spiritual".

Itu bukan sekadar ritual. Yang mereka lakukan adalah "latihan ketahanan batin" yang dilakukan secara sadar dan terukur:

* Puasa berkala: untuk melatih pengendalian diri

* Menyepi di tempat sunyi: untuk melatih kejernihan pikiran

* Berjalan jauh tanpa tujuan: untuk melatih kesabaran dan keteguhan

* Menahan diri dari kesenangan: untuk melatih mental agar tidak mudah goyah.

Ini adalah gym untuk jiwa. Hanya tentu saja alatnya bukan barbel, tapi tubuh dan kesadaran.

Mereka tidak butuh pusat kebugaran (fitness center) tetapi kebun dan hutan, laut dan gunung untuk menyepi. 

Ya, mengolah diri dan memperkuat batin secara mental-spiritual.

Sains menyebutnya "stress inoculation", semacam vaksinasi stres. Kita dipapar dengan stres-stres kecil sehingga kebal menghadapi guncangan, tekanan atau "badai" besar kehidupan.

Dengan terpapar stres ringan secara terkendali dan berulang, otak belajar untuk tidak panik saat stres besar datang.

Laku spiritual juga meningkatkan regulasi emosi: amygdala (alarm ketakutan) di otak menjadi lebih tenang, prefrontal cortex (pusat kontrol diri) -- juga di otak -- menjadi lebih kuat.

Ah ya. Benar, para leluhur tidak tahu istilah-istilah keren ini. Tapi mereka merasakan hasilnya: hati lebih damai, pikiran lebih bening, jiwa lebih kebal, kepribadian lebih tahan uji.

Mari kita belajar dari mereka.

Kita mulai saja dengan olahraga. Yang belum biasa olahraga berat, mulailah dengan jalan kaki 30 menit sehari. Yang sudah terbiasa main di gym, lanjutkan. 

Atau berlatih olahraga beladiri, karena dampaknya maksimal untuk kekuatan fisik-mental.

Lalu belajarlah mengolah napas. Kita tahu, napas adalah kehidupan. Banyak penyakit psikosomatis bisa diatasi dengan teknik mengolah napas yang benar.

Jadi, ikutlah paguyuban atau komunitas yang mengajarkan meditasi dan latihan olah napas.

Ah, ini juga penting: mari hidup selaras dengan alam. Tanamlah pohon di mana-mana. Peluklah pohon dan rangkullah tanaman.

Hindari dan hentikan kebiasaan merusak hutan.

Terakhir tapi terpenting: dekatkan diri selalu dengan Tuhan.

Dengan nama apapun Dia disebut, biarkan diri kita selalu terkoneksi dengan Sang Pengada, Tuhan Maha Segala.

 

*) Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri dan CEO PT Veritas Dharma Satya, PT Veritas Media Bangsa, Firma Hukum "Veritas Dignitas Salus" (VDS Group)

Komentar