Breaking News

HANKAM Pengamat Militer Valens Daki-Soo: Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Akan Ubah Doktrin TNI AL 20 Feb 2026 13:37

Article image
Kapal Induk Giuseppe Garibaldi

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Kehadiran kapal induk Giuseppe Garibaldi melalui skema hibah dari Italia untuk Indonesia pada Oktober tahun ini tentu akan mengubah doktrin TNI Angkatan Laut (AL). TNI AL akan bertansformasi dari "Green Water Navy" menjadi "Blue Water Navy", yakni kekuatan militer maritim yang diproyeksikan mampu beroperasi di luar batas teritorial atau perairan domestik.

Hal itu dikatakan pengamat pertahanan dan keamanan Valens Daki-Soo kepada media, Jumat (20/2/2026).

"Hibah kapal induk Giuseppe Garibaldi, yang bakal diberi nama KRI Gadjah Mada, dipastikan akan membawa perubahan signifikan dalam doktrin pertahanan laut Indonesia. Kapal induk ini akan meningkatkan kemampuan proyeksi kekuatan TNI AL. Jika selama ini sistem pertahanan laut kita lebih fokus pada pertahanan pesisir dan kawasan laut domestik, kehadiran KRI Gadjah Mada akan memungkinkan TNI AL melakukan operasi militer di wilayah yang lebih luas, di luar teritori Indonesia," ujar Valens, yang sejak 1994 berkarya di lingkungan TNI sebagai staf khusus beberapa jenderal.

Perubahan Doktrin

Menurut Valens Daki-Soo yang akrab disapa VDS, setidaknya ada tiga hal signifikan yang terjadi sebagai dampak kehadiran kapal induk ini.

Pertama, peningkatan kemampuan pengawasan maritim. Kapal induk ini akan meningkatkan kemampuan TNI AL dalam melakukan pengawasan maritim dan mendeteksi aktivitas ilegal di laut kita.

Kedua, pengembangan kapasitas pertahanan. Akuisisi Giuseppe Garibaldi akan mendorong pengembangan kapasitas pertahanan dalam negeri, termasuk transfer teknologi dan peningkatan kemampuan industri pertahanan.

Ketiga, dukungan terhadap Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Kapal induk KRI Gadjah Mada akan digunakan untuk mendukung operasi kemanusiaan, bantuan bencana, dan evakuasi medis.

Tantangan Konkret

VDS mengatakan, meski akan berdampak signifikan pada peningkatan postur pertahanan laut kita dan memperluas daya gerak atau proyeksi kemampuan TNI AL, kehadiran kapal induk ini juga memantik tantangan tersendiri.

Pertama, menurut VDS, biaya operasional kapal induk sangat besar, sementara anggaran pertahanan Indonesia masih terbatas. "Ini tantangan konkret dan aktual yang tidak mudah bagi kondisi ekonomi kita," tuturnya.

Kedua, lebih bersifat teknis atau teknologis, yakni integrasi dengan sistem pertahanan kita. "Tantangan ini lebih bisa disesuaikan dan diatasi, karena hanya butuh adaptasi sistemis dan teknologis. Kita mampu untuk itu," jelas VDS.

Ketiga, harus disiapkan pelatihan personel, para prajurit TNI AL yang akan mengawaki kapal induk ini. "Personel TNI AL tentu harus disiapkan, dilatih untuk mengoperasikan dan memelihara kapal induk ini secara berkelanjutan. Itu juga bukan masalah besar, karena KSAL Laksamana Muhammad Ali menegaskan sudah menyiapkan para awak kapal induk tersebut," lanjut Valens, yang kini aktif berkpirah sebagai entrepreneur namun tetap bergerak di bidang Hankam.

Spesifikasi Kapal

* Panjang: 180,2 meter
* Lebar: 33,4 meter
* Kecepatan: 30 knot (56 km/jam)
* Jangkauan 7.000 mil laut (13.000 km)
* Awak kapal: 830 orang
* Pesawat yang diangkut : 16 jet tempur VTOL (Vertical Take-Off and Landing) dan 2 helikopter.

Namun TNI AL akan mengoperasikan KRI Gadjah Mada sebagai kapal induk drone dan helikopter. Kapal induk pertama Indonesia ini akan tiba di tanah air sebelum HUT ke-81 TNI pada 5 Oktober 2026.

Meski kapal induk ini diserahkan dalam skema hibah, Indonesia tetap akan mengeluarkan dana sekitar Rp 7,5 Triliun untuk "retrofitting" (penyesuaian dan modernisasi).

"Kehadiran kapal induk ini akan meningkatkan kemampuan proyeksi kekuatan, operasi udara laut, serta komando dan kendali dalam operasi gabungan," pungkas Valens. ***

***

--- Sandy Javia

Komentar