Breaking News

PARIWISATA Perkuat Peran Pariwisata dalam Pemulihan Flores, Kemenpar Luncurkan "Camino de Flores" 13 Oct 2026 17:31

Article image
Peluncuran
"Kami berharap Camino de Flores menjadi magnet baru yang berkualitas di Kawasan Timur Indonesia,” harap Menpar Widiyanti.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI mendorong "Camino de Flores: A Spiritual Journey of Reflection and Recovery" sebagai pola perjalanan wisata baru yang menghubungkan beragam daya tarik dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pariwisata dinilai berperan strategis dalam pemulihan Flores pascagempa bumi melalui pemerataan manfaat ekonomi dan penguatan potensi lokal. 

Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menyatakan, penyelenggaraan Camino de Flores menjadi langkah strategis untuk memperluas persebaran kunjungan wisatawan, sehingga partsipasi dan manfaat ekonomi pariwisata tidak hanya terpusat di satu destinasi, tetapi juga dapat dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Flores.

Hal itu disampaikan Menpar Widiyanti dalam konferensi pers peluncuran "Camino de Flores: A Spiritual Journey of Reflection and Recovery" yang digelar di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa (13/10/2026).

“Camino de Flores hadir sebagai bentuk pola perjalanan (travel pattern) baru yang strategis, mengingat kunjungan wisatawan selama ini cenderung terkonsentrasi di Manggarai Barat, khususnya Labuan Bajo," ujar Menpar Widiyanti.

"Melalui Camino de Flores, kunjungan wisatawan diharapkan terdistribusi lebih merata ke kabupaten-kabupaten lain di daratan Flores dengan menghubungkan berbagai potensi, mulai dari situs religi, desa wisata, hingga lanskap alam serta event atau ritual pariwisata religi yang selama ini berkembang di Flores seperti Semana Santa, Festival Golokoe, Ziarah, atau Prosesi Budaya lainnya,” lanjutnya.

Dijelaskan, Camino de Flores merupakan kegiatan wisata jalan kaki (Flores Walk) yang menyasar segmen khusus (niche market), seperti komunitas peziarah (faith-based community) dan pencari wisata ketenangan (mindfulness tourism).

Pada tahap awal ini, Kemenpar dan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menetapkan kegiatan pada 23–27 Oktober 2026 sebagai Proyek Percontohan (Pilot Project) Etape Tengah.

Sebanyak ±70 peserta dari komunitas karitatif akan menyusuri rute Bajawa–Boawae–Ende sejauh ±70 kilometer, yang memadukan refleksi spiritual, sejarah, dan interaksi masyarakat. 

Ke depan, juga dikembangkan Etape Barat (Labuan Bajo-Ruteng); dan Etape Timur (Maumere-Larantuka); atau bahkan penggabungan seluruh etape sesuai dengan permintaan (demand).

Menpar Widiyanti menegaskan bahwa pelaksanaan pilot project ini tidak sekadar menjadi ajang promosi, melainkan instrumen audit untuk mengukur kesiapan teknis, operasional, dan kelembagaan destinasi dan tingkat partsipasi para pihak dan masyarakat secara aktual.

“Kemenpar melalui Kedeputian Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur bersama BPOLBF telah menyusun dokumen Risk Assessment dan Emergency Response Plan yang detail. Kami memastikan kesiapan infrastruktur keselamatan dan keamanan,mulai dari penyiagaan road marshal, pos kesehatan, water station mobile, hingga mitigasi cuaca dan elevasi rute yang menantang,” kata Menpar Widiyanti.

Perjalanan ini juga mengintegrasikan kegiatan sosial dan penggalangan kepedulian bagi masyarakat Flores. Hasil penggalangan dana direncanakan untuk mendukung renovasi rumah sakit, gereja, serta sarana budaya dan pariwisata, termasuk penyediaan fasilitas sanitasi dan akses air bersih.

Menpar Widiyanti mengapresiasi inisiatif Mari Elka Pangestu bersama tim yang menghadirkan Camino de Flores. “Perjalanan ini tidak sekadar menawarkan keindahan alam, tetapi mengintegrasikan spiritualitas, budaya, sejarah, dan keterlibatan masyarakat lokal dalam satu pengalaman yang bermakna,” ungkapnya.

Terinspirasi "Camino de Santiago de Compostela" di Spanyol

Ibu Mari Pangestu dalam forum ini menjelaskan "Camino de Flores" terinspirasi dari "Camino de Santiago de Compostela" di Spanyol, rute ziarah yang telah berlangsung sejak Abad ke-9 (813 Masehi) ketika makam Rasul St. Yakobus ditemukan di Galicia. Saat ini menjadi salah satu dari Ziarah Agung Dunia dan diakui UNESCO dan Dewan Eropa. Tahun 2024-2025 lalu memecahkan rekor dengan hampir 500-530 ribu peziarah dari 160 lebih negara setiap tahunnya. 

Sementara "Camino de Flores" mengadaptasi spirit tersebut untuk Flores, NTT sebagai walking pilgrimage berkelanjutan yang memadukan iman, alam, dan pemberdayaan masyarakat lokal. 

Guna memastikan keberlanjutan rute peziarahan ini di masa depan, Kemenpar juga mendorong pembentukan tata kelola lintas wilayah yang solid. Kolaborasi ini melibatkan pembagian peran yang jelas-diformalkan melalui mekanisme kerja sama/MoU antara Kementerian Pariwisata, BPOLBF, Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kabupaten (Ngada, Nagekeo, Ende), Keuskupan se-Flores, serta komunitas lokal.

Melalui konsep perjalanan yang lebih lambat dan mendalam, wisatawan memiliki kesempatan untuk tinggal lebih lama (length of stay), yang secara langsung akan meningkatkan perputaran ekonomi di desa-desa yang dilalui. Kehadiran jalur ini membuka peluang usaha bagi pengelola homestay, pelaku UMKM, perajin tenun, dan pemandu wisata lokal.

Perjalanan "Camino de Flores" diharapkan juga dapat membuka ruang bagi wisatawan untuk mengenal identitas dan kehidupan masyarakat Flores melalui tradisi tenun ikat, kekayaan kuliner lokal, serta sisi religius dan spiritual yang mengakar dalam keseharian. 

Kain tenun menyimpan identitas budaya dan nilai adat, serta hadir dalam berbagai peristiwa kehidupan masyarakat. Di saat yang sama, proses menenun dan pemasaran hasilnya menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga, terutama bagi perempuan penenun. Sementara kuliner menyimpan pengetahuan lokal dan tradisi yang diwariskan lintas generasi. 

Dipadukan dengan pengalaman spiritual dan interaksi langsung bersama masyarakat, ketiganya menjadikan "Camino de Flores" bukan sekadar perjalanan wisata, tetapi juga sarana memahami kekayaan budaya Flores sekaligus memperluas manfaat ekonomi pariwisata bagi masyarakat setempat.

“Evaluasi dari operasional pilot project ini akan menghasilkan peta rute final, standar kelayakan, dan profil risiko yang menjadi landasan pengembangan Camino de Flores menjadi paket wisata yang berkelanjutan, untuk selanjutnya diperkenalkan kepada mitra industri sebagai salah satu potensi pengembangan paket wisata berbasis mindfullness tourism yang dapat dipasarkan oleh travel agent dan tour operator. Kami berharap Camino de Flores menjadi magnet baru yang berkualitas di Kawasan Timur Indonesia,” pungkas Menpar Widiyanti.

--- Guche Montero

Komentar