AGAMA Ramadan Momentum Menjaga dan Memperkuat Kesehatan Mental 18 Feb 2026 20:50
Guru Besar IPB University, Prof Hamim, menjelaskan bahwa suasana Ramadan yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya mampu menciptakan ketenangan batin yang membantu mengurangi stres dan kecemasan.
BOGOR, IndonesiaSatu.co - Berpuasa selama bulan Ramadan tidak hanya memberikan manfaat bagi kesehatan fisik, tetapi juga berdampak positif terhadap kesehatan mental. Ramadan menjadi momentum penting bagi umat Muslim untuk memperbaiki kondisi diri secara menyeluruh, baik raga maupun jiwa.
Guru Besar IPB University, Prof Hamim, menjelaskan bahwa suasana Ramadan yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya mampu menciptakan ketenangan batin yang membantu mengurangi stres dan kecemasan.
“Ramadan merupakan momentum yang sangat penting bagi kaum Muslim, karena selama bulan Ramadan, Allah Swt menciptakan suasana dan lingkungan yang berbeda dengan bulan-bulan biasa. Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa ‘setan-setan akan dibelenggu’,” ujarnya melalui pernyataan tertulis di Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Menurut Prof Hamim, masalah kesehatan mental merupakan kondisi yang dapat muncul akibat berbagai faktor, seperti tekanan lingkungan, persoalan hidup, hingga pengalaman masa lalu. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa tertekan secara emosional dan mengalami situasi kejiwaan yang tidak biasa.
Ia menambahkan, salah satu penyebab munculnya masalah kesehatan mental berasal dari latar belakang pengalaman masa lalu. Dalam perspektif kejiwaan Islam, solusi yang ditawarkan adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
“Jadikan Ramadan sebagai bulan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an. Dengan demikian, jiwa menjadi lebih tenang dan kita dapat memohon ampun atas segala dosa untuk menjalani hidup yang lebih baik ke depan,” tuturnya.
Lebih lanjut, Prof Hamim menegaskan bahwa Ramadan tidak membuat seseorang terlepas dari aktivitas keseharian. Sebaliknya, berbagai aktivitas seperti belajar, meneliti, berdiskusi, hingga bekerja justru dapat bernilai ibadah ketika dilandasi niat yang baik.
“Saya yakin aktivitas seperti kuliah, penelitian, diskusi, dan bekerja tidak akan terganggu karena Ramadan. Bahkan, bagi seorang Muslim, semua aktivitas tersebut dapat bernilai ibadah,” jelasnya.
Dalam konteks kesehatan mental, Prof Hamim menyebutkan bahwa bulan Ramadan menjadi kesempatan bagi seseorang yang merasa terbebani secara psikologis untuk melepaskan beban tersebut. Rasa bersalah dan tekanan batin dapat berkurang seiring dengan meningkatnya kesadaran spiritual.
“Secara perlahan, seseorang akan kembali kepada Allah dalam kondisi batin yang lebih jernih dan dengan semangat baru. Allah Swt mendorong agar kebaikan tidak bercampur dengan keburukan. Niat yang baik dan pelaksanaan yang baik akan menghasilkan hasil yang baik,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa Islam mendorong umatnya untuk mencapai keseimbangan hidup yang optimal selama Ramadan. Allah Swt menjanjikan ampunan bagi mereka yang menjalankan ibadah Ramadan dengan penuh iman dan kesungguhan.
“Jika seseorang berpuasa Ramadan dengan sepenuh iman dan bersungguh-sungguh, Allah Swt akan mengampuni dosa-dosa masa lalu, sekelam apa pun dosa tersebut,” ucapnya.
Menutup penjelasannya, Prof Hamim mengajak seluruh umat Muslim untuk menjadikan Ramadan sebagai momen menyelaraskan kehidupan duniawi dengan hubungan vertikal kepada Allah Swt.
“Inilah saatnya kita menyeimbangkan dan menyelaraskan kehidupan dengan hubungan vertikal kepada Allah yang diatur oleh agama dalam satu kesatuan,” pungkasnya. *
--- F. Hardiman
Komentar