Breaking News

INTERNASIONAL Reza Pahlavi: Putra Mahkota yang Diasingkan, Pemimpin Iran Masa Depan? 12 Jan 2026 08:16

Article image
Reza Pahlavi, Putra Mahkota Iran yang hidup di pengasingan selama hampir lima dekade. (Foto: Ist)
Dimulai dari ketidakpuasan ekonomi, sejumlah demonstran meneriakkan nama Reza Pahlavi dan berharap bisa kembali berkuasa jika Ayatollah Ali Khamenei digulingkan.

WASHINGTON, IndonesiaSatu.coDemonstrasi di Iran memasuki babak baru. Dimulai dari ketidakpuasan ekonomi, sejumlah demonstran meneriakkan nama Reza Pahlavi dan berharap bisa kembali berkuasa jika Ayatollah Ali Khamenei digulingkan.

Siapakah Reza Pahlavi, Putra Mahkota Iran yang hidup di pengasingan selama hampir lima dekade?

Reza Pahlavi lahir pada 31 Oktober 1960. Ia disebut sebagai Putra Mahkota karena ayahnya Shah Mohammad Reza Pahlavi, pemimpin Iran yang digulingkan oleh Revolusi Iran tahun 1979. Sebagai Putra Mahkota Iran, ia kini menjadi pemimpin Dinasti Pahlavi dan tokoh oposisi yang mengadvokasi demokrasi sekuler untuk Iran. 

Shah Mohammad Reza Pahlavi adalah seorang perwira militer yang merebut kekuasaan dengan dukungan dari Inggris. Kekuasaan  Pahlavi diperkuat oleh kudeta yang didukung CIA pada tahun 1953, dan ia kemudian bekerja sama erat antara Iran dan Amerika Serikat.

Menurut seorang penulis biografi ayahnya, Reza Pahlavi pernah memainkan musik rock di Istana Niavaran selama kunjungan presiden AS saat itu, Jimmy Carter, ke Teheran pada Malam Tahun Baru.

Revolusi Islam

Meskipun mendapat keuntungan dari kenaikan harga minyak pada tahun 1970-an, pemerintahan Shah tidak mampu menyelesaikan ketidaksetaraan ekonomi, Ada pula kekhawatiran bahwa badan intelijen SAVAK miliknya, akan menindas dan menyiksa para pembangkang politik.

Saat itu, masyarakat Iran memprotes Shah. Protes tersebut berujung revolusi karena ketidakmampuannya untuk mengontrol keadaam dan keputusan buruk yang dibuatnya saat diam-diam berjuang melawan kanker stadium akhir.

Setahun setelah Putra Mahkota Reza meninggalkan Iran untuk sekolah penerbangan di pangkalan udara AS di Texas pada tahun 1978, ayahnya melarikan diri dari negara itu pada awal Revolusi Islam.

Mohammad Reza Pahlavi digantikan oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini setelah Revolusi Iran tahun 1979, yang menggulingkan monarki Pahlavi dan mendirikan Republik Islam, menjadikan Khomeini sebagai Pemimpin Tertinggi pertama Iran. Shah melarikan diri pada Januari 1979, diikuti kepulangan Khomeini pada Februari. Pada April 1979 Iran secara resmi mendeklarasikan dirinya sebagai Republik Islam. 

Setelah kematian ayahnya, istana kerajaan yang diasingkan mengumumkan bahwa Reza Pahlavi telah mengambil alih peran Shah pada 31 Oktober 1980, pada hari ulang tahunnya yang ke-20.

Selama berada di pengasingan, Reza Pahlavi telah berupaya mendapatkan pengaruh di Iran, di mana ia sebagian besar tinggal di AS, di Los Angeles dan Washington, DC.

Pada tahun 1986, The Washington Post melaporkan bahwa CIA telah memasok sekutu pangeran dengan "pemancar televisi mini untuk siaran rahasia selama 11 menit" dari Pahlavi, yang membajak sinyal dua stasiun di Republik Iran.

Selama siaran tersebut, Reza Pahlavi mengatakan: "Saya akan kembali dan bersama-sama kita akan membuka jalan bagi kebahagiaan dan kemakmuran bangsa melalui kebebasan."

Pahlavi terus mengkritik pemerintahan teokratis Iran dan berbicara mengenai masa depan Iran melalui video media sosial.

Apa gagasan Pahlavi untuk masa depan Iran?

Dalam beberapa tahun terakhir, Pahlavi telah mengemukakan gagasan bahwa Iran dapat menjadi monarki konstitusional. Penguasa dipilih rakyat, bukan daripada penguasa turun-temurun. Ia juga menyerukan agar Iran menjadi negara sekuler, bukan negara teokrasi. 

Namun, sementara para pendukung monarki Iran di pengasingan telah memimpikan kembalinya dinasti Pahlavi, upayanya untuk mendapatkan dukungan yang lebih luas telah terhambat oleh beberapa alasan, seperti kenangan buruk tentang kehidupan Iran di bawah pemerintahan ayahnya, kekhawatiran bahwa Iran dan keluarganya tidak lagi berhubungan dengan Iran modern, dan generasi muda di negara itu lahir beberapa dekade setelah berakhirnya pemerintahan Shah.

Reza Pahlavi juga dikritik karena dukungannya terhadap Israel, terutama setelah perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni tahun lalu. Pada tahun 2023, ia bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Israel, dan negara itu pun mendukungnya.

Presiden AS Donald Trump mengindikasikan bahwa saat ini ia tidak berniat untuk bertemu dengan Pahlavi, menunjukkan bahwa ia menunggu untuk melihat hasil protes sebelum mendukung seorang pemimpin oposisi.

Melalui media sosial, Reza Pahlavi menyerukan warga Iran melanjutkan unjuk rasa besar-besaran dan merebut pusat kota-kota di negara itu pada Sabtu (10/1/2026).

Pahlavi menegaskan demonstrasi yang telah berlangsung selama beberapa waktu terakhir hingga meluas ke hampir 100 kota di Iran ini bukan lagi sekadar turun ke jalan atau protes biasa, melainkan sudah harus mempersiapkan diri untuk merebut dan menguasai kota-kota.

"Tujuan kita kini bukan lagi sekadar turun ke jalan. Tujuannya adalah mempersiapkan diri untuk merebut dan menguasai pusat-pusat kota," ujar Reza Pahlavi dalam sebuah pesan video di media sosial seperti dikutip AFP.
Pahlavi juga mengatakan dirinya tengah mempersiapkan diri untuk kembali ke Iran, serta berjanji akan berdiri bersama rakyat Iran atas apa yang ia gambarkan sebagai "kemenangan sebuah revolusi nasional".

Dalam video itu Pahlavi memuji para demonstran yang sudah berani turun ke jalan di tengah respons pemerintah yang represif dan meminta pemrotes terus melanjutkan aksinya.

"Saya bangga kepada setiap dari kalian yang turun menguasai jalanan di seluruh Iran pada Kamis malam," kata Pahlavi dalam video tersebut.

--- Redem Kono

Komentar