Breaking News

MEGAPOLITAN Tinggalkan Sepucuk Surat, Kepala SPPG di Bandung Ditemukan Meninggal Gantung Diri 13 Jul 2026 17:09

Article image
Surat tulis tangan yang diduga dari korban.
Pihak keluarga telah menyatakan menerima kepergian korban dan menolak dilakukannya autopsi terhadap jenazah.

Bandung, IndonesiaSatu.co – Seorang pria berinisial SF (26), yang diketahui menjabat sebagai Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bandung, ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri di area parkir lantai 12 sebuah pusat perbelanjaan di Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (13/7).

Kapolsek Regol, Kompol Megawati Triyani, mengatakan polisi mengamankan sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian, di antaranya telepon genggam, sandal, kartu tanda penduduk (KTP), serta sepucuk surat tulisan tangan yang diduga ditulis oleh korban.

"Jadi ada barang yang diamankan, handphone, sandal, KTP dan satu surat tulis tangan permohonan maaf kepada pihak keluarga," kata Megawati.

Surat tersebut berisi permintaan maaf kepada keluarga, pasangan, rekan kerja, serta ungkapan perasaan korban terhadap dirinya sendiri. Dalam pesannya, korban mengaku merasa belum mampu memenuhi harapan orang-orang di sekitarnya dan menyampaikan rasa terima kasih atas kesempatan bekerja yang pernah diterimanya.

Sementara itu, pihak keluarga telah menyatakan menerima kepergian korban dan menolak dilakukannya autopsi terhadap jenazah. Meski demikian, kepolisian tetap melakukan proses identifikasi sambil menunggu hasil pemeriksaan dari Rumah Sakit Sartika Asih.

"Pihak keluarga juga sudah ikhlas, tapi kita tetap melakukan identifikasi menunggu hasil dari Sartika Asih," kata Megawati.

Hingga saat ini, polisi masih menangani kasus tersebut sesuai prosedur yang berlaku.

Isi Surat 
Melansir liputan6.com, sebelum meninggal diduga korban menulis surat untuk orangtuanya dalam bahasa Sunda. Ketika surat tersebut diterjemahkan ke bahasa Indonesia isinya kira-kira seperti ini.

Mah, pa, teh, aa maafin Pian ya kalau jarang bercerita atau ngobrol. Pian suka tidur terus, diem terus di kamar, belum bisa berpikir dewasa, mengecewakan keluarga. Maaf.

Yulia maafin a pian ya, makasih ya udah mau bertahan selama setahun menemani. Mohon maaf jika di luar ekspektasi Yulia. Maafkan a Pian buat marah terus, kecewa terus.

Buat rekan kerja dapur, maafin saya banyak kurangnya, saya belum pantes mendapatkan posisi itu. Saya tidak bisa bekerja dengan semestinya. Maaf jadi beban kalian.

Untuk diri saya, maafin saya, jika saya penakut mental lemah, tidak pandai bersosial, pendiam, jadi beban orang lain, pemalu, mudah stres, mudah deg-degan, dipendam sendiri.

Terima kasih ya Allah, diberikan rezeki atau pekerjaan. Tapi saya tidak bisa menjalaninya, banyak ketakutan.*

--- Hendrik Penu

Komentar