HANKAM Valens Daki-Soo: Bandara Mbay Vital dan Strategis bagi Nagekeo, Flores Bahkan Kepentingan NKRI 08 Nov 2026 23:29
Pembangunan Bandara Mbay - NTT, memiliki arti penting dan strategis, bukan hanya bagi kepentingan ekonomi daerah, tetapi juga bagi konektivitas sosial, geopolitik, serta pertahanan dan keamanan nasional.
MBAY, IndonesiaSatu.co -- Pembangunan Bandara Mbay di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), dinilai memiliki arti penting dan strategis, bukan hanya bagi kepentingan ekonomi daerah, tetapi juga bagi konektivitas sosial, geopolitik, serta pertahanan dan keamanan nasional.
Hal tersebut disampaikan pengamat pertahanan dan keamanan Valens Daki-Soo kepada media, Minggu (8/11/2026).
Menurut Valens, rencana pembangunan Bandara Mbay tidak boleh hanya dilihat sebagai proyek infrastruktur daerah, melainkan sebagai salah satu investasi strategis bagi kepentingan nasional.
"Hemat saya, Bandara Mbay bukan sekadar proyek daerah untuk kepentingan ekonomi semata. Bandara ini bersifat vital dan strategis bagi Nagekeo, Flores, bahkan bagi kepentingan NKRI, baik dari perspektif ekonomi, sosial, geopolitik maupun pertahanan-keamanan," ungkap Valens, mantan staf khusus Kepala BIN era Letjen TNI Arie J Kumaat.
Dari perspektif ekonomi, menurutnya, keberadaan bandara akan mendorong pergerakan ekonomi melalui peningkatan konektivitas udara. Akses pasar, pariwisata, investasi, serta distribusi barang dan jasa akan semakin terbuka. Pada akhirnya, hal tersebut diharapkan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Nagekeo dan Flores.
Sementara dari aspek sosial, Bandara Mbay dapat mempersingkat jarak dan waktu tempuh antardaerah. Mobilitas masyarakat, pelayanan kesehatan, pendidikan, hingga distribusi bantuan kemanusiaan ketika terjadi bencana dapat berlangsung lebih cepat dan efisien.
Dari perspektif geopolitik, Valens menilai Bandara Mbay dapat memperkuat interkonektivitas antardaerah, baik dalam lingkup NTT maupun nasional.
"Indonesia merupakan negara kepulauan. Karena itu, konektivitas udara bukan sekadar urusan transportasi, tetapi juga berkaitan dengan integrasi wilayah dan penguatan kehadiran negara, termasuk di kawasan selatan Indonesia," jelas Valens yang juga staf khusus Wakil KSAD era Letjen TNI Kiki Syahnakri.
Pangkalan Udara Pendukung
Salah satu aspek yang menurut Valens perlu mendapat perhatian lebih serius adalah potensi strategis Bandara Mbay dalam mendukung kepentingan pertahanan nasional.
Dengan pengalamannya bekerja di lingkungan militer, dia menawarkan perspektif bahwa Bandara Mbay dapat dipersiapkan sebagai "supporting homebase" dan "back-up air base" atau pangkalan udara pendukung bagi TNI Angkatan Udara.
Menurutnya, dalam skenario darurat, Bandara Mbay berpotensi difungsikan sebagai pangkalan udara alternatif untuk mendukung Pangkalan Udara El Tari di Kupang, apabila terjadi gangguan operasional akibat bencana, serangan, maupun kondisi darurat lainnya.
"Ini merupakan salah satu 'strong point' yang perlu diangkat dalam pembahasan bersama DPRD Nagekeo maupun dalam komunikasi dan lobi dengan otoritas terkait di Jakarta, termasuk Mabes TNI AD, Mabes TNI dan Kementerian Pertahanan RI," ujar Valens yang juga pengusaha.
Ia menilai, aspek pertahanan seharusnya menjadi salah satu pertimbangan penting dalam perencanaan dan pembangunan Bandara Mbay, sehingga infrastruktur tersebut sejak awal dapat memperhitungkan kemungkinan kebutuhan operasional nasional pada masa mendatang.
Dinamika Geopolitik Kawasan
Valens juga mengingatkan, posisi geografis Indonesia yang bertetangga dengan Australia memiliki dimensi strategis tersendiri.
Menurutnya, Indonesia dan Australia memang merupakan dua negara sahabat dalam hubungan diplomatik, tetapi dinamika geopolitik dan pertahanan kawasan tetap menuntut setiap negara mengantisipasi berbagai kemungkinan di masa depan.
Ia mengingatkan bahwa lingkungan strategis internasional bersifat dinamis, tidak selalu pasti (uncertain) dan sulit diprediksi (unpredictable).
Dalam konteks tersebut, Valens memperkenalkan gagasan yang disebutnya sebagai "Skenario Back-up Kupang".
Gagasan ini menekankan pentingnya menyiapkan Bandara Mbay sebagai alternatif pendukung apabila Pangkalan Udara El Tari Kupang mengalami gangguan atau tidak dapat beroperasi secara optimal.
"Pertahanan nasional harus dibangun dengan perspektif antisipatif. Kita tidak boleh hanya berpikir tentang kebutuhan hari ini, tetapi juga harus memperhitungkan berbagai kemungkinan dan tantangan di masa depan. Karena itu, keberadaan pangkalan udara pendukung di wilayah strategis seperti Mbay patut dipertimbangkan secara serius," tegasnya.
Mbay Berpotensi Menjadi Pusat Strategis Flores
Lebih jauh, Valens berpandangan bahwa pembangunan Bandara Mbay dapat memperkuat posisi Mbay sebagai "strategic and central hub", yakni pusat strategis dan simpul konektivitas kawasan Flores.
Dengan posisi tersebut, Mbay berpotensi menjadi salah satu titik penghubung utama bagi pergerakan orang, barang, dan jasa dari dan menuju berbagai wilayah di Flores, NTT, bahkan daerah lain di Indonesia.
Menurutnya, keberadaan bandara akan memberikan nilai tambah bagi pembangunan kawasan apabila diintegrasikan dengan pengembangan infrastruktur jalan, pusat perdagangan, pariwisata, investasi, serta berbagai sektor ekonomi produktif lainnya.
Oleh karena itu, pembangunan Bandara Mbay perlu ditempatkan dalam kerangka perencanaan pembangunan jangka panjang, bukan sekadar proyek infrastruktur transportasi.
Investasi Strategis
Menutup pandangannya, Valens menegaskan bahwa pembangunan Bandara Mbay perlu mendapatkan perhatian dan dukungan serius dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
Ia menilai, manfaat bandara tersebut melampaui kepentingan administratif Kabupaten Nagekeo karena memiliki keterkaitan dengan masa depan pembangunan Flores dan kepentingan strategis Indonesia.
"Membangun Bandara Mbay bukan sekadar pilihan pembangunan daerah, melainkan kebutuhan strategis yang perlu diperjuangkan. Manfaatnya bukan hanya untuk investasi ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga sebagai perekat sosial, penguat konektivitas wilayah, serta bagian dari dukungan terhadap sistem pertahanan nasional di kawasan selatan Indonesia," pungkas Valens.***
--- Sandy Javia
Komentar