PERTANIAN Yayasan Tananua Flores Dampingi Poktan Kotaboba Kobaleba Kembangkan Pertanian Organik 22 Jun 2026 20:10
"Yayasan Tananua Flores berkomitmen untuk terus membantu dan mendampingi para petani dalam memberdayakan potensi yang ada melalui bahan-bahan organik ramah lingkungan namun membawa manfaat untuk tanaman dan para petani," kata Bojan.
ENDE, IndonesiaSatu.co-- Yayasan Tananua Flores mendampingi kelompok tani (poktan) Kotaboba di Desa Kobaleba, Kecamatam Mau karo, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Disaksikan media ini di lokasi kegiatan, Senin (22/6/2026), dua staf lapangan Tananua Flores, Yulianus Soter Papu Rega, S.AP dan Maksiaius P. A. Sando, tampak mendampingi anggota kelompok saat proses pembuatan pupuk organik dengan bahan-bahan organik seperti batang dan daun pisang, daun gamal, daun lamtoro, kotoran sapi, dedak, daun kirinyu, pupuk organik padat.
Yulianus Soter Papu Rega, menjelaskan bahwa bahan-bahan organik tersebut dicincang dan dicampur, kemudian dicampur dengan cairan promi.
"Cairan promo ini berfungsi untuk proses pelapukan bahan-bahan organik tadi. Proses pelapukan terjadi selama 3 minggu hingga 1 bulan untuk selanjutnya dapat digunakan," jelas Soter.
Maksiaius P. A. Sando menambahkan bahwa manfaat pupuk organik bisa digunakan untuk semua jenis tanaman, baik holtikultura, komoditi, maupun kayu-kayuan.
"Saat musim kemarau, pupuk organik ini bisa membantu kelembapan tanah, memperbaiki unsur hara tanah yang rusak, serta menjaga tekstur tanah untuk jangka panjang," jelas staf yang akrab disapa Bojan itu.
Bojan mengaku, saat ini Yayasan Tananua Flores sedang mendampingi 4 poktan dan 1 kelompok Dasawisma di Desa Kobaleba.
"Yayasan Tananua Flores berkomitmen untuk terus membantu dan mendampingi para petani dalam memberdayakan potensi yang ada melalui bahan-bahan organik ramah lingkungan namun membawa manfaat untuk tanaman dan para petani," kata Bojan.
Pengalaman Berharga
Ketua kelompok tani Kotaboba, Ignasius Satu, mengaku sangat bersyukur mendapat pengetahuan, pengalaman, serta pendampingan dari Yayasan Tananua Flores.
"Kami bersyukur dan berterima kasih atas bimbingan, pendampingnan hingga praktik langsung di lapangan. Bagi kami ini pengetahuan dan pengalaman yang sangat berharga," ungkap Ignasius.
Anggota kelompok tani, Maximus Manek mengaku proses pengolahan pupuk organik masih dilakukan secara manual dan tradisional.
"Kami memulai proses ini secara manual dan tradisional. Semoga ke depan kami mendapat bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa mesin pencacah untuk mendukung proses pembuatan pupuk organik," harap Max.
Adapun jenis tanaman yang sedang dikembangkan yang jenis tanaman komoditi (kakao) dan jenis tanaman holtikultura.
Para anggota kelompok tampak antusias dan berpartisipasi aktif selama proses pembuatan pupuk organik tersebut, termasuk menyiapkan tempat persemaian dan perawatan bibit holtikultura.
--- Guche Montero
Komentar