Breaking News

KOLOM "Wir sind nur Gast auf Erden" 11 Aug 2021 07:53

Article image
Ilustrasi foto. (Foto: GOODMORNINGIMAGESS)
Hidup kita di bumi ini hanya sementara, kita mengisi hidup yang sementara ini dengan hal-hal bernilai.

Oleh Stefanus Wolo Itu

 

PADA tanggal 19 Juli yang lalu seorang ibu meninggal dunia. Nama ibu ini Gertrud. Dia meninggal pada usia 92 tahun. Saya mendapat kabar duka ini tanggal 20 Juli besoknya. Saya sangat sedih ketika mendengar berita ini. Saat itu saya sedang dalam perjalanan dengan kereta dari Wien-Austria menuju Aachen-Jerman.

Saya tahu bahwa Gertrud sakit. Tapi saya tak berpikir bahwa Gertrud akan segera pergi. Gertrud pergi untuk selamanya ketika saya sedang bepergian jauh. Gertrud menuju keabadian saat saya sedang liburan.

Saya tidak bisa memberikan komunio dan minyak suci pada saat-saat terakhir hidupnya. Saya sempat bermenung dan meneteskan air mata. Saya ingat kembali saat-saat indah bersama Gertrud.

Dia selalu hadir misa mingguan dan duduk paling depan. Dia selalu datang latih koor setiap selasa malam. Saya juga sering mengunjungi dia di rumah. Kami minum kopi sambil berceritera. Wanita tua ini juga beberapa kali menghantar saya dengan mobilnya.

Saya sedih bila Gertrud dimakamkan tanpa kehadiran saya. Saya pasti hanya menyaksikan pusara yg ditutup satu karangan bunga. Saya tidak bisa mengungkapan terima untuk Gertrud di saat-saat terakhirnya.

Tapi kesedihan itu berkurang ketika membaca pesan singkat dari sekretaris. Dia menulis: "Stefan, engkau harus merayakan ekaristi pemakaman Gertrud. Ini keinginan dari almarhumah sendiri. Ini juga harapan dari keluarga. Mereka menunggu engkau pulang. Nikmati dulu liburanmu. Upacara pemakaman akan terjadi pada hari Kamis, 5 Agustus 2021 jam 14.00".

Wah perasaan saya lega. Saya bisa menghantar Gertrud ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Saya bisa merayakan ekaristi meriah untuk Gertrud. Saya bisa berkotbah dan memberikan testimoni pribadi tentang Gertrud. Syukur kepada Allah. Perasaan sedih dan kecewa saya terobati.

 

Testimoni

Saya mengenal Gertrud sejak awal kedatangan saya di paroki ini. Selama hampir 7 tahun ini kami selalu bertemu. Gertrud selalu menyapa saya dengan gaya Italia "Stefano". Ada tiga testimoni saya tentang Gertrud ini.

Pertama, Gertrud adalah sahabat semua orang. Dia tak tebang pilih atau pilih kasih. Dia bergaul dengan semua orang. Dia menjumpai mereka tanpa sekat. Kekuatan dia adalah keterbukaan. Dia rajin dalam kebersamaan. Dia menjumpai mereka melalui perkumpulan dan pekerjaan.

Dia merawat relasi dengan mereka. Dan terutama dia menjaga kepercayaan dengan mereka. Dia lakoni itu sampai tua. Gertrud masih aktif menyanyi di koor paroki kami hingga berusia 91 tahun. Semangatnya luar biasa. Karena itu koor paroki kami menyanyi khusus saat misa pemakaman. Juga lambaian dua bendera sebagai ekspresi penghormatan terakhir kepada almarhumah.

Kedua, Gertrud adalah wanita peziarah. Dia mengunjungi Amerika, Kanada, Afrika dan tentu saja negara-negara Eropa. Dia juga mengunjungi tanah suci Israel dan tempat-tempat ziarah seperti Lourdes. Dan setiap tahun selalu ke Italia bersama teman akrabnya Anita.

Pengalaman peziarahannya sangat memperkaya hidupnya. Dia tidak menjadi "orang kaya" secara material. Tapi dia "kaya orang". Dia punya banyak sahabat. Dia kenal banyak orang dari manca negara. Dia selalu berkontak dengan mereka. Dia sangat respek dengan orang asing. Saya sendiri mengalami perlakuan respek itu. Dia katakan terbuka bahwa dalam kekristenan sesungguhnya tidak ada orang asing.

Ketiga, Getrud adalah wanita beriman. Dia percaya akan Allah. Allah yang hidup dan tampak dalam aneka wajah kehidupan. Dia merawat iman lewat doa, pertemuan-pertemuan rohani dan ekaristi. Dia merawat iman lewat lagu-lagu dalam koor paroki. Dia merawat iman melalui aksi-aksi solidaritas kemanusiaan.

Saya terharu saat membaca info kematiannya di portal berita duka. Pada bagian bawah tertulis: "Semua ungkapan solidaritas duka dan kolekte saat misa pemakaman Gertrud diperuntukan bagi anak-anak cacat di keuskupan asal saya, di Flores sana".

Luar biasa. Saat kotbah saya ungkapkan: "Gertrud membawa serta injil Jesus Kristus dalam dompetnya. Dia sendiri adalah kabar gembira Kristus itu untuk orang-orang catat di kampung halaman saya".

Ada begitu banyak orang yang hadir dalam perayaan ekaristi pemakaman itu. Gertrud tidak punya anak cucu. Keluarga dekatnya pun tak seberapa. Tapi dia miliki banyak sahabat. Dia "kaya orang".

Mereka mengantar wanita istimewa. Wanita yang menjadi sahabat semua orang. Mereka mengantar wanita peziarah. Wanita yang berjalan sambil refleksi tentang tujuan hidup. Dia bukan wanita pengembara yang berjalan tanpa arah. Mereka mengantar wanita beriman. Wanita yang percaya akan kehadiran dan penyelenggaraan Tuhan dalam hidupnya.

Setelah perayaan ekaristi kami makan di restoran. Siapa yang membiayai semua biaya urusan kematian hingga makan minum di Restaurant? Almarhumah sendiri membiayai semua urusan kematiannya. Uang dari kantong pribadi yngg sudah dia siapkan selama hidup. Itulah Gertrud dan hampir semua umat yg pernah saya makamkan.

Saya sering guyon: "Orang mati traktir orang hidup". Mereka meninggal tanpa mewariskan utang, konflik dan permusuhan. Hal yang berbeda dengan situasi di kampung halamanku. Selama menjadi tamu di bumi - Sejak lahir hingga meninggal - melahirkan hutang dan mewariskan konflik.

Satu kesempatan saya bertanya pada Gertrud: "Mengapa engkau memiliki banyak sahabat, banyak berziarah dan begitu setia beriman dan merawat iman?" Jawabannya singkat saja: "Wir sind nur Gast auf Erden" atau kita hanyalah tamu di bumi". Artinya hidup kita di bumi ini hanya sementara. Kita mengisi hidup yang sementara ini dengan hal-hal bernilai.

"Wir sind nur Gast auf Erden atau Kita hanyalah tamu di bumi" sebenarnya judul lagu misa pemakaman yang cukup populer di wilayah berbahasa Jerman(Jerman, Austria dan Swiss). Lagu ini ditulis pada tahun 1935 oleh Georg Thurmair, seorang jurnalis, penulis dan penulis film dokumenter dari München Jerman.

"Kita hanyalah tamu di bumi, berjalan tanpa istirahat, dengan berbagai keluhan menuju rumah abadi. Jalannya sepi. Kita sering sendirian di jalan kelabu ini. Tak ada yang mau bersama kita. Hanya satu yang menemani, yaitu Yesus Kristus. Dia setia berjalan di samping, ketika semua melupakan kita".

Terima kasih Gertrud. Engkau telah menjadi tamu yang baik di atas bumi. Tamu yang baik, menemukan jalan pulang dalam kebaikan Tuhan.

 

Penulis adalah misionaris Fidei Donum Keuskupan Agung Ende di Keuskupan Basel Swiss.

Komentar