Breaking News
  • Kemkominfo tunggu Telegram sampai bulan depan
  • KPK ajukan banding terhadap vonis Irman & Sugiharto
  • KPK pantau penanganan kasus korupsi di Malut
  • PKB dan NU siap ke Palestina
  • Presiden akan hadiri Pekan Nasional Perubahan Iklim

INSPIRASI Belajar tentang Kerja dari Gories Mere 05 Jan 2016 02:27

Article image
Komisaris Jenderal Polisi (Purn) Drs Gories Mere. (Foto: Ist)
Dia pernah disamakan media AS dengan polisi terbaik Amerika, Eliot Ness, polisi anti mafioso di Chicago yang disegani karena bisa menggoyang mafia yang merupakan "The Untouchable" di AS.

Oleh Valens Daki-Soo

 

HARI-hari ini, ketika aksi teror dan kekerasan ideologis kembali merajam dunia, sementara elemen-elemen Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS/NIIS) telah hadir di Indonesia, terbayang kembali seorang figur pendiri Satuan Tugas Bom (Satgas Bom) Bareskrim Mabes Polri dan juga perintis Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror Polri, Gories Mere.

Seperti dikisahkan kembali belum lama ini oleh salah seorang perwira Polri, mantan anak buah Gories di Satgas Bom dan Densus 88, Gories tidak sekadar nama, bukan semata polisi. Dia adalah pribadi berkharisma dengan kepemimpinan yang kuat, perwira lapangan yang tangguh dan teruji di medan, tidak sekadar staf yang jago di belakang meja.

Bekerja bersama Gories merupakan pengalaman tak terlupakan, karena membekaskan memori yang kuat dan serentak menjadi salah satu sumur inspirasi dalam berkarya dan mengabdi, yang semoga bermanfaat bagi Anda pula.

Tatkala insiden bom Bali mengoyak kedamaian Pulau Dewata dan menerjang kemanusiaan kita (Bom Bali I tahun 2002, Bom Bali II 2005), menebar efek psiko-sosial yang dahsyat -- vibrasi ketakutan meluas ke mana-mana -- penulis ikut "mengenal" Satgas Bom Polri sejak saat pertama kali dibentuk. Saat Bom Bali I meledak, Densus 88/Antiteror belum terbentuk. Densus baru didirikan Agustus 2004. Pengenalan cukup dekat dengan Satgas tersebut membuat penulis lebih "memahami" lebih jauh tentang dunia keamanan, khususnya terkait penanganan terorisme.

Gories (saat itu berpangkat Komisaris Besar/Kombes) ditunjuk Kapolri menjadi 'komandan lapangan' (Ketua Tim Penyidik) dalam penanganan aksi teror tersebut, di bawah komando Irjen Mangku Pastika sebagai Ketua Tim Investigasi Kasus Bom Bali I.

Sekadar kilas balik singkat, Gories Mere diakui sebagai reserse bereputasi internasional dan disegani -- untuk tidak mengatakan "ditakuti" -- karena keberanian dan prestasinya. Oleh media di Amerika Serikat, dia pernah disamakan dengan polisi terbaik Amerika, Eliot Ness, polisi anti mafioso di Chicago yang disegani karena bisa menggoyang mafia yang merupakan "The Untouchable" di AS.

Gories mendapat berbagai penghargaan sejumlah Kepala Negara/Presiden dan Perdana Menteri. Di rumahnya di kawasan Tebet, bersesakan di lemarinya puluhan plakat penghargaan dari Afrika Selatan sampai Amerika Serikat, dari Inggris hingga Australia dan negara-negara Amerika Latin. Bahkan Malaysia pun memberikannya anugerah "Panglima Jasa Negara" dengan gelar "Dato Sri".

Atas kesuksesannya melacak dan menggulung jaringan teroris di Indonesia, Gories mendapat penghargaan dari Direktur Central Intelligence Agency (CIA) langsung di markas pusat badan intelijen AS itu, Fort Langley.

Ketika ada elemen tertentu yang menuduh Gories anti Islam, dia pernah berujar kepada penulis dan sejumlah rekan, "Saya ini polisi, gak ada urusan dengan politik atau kepentingan tertentu demi kekuasaan. Tugas saya sebagai polisi adalah menegakkan hukum dan menjaga ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Jadi, agama dan suku apapun, kalau bersalah, ya ditindak. Kalau misalnya teroris itu orang Flores dan Katolik, ya, saya tangkap! Lagipula, gak ada kaitannya dengan agama. Keluarga besar saya bercampur Islam dan Katolik. Kalian tahu, saudara-saudara dari ayah saya, kan Muslim."

Prestasi dan Reputasi Internasional

Gories yang ayahnya seorang pria Flores, persisnya berasal dari Usu-Pode, Nangaroro, Nagekeo (pensiunan anggota TNI) dan beribukan seorang perempuan Toraja -- keduanya sudah mangkat -- sempat lama bertugas di Timor Timur (saat masih bergabung dalam NKRI) ketika masih perwira pertama dan menengah, khususnya di bidang intelijen dan keamanan (Intelkam).

Oleh karena prestasinya yang prima di setiap medan penugasan, karir Gories pun menanjak dengan pasti, termasuk sempat menjadi Kasat Serse Umum di Polda Metro, Kapolres Jakarta Timur, Kaditserse Polda Metro Jaya, Wakapolda NTT, Direktur IV/Narkoba Mabes Polri, Kepala Densus 88/AT, Waka Bareskrim Polri, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN).

Secara internasional, Gories satu-satunya polisi Indonesia --bahkan orang Asia pertama -- yang pernah menjadi Kepala Asosiasi Lembaga-lembaga Anti Narkotika se-Dunia. Posisinya itu membuat dia sangat sering melanglang buana ke berbagai negara. Dia ke Kolombia, sarang berbagai gangster narkotika. Dia pun bergerak ke China, Jepang, Kanada, dan Amerika Latin. Dia ke Eropa, Israel dan Afrika.

Gories bukan pribadi yang ingin sukses sendirian. Dia pun pengkader sejati. Banyak perwira muda dibentuk dan tumbuh bersamanya di lapangan, dalam berbagai operasi, dari anti penyelundupan kayu, anti selundup BBM, anti perdagangan orang (human trafficking) hingga anti teror. Beberapa di antara mereka, antara lain, Irjen Pol Drs Nikolaus Eko (Sekretaris BNN), Irjen Pol Dr Tito Karnavian (eks Ka.Densus, kini Kapolda Metro Jaya), Irjen Pol Dr Petrus Golose (Deputi Kerjasama Internasional Badan Nasional Penanggulangan Teror/BNPT), Irjen Pol Dr Rycko Danial (mantan ajudan Presiden SBY, kini Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian), Kombes Pol Martinus Hukom, SIK (Waka Densus).

Sebagaimana adagium di dunia kepemimpinan (khususnya kepemimpinan militer dan polisi), "Follow me!" dan "Leadership by example, not by edict" (kepemimpinan dengan memberi teladan), gaya dan ethos kerja para perwira kadernya boleh dibilang sama dan sebangun dengan Gories. Jenderal bintang tiga itu mengajarkan mereka tidak dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan nyata: kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja tuntas.

Pada masa awal menjadi staf khususnya, mulanya saya sempat kesulitan mengikuti pola dan irama kerja mereka yang tak kenal waktu -- begitu ditelepon, harus segera merapat, entah kita sedang makan atau mungkin sedang sakit gigi. Siang bekerja rutin di kantor, malamnya semua koordinasi dan "ngumpul" di Posko Satgas yang 'mobile', terus berpindah. Tentu itu bukan asal ngumpul, tapi "kerja keras", karena sampai dinihari baru pulang -- ini jadi "habitus" Satgas Bom Polri. Sebagian perwira muda malah tidur di Posko.

Jadi kalau Anda bersikap negatif terhadap aparat Polri, saya jamin itu tidak berlaku untuk satuan antiteror yang selain technically qualified juga punya ethos kerja super.

Suatu ketika saya bertanya kepada Jenderal Gories, mungkin campuran antara nada ngeluh dan 'sok tahu', "Apakah kita tidak bisa kerja 'normal', cukup di waktu siang saja? Sekarang, kan era kerja cerdas, tak perlu banyak buang energi dengan kerja keras, yang penting efektif." Pak Gories menjawab pendek, "Lens, kita harus mengikuti dinamika di lapangan. Dalam kasus seperti ini, gak cukup kerja cerdas, harus kerja keras, malah super keras. Lebih dari itu, harus kerja ikhlas sampai tuntas."

Sekarang, pada era pensiunnya, purnawirawan jenderal bintang tiga yang memperistri Nina Campos, putri Timor Leste berdarah India, ayah dari dua anak dan sudah bercucu itu, melewatkan waktu untuk urusan sosial, kemanusiaan dan lingkungan hidup melalui sebuah yayasan yang bergerak di bidang itu.

Satu hal yang melekat pada kepribadian Gories Mere, terutama saat aktif di Polri: dia tidak suka atau menghindari publikasi. Berbeda dengan banyak pejabat yang gemar diwawancarai jurnalis, Gories justru cenderung low profile dan 'bersembunyi' dari media -- salah satu ciri intelijen sejati. Agaknya benar kata seorang pakar terorisme, "Musuh 'terbesar' bagi satuan anti teror adalah wartawan." Artinya, media massa berpotensi mengacaukan rencana operasi di lapangan.

Tentang kerja keras dan perjuangan hidup, saya selalu ingat pesan Pak Gories, "Hidup memang tidak selalu mudah. Tapi kalian bisa menjadi petarung untuk menjadi pemenang."

Memang, berbagai masalah kerap menguji bahkan kadang 'menghajar' kita. Tak apa-apa. Dengan jiwa lapang kita menerima dengan rela, tapi serentak bekerja keras dan bekerja cerdas untuk merontokkan masalah apapun.

Semangat baja, ethos kerja keras-cerdas-ikhlas-tuntas, kejujuran, loyalitas, cara pikir positif dan keyakinan pada Tuhan adalah sebagian 'senjata' utama untuk menang di setiap mandala perjuangan hidup.

 

Penulis adalah Pendiri dan Pemred IndonesiaSatu.co, entrepreneur, pemerhati politik dan Hankam. Pernah menjadi Spri Dubes Keliling RI Urusan Timtim, Staf Khusus Wakil KSAD Letjen TNI Kiki Syahnakri dan Staf Sus Komjen (Pol) Gories Mere.