Breaking News

KOLOM Konser Farbtöne Zauberharfengruppe Eiken: Merenungkan Warna Warni Keindahan Ciptaan Tuhan 31 Aug 2021 06:03

Article image
Delapan wanita tampil dalam konser di gereja Eiken, Minggu, 29 Agustus 2021. (Foto: ist)
Lagu-lagu ini mengajak penonton untuk merefleksikan diri, refleksi agar cinta kita pada Sang Pencipta dan ciptaan lainnya semakin membara.

Oleh Stefanus Wolo Itu

 

Minggu, 29 Agustus 2021 jam 18.00 ada konser di gereja Eiken. Delapan wanita tampil dalam konser ini. Pemimpinnya adalah Simone, dirigen dan organis paroki kami. Anggotanya adalah Anita, sekretaris paroki kami. Ada juga anggota koor paroki seperti Helen, Benedikta, Pia dan Ingrid. Yang terakhir adalah dua bersaudara Theres dan Paula. Theres adalah salah satu penari budaya Eiken. Paula adalah penanggung jawab kebersihan kantor dan gedung paroki.

Mereka semua orang dekat saya. Kami dekat karena rekan kerja, rumah bertetangga dan aktivitas dalam paroki. Kami bertemu hampir tiap minggu, bahkan tiap hari. Saya juga sering makan dan minum di rumah mereka. Mereka sangat mengasihi saya. Mereka menyapa saya Stefan. Sapaan kasih pada gembala, sekaligus anak dan saudara mereka.

Situasi pandemie membatasi kami untuk menyanyi di gereja dan tempat umum lainnya. Alat-alat musik tiup juga tak boleh digunakan selama masa lockdown. Ini tantangan bagi penyanyi profesional dan pencinta musik tiup. Rekan misionaris Swiss, P. Albert Nampara, juga termasuk dalam deretan pencinta musik tiup yang galau itu. Syukur situasi itu telah berlalu.

Sebagai pemimpin koor paroki, Simone menyadari situasi ini. Dia menumbuhkan kreativitas dan daya ciptanya. Dia mengajak ibu-ibu bergabung dan membentuk grup Harpa. Nama grupnya Harfengruppe atau grup musik harpa.

 

Pertama di Mesir

Saya pribadi sesungguhnya merasa asing dengan alat musik yang satu ini. Harpa ternyata merupakan salah satu jenis musik petik tertua di dunia. Harpa muncul pertama di wilayah Mesir kuno sekitar tahun 2500 sebelum Masehi. Ada fakta pendukung berupa penemuan gambar orang Mesir kuno yang sedang memegang harpa di dinding makam, di dekat sungai Nil.

Tahun 800 sesudah Masehi harpa muncul di Irlandia dan akhir abad ke 16 muncul harpa rangkap tiga di Italia. Selanjutnya muncul lagi harpa diatonik pada jaman Renaisans. Dan terakhir muncul harpa elektrik dengan pedal ganda.

Dalam perjalanan waktu harpa mengalami proses modifikasi. Secara khusus modifikasi bentuk, ukuran dan berat. Meskipun dimodifikasi, harpa tetap memiliki kesamaan yaitu papan suara, leher dan tali senar. Ukurannya mulai dari 30 hingga 180 cm. Jumlah tali senar juga bervariasi. Mulai dari 22 hingga 47 senar. Saat bermain, harpa besar biasanya diletakkan di lantai. Sedangkan harpa kecil bisa dipangku, diletakkan di atas meja atau standar.

Harpa sering dipercayai sebagai alat musik para malekat. Bunyi petikan harpa sangat indah. Seindah paduan suara para malekat. Saya sendiri belum pernah mendengar paduan suara para malekat. Tapi yang pasti suara para malekat tak tertandingi.

Selama hampir 8 tahun di Eropa, saya sering mengunjungi gedung-gedung antik. Saya juga mengunjungi gereja-gereja tua dengan corak arsitektur klasik. Ada banyak gambar menarik di sana. Salah satu yg menarik adalah lukisan malekat yang memegang harpa. Malekat adalah pemain harpa surgawi.

Grup Harpa Eiken menggunakan harpa yang kelihatannya sederhana. Ukurannya terbilang kecil: sekitar 30 x 45 centi meter. Harpa ini terdiri dari 25 tali senar. Bahasa Swiss-Jerman menyebutnya Zauberharfen. Zauber dalam bahasa Jerman berarti sihir, sulap, ajaib. Zauber juga bisa berarti pesona atau daya tarik. Saya menterjemahkan Zauberharfengruppe ini dengan "Grup Harpa Ajaib".

 

Ajaib

Mengapa Grup Harpa Ajaib? Pertama, harpa ini bisa dimainkan oleh siapa saja. Orang yang tak bisa membaca Not dan tidak memiliki bakat musik bisa memainkan harpa ini. Kita hanya membutuhkan latihan yang tekun. Harpa ini bisa dimainkan orang-orang jompo dan kaum cacat. Orang yang hanya memiliki dua atau satu jari tanganpun bisa memainkan harpa ini. Keajaiban tercipta ketika orang yang tak bisa membaca not dan tak berjiwa musik bisa bermusik melalui harpa. Dari harpa ajaib itu lahir musik yang indah dan lagu yang mempesona.

Kedua, harpa adalah alat musik petik seperti gitar. Bedanya, saat bermain gitar kita harus menekan tali-tali gitar sesuai dengan kunci tertentu misalnya A, C atau G. Saat memainkan harpa, kita hanya memetik senar-senar itu. Tapi kita mesti meletakkan teks-teks lagu khusus di bawah senar-senar harpa. Tanpa teks khusus itu, kita tidak bisa memainkan lagu-lagu.

Kita memerhatikan foto-foto. Misalnya saat memainkan lagu Amazing Grace, kita mesti meletakkan teks itu di bawah senar-senar dan memetik sesuai petunjuk dalam teks. Begitu pun ketika kita memainkan lagu lain. Musik dan nada akan mengikuti persis teks itu. Bagi saya ini juga keajaiban sebuah harpa.

Ketiga, saya mengenal anggota grup ini. Mereka tidak mempunyai talenta musik yang hebat. Tapi mereka miliki niat dan kesetiaan untuk mengembangkan diri. Bersama Simone mereka mengadakan latihan teratur satu jam setiap selasa malam. Saya mengapresiasi mereka. Tampilan mereka saat konser memukau kami semua. Tepukan tangan menggelegar, mengapresiasi tampilan mereka. Mereka adalah "para malekat" dari Eiken.

Mereka memainkan harpa ini tanpa iringan suara para penyanyi. Diana John, sekretaris paroki Stein dan katekis yang didaulat sebagai master of ceremony membacakan narasi dan makna setiap lagu. Lagu-lagu ini mengisahkan keindahan ciptaan Tuhan. Ciptaan Tuhan itu bervariasi dan memberi warna tersendiri dalam kehidupan.

Karena itu konser ini mengusung judul: "Konser Farbtöne Zauberharfengruppe Eiken". Farbtöne artinya corak atau nuansa warna. Artinya lagu-lagu dalam konser ini mengajak penonton dan pendengar untuk merenungkan warna warni keindahan ciptaan Tuhan. Ciptaan Tuhan yang berwarna warni mesti diabadikan bagi kehidupan.

 

Cinta pada Pencipta

Mereka memainkan 12 lagu. Lagu pembukaan dan penutup adalah Andantino karya F. Soor tahun 1778-1839. Lagu kedua Amazing Grace melukiskan kekaguman manusia akan kebesaran kasih Allah. Lagu ketiga hingga kesembilan adalah lagu-lagu dari Farbtöne karya Liselotte Blinn. Berturut-turut Moosgrün, Veilchenviollet, Kupferrot, Zitronenfaltergelb, Königblau, Wintergrau dan Goldgelb.

Lagu-lagu ini mengajak penonton untuk merefleksikan diri. Refleksi agar cinta kita pada Sang Pencipta dan ciptaan lainnya semakin membara. Lagu-lagu ini mengajak kita hidup bijaksana. Hidup bijaksana itu ditandai dengan kerendahan hati dan kesediaan untuk membaharui diri. Kita tak pernah boleh terlena dalam kegelimangan harta duniawi. Kita mesti menghindari pemborosan yang tidak perlu. Kita harus ingat bahwa situasi covid ini membawa orang pada kesepian, isolasi, kesusahan, stress dan kematian.

Kita perlu memohon bantuan kekuatan Illahi. Cinta Tuhan itu ajaib seperti pengalaman Pater Carl Boberg dari Swedia. Boberg memuji keajaiban Tuhan dalam lagu "Wie Groß Bist Du". Lagu ini sudah dan selalu didendangkan jutaan umat kristiani sedunia dengan bahasa yang berbeda. Di Indonesia lagu ini diterjemahkan dengan "Ajaib Tuhan".

Elvis A. Presley, sang Raja Rock and Roll pernah menyanyikan lagu ini. Elvis memuji Tuhan yang telah menciptakan dunia dengan kekuatan sabda. Tuhan menciptakan semua mahluk hidup dan terus merawatnya.

Terima kasih "Grup Harpa Ajaib" Eiken. Proficiat dan apresiasi istimewa untuk Simone, Anita, Ingrid, Paula, Helen, Benedikta, Pia dan Theres. Kamu semua adalah "Malekat-Malekat Dari Eiken". Kami sungguh menikmati suaramu. Suara yang mendendangkan indahnya warna warni kehidupan. Agar tetap indah dan berkanjang, hidup itu mesti tertenun dalam mosaik Iman, Harapan dan Kasih.

 

Penulis adalah misionaris Fidei Donum Keuskupan Agung Ende di Keuskupan Basel Swiss.

Komentar